Headline

Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.  

Sains Iklim: Kunci Mitigasi Bencana Hidrometeorologi di Sumatra

Basuki Eka Purnama
04/1/2026 09:03
Sains Iklim: Kunci Mitigasi Bencana Hidrometeorologi di Sumatra
Ilustrasi--Foto udara kayu gelondongan yang terbawa arus banjir mengepung rumah warga di Desa Geudumbak, Kecamatan Langkahan, Aceh Utara, Aceh, Jumat (5/12/2025).(ANTARA/Syifa Yulinnas)

TRAGEDI banjir dan tanah longsor yang menerjang Sumatra pada November 2025 menjadi pengingat keras akan pentingnya integrasi sains iklim dalam penanggulangan bencana

Fenomena cuaca ekstrem yang mengakibatkan jatuhnya korban jiwa tersebut menegaskan bahwa analisis data atmosfer bukan sekadar teori akademik, melainkan alat vital untuk menyelamatkan nyawa.

Pakar Agrometeorologi IPB University, Dr. I Putu Santikayasa, menekankan bahwa informasi iklim memiliki peran strategis dalam memperkuat ketahanan masyarakat. 

"Kejadian ini menunjukkan bahwa informasi dan analisis iklim memiliki peran strategis dalam mengurangi risiko, meningkatkan kesiapsiagaan, serta memperkuat ketahanan masyarakat menghadapi bencana," papar Putu, dikutip Minggu (4/1).

MI/HO--Pakar Agrometeorologi IPB University, Dr. I Putu Santikayasa

Anomali Cuaca dan Curah Hujan Ekstrem

Dalam analisisnya, Putu menyoroti bahwa kondisi iklim saat bencana terjadi memang tidak dalam keadaan normal. Meskipun fenomena global seperti Indian Ocean Dipole (IOD) dan El Niño–Southern Oscillation (ENSO) terpantau pada fase lemah, terdapat faktor lokal yang menjadi pemicu utama kerusakan.

Kehadiran bibit siklon tropis di Selat Malaka memicu hujan dengan intensitas luar biasa. Berdasarkan data BMKG, curah hujan di Sumatra bagian utara melonjak drastis. 

Puncaknya, pada 26 November, curah hujan harian mencatatkan angka 438 milimeter. Sebagai perbandingan, volume air tersebut setara dengan curah hujan normal selama satu bulan yang tumpah hanya dalam waktu satu hari.

Urgensi Peringatan Dini dan Respon Cepat

Putu juga menyinggung sisi kemanusiaan dari bencana ini, saat lebih dari 50 orang sempat terjebak di tengah hutan akibat akses yang terputus total. 

Menariknya, ia mengungkapkan bahwa sinyal bencana sebenarnya sudah muncul di tengah masyarakat hulu, namun belum terkelola secara sistematis dalam manajemen krisis.

Ia mengutip kesaksian seorang warga: "Hati-hatilah kalian sudah longsor ini dari atas. Tanah longsoran sudah tertahan kayu-kayu." 

Menurutnya, informasi dari mulut ke mulut ini menunjukkan adanya jeda waktu antara potensi bahaya dan eksekusi evakuasi.

Sains Iklim dalam Seluruh Siklus Bencana

Menurut Putu, sains iklim harus hadir dalam tiga fase krusial:

  1. Prabencana: Menggunakan data historis untuk memetakan zona merah atau rawan bencana.
  2. Saat Bencana: Mengandalkan impact-based forecasting agar pemerintah dan relawan dapat menentukan respons darurat secara presisi dan efisien.
  3. Pascabencana: Menggunakan proyeksi jangka panjang untuk memastikan pembangunan kembali (rekonstruksi) wilayah dilakukan dengan prinsip adaptasi iklim.

Sebagai penutup, ia menegaskan bahwa teknologi dan infrastruktur harus berjalan beriringan. 

"Sistem peringatan memberi kita waktu untuk bersiap, dan infrastruktur adaptif memberi kita kapasitas untuk bertahan," pungkasnya. (Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya