Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Alarm Keras dari Sumatra: Mengapa Bencana Hidrometeorologi Kian Mengancam?

Basuki Eka Purnama
31/12/2025 19:04
Alarm Keras dari Sumatra: Mengapa Bencana Hidrometeorologi Kian Mengancam?
Banjir di Sumatra Barat(MI/Yose Hendra)

RENTETAN bencana hidrometeorologi yang melanda Aceh, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara belakangan ini bukan sekadar fenomena alam biasa. Kepala Pusat Pengembangan Ilmu Lingkungan (PPLH) IPB University, Dr. Yudi Setiawan, menegaskan bahwa kejadian ini merupakan peringatan serius mengenai meningkatnya risiko bencana di seluruh Pulau Sumatra.

Dalam sebuah diskusi bertema "Bersama Menjaga Sumatra", Yudi menyoroti bahwa ada pergeseran pola alam yang harus disikapi dengan ilmu pengetahuan. 

Ia mencatat munculnya faktor alam ekstrem, seperti siklon tropis yang untuk pertama kalinya melintasi wilayah Sumatra. Namun, dampak bencana tersebut diperparah oleh intervensi manusia terhadap bentang alam.

"Bencana ini menjadi pembelajaran bagi kita semua bahwa manusia adalah bagian kecil dari sistem alam. Kita perlu bersikap arif dan berbasis ilmu pengetahuan dalam menyikapi kejadian bencana," ujar Yudi.

MI/HO--Kepala Pusat Pengembangan Ilmu Lingkungan (PPLH) IPB University, Dr. Yudi Setiawan

Dinamika Tutupan Lahan sebagai Kunci

Berdasarkan pendekatan hidrologi, tutupan lahan adalah variabel yang paling krusial karena merupakan faktor yang dapat dikendalikan manusia, berbeda dengan curah hujan atau karakteristik tanah. 

Yudi menjelaskan bahwa hilangnya hutan secara langsung meningkatkan limpasan permukaan yang memicu banjir.

"Dalam berbagai model hidrologi, tutupan lahan selalu menjadi variabel kunci. Hilangnya hutan atau perubahan vegetasi terbukti meningkatkan limpasan permukaan dan risiko banjir," jelasnya.

Tim peneliti IPB University menemukan tren perubahan lahan yang signifikan di tiga provinsi tersebut sepanjang periode 2003–2024. 

Di Aceh, kawasan hutan banyak beralih fungsi menjadi perkebunan dan pertanian lahan kering. Sementara di Sumatra Utara dan Sumatra Barat, hutan lahan kering primer dan sekunder telah berubah menjadi hutan tanaman, semak belukar, hingga lahan terbuka.

Yudi mengingatkan bahwa perubahan ini tidak selalu linear. Vegetasi bisa hilang, terbuka, lalu tumbuh kembali, namun pola dinamis inilah yang harus diwaspadai jika bertepatan dengan cuaca ekstrem.

Teknologi Deteksi dan Solusi ke Depan

Sebagai langkah mitigasi, IPB University bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) telah mengembangkan sistem deteksi cepat berbasis citra satelit. 

Teknologi ini mampu memantau perubahan tutupan vegetasi hingga skala delapan harian, sehingga kehilangan hutan dapat dideteksi lebih dini.

Sebagai penutup, Yudi merekomendasikan langkah konkret yang harus segera diambil pemerintah dan pemangku kepentingan, antara lain:

  1. Rehabilitasi hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) dan kawasan riparian.
  2. Pengetatan aturan pembukaan hutan di zona rawan bencana.
  3. Audit dan penataan ulang perkebunan sawit.
  4. Penguatan sistem peringatan dini yang terintegrasi.

"Ke depan, perencanaan tata ruang harus adaptif terhadap perubahan iklim dan berbasis risiko bencana agar kejadian serupa tidak terus berulang," pungkasnya. (Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik