Headline
Semua hasil kejahatan yang rugikan negara harus dirampas.
Semua hasil kejahatan yang rugikan negara harus dirampas.
Kumpulan Berita DPR RI
BELUM hilang dalam ingatan kita semua, sejumlah wilayah di Sumatra mengalami bencana hidrometeorologi yang sangat parah. Di Sumatra Barat, banjir lahar dingin dan longsor merenggut ribuan nyawa serta menghancurkan permukiman. Di Sumatra Utara, banjir berulang menjadi ancaman tahunan. Di Aceh, banjir bandang dan lumpur tebal terus membayangi setiap curah hujan yang besar datang. Bencana-bencana itu tidak berdiri sendiri sebagai takdir alam semata, tetapi merupakan hasil interaksi kompleks antara faktor alam dan ulah manusia.
Tidak bisa dimungkiri, bencana di Indonesia didominasi faktor hidrometeorologi, banjir, longsor, dan cuaca ekstrem yang kian diperparah perubahan tata guna lahan dan krisis iklim. Ketika hutan-hutan di hulu ditebang, daya serap tanah menurun. Ketika rawa dan mangrove dikonversi menjadi kawasan industri atau permukiman, benteng alami terhadap banjir menghilang. Alam kehilangan keseimbangannya dan manusia menuai akibatnya. Kesadaran itu tidak bisa berdiri sendiri, tapi harus dibangun secara kolektif.
Hadirnya Ramadan selalu membawa pesan pemurnian atau kembalinya ke fitrah kemanusiaan seorang hamba untuk menahan diri, memperdalam empati, dan memperbaiki relasi, bukan hanya dengan Tuhan dan sesama manusia, melainkan juga dengan alam. Di tengah suasana ibadah yang mulai khusyuk, bangsa ini kembali diingatkan serangkaian bencana yang melanda Pulau Sumatra. Ramadan menjadi momentum untuk mengingatkan akan pentingnya pemahaman ekologis di kalangan umat.
Ramadan sesungguhnya mengajarkan prinsip keseimbangan (mizan). Puasa bukan hanya menahan lapar, melainkan juga latihan menata hasrat dan membatasi diri. Dalam perspektif ekologis, pesan itu terasa sangat relevan. Kerusakan lingkungan pada dasarnya berakar pada ketidakmampuan manusia menahan dorongan eksploitasi: menebang lebih banyak, menggali lebih dalam, membakar lebih luas. Ketika konsumsi dan produksi melampaui daya dukung alam, bencana menjadi konsekuensi logis.
Dalam Al-Qur'an sendiri terdapat satu surah, yaitu Surah Ar-Rum ayat 41, yang secara eksplisit menggambarkan kerusakan lingkungan di darat dan laut akibat perbuatan tangan manusia. Ayat itu menekankan bahwa kerusakan fisik dan nonfisik seperti pencemaran, bencana alam, dan krisis merupakan dampak perilaku eksploitatif manusia. Ayat itu memberikan satu kesadaran ekologis yang kuat bagi semua manusia untuk melakukan introspeksi dan kembali menjaga kelestarian alam.
Hikmah dari setiap bencana ekologis ialah sebagai pengingat bahwa relasi manusia dengan alam tidak pernah netral. Ia selalu bersifat timbal balik. Jika manusia merawat hutan, hutan menjaga manusia melalui siklus air yang sehat dan tanah yang stabil. Sebaliknya, ketika hutan dirusak, air kehilangan jalur alaminya dan berubah menjadi ancaman. Dalam konteks itulah, Ramadan dapat dimaknai sebagai momentum untuk memperbaiki relasi tersebut.
Empati yang tumbuh selama Ramadan seharusnya tidak berhenti pada kepedulian terhadap fakir miskin, tetapi juga meluas pada korban bencana ekologis. Ketika kita berbuka dengan hidangan melimpah, ada keluarga di wilayah Sumatra yang masih kehilangan rumah dan sawah. Ketika kita bersyukur atas air bersih untuk berwudu, ada warga yang harus bertahan di pengungsian akibat banjir. Solidaritas sosial yang menjadi ruh Ramadan perlu diterjemahkan dalam solidaritas ekologis yang mendorong aksi nyata untuk memulihkan lingkungan.
RAMADAN MEMBANGUN KESADARAN EKOLOGIS
Ramadan menjadi momentum yang sangat tepat untuk melakukan perubahan cara pandang terhadap kesadaran ekologis. Bencana tidak bisa terus dipahami semata-mata sebagai ujian spiritual individual, tetapi juga sebagai sinyal kolektif tentang rapuhnya sistem ekologis. Kesadaran itu penting agar respons kita tidak berhenti pada bantuan darurat, tetapi bergerak menuju pencegahan jangka panjang. Rehabilitasi hutan, pengelolaan daerah aliran sungai, serta penegakan hukum terhadap pembalakan liar dan pembakaran lahan.
Peran pemerintah sangat krusial dalam membuat aturan main dan kebijakan yang tepat dalam menjaga lingkungan. Kebijakan tata ruang harus berpihak pada keberlanjutan, bukan sekadar mengejar pertumbuhan ekonomi tinggi jangka pendek. Begitu pula, rencana investasi diarahkan untuk membangun infrastruktur hijau seperti restorasi mangrove dan penghijauan kawasan hulu. Hal itu jauh lebih murah dalam jangka panjang jika dibandingkan dengan biaya penanganan bencana yang berulang.
Namun, tanggung jawab tidak hanya berada di pundak negara. Masyarakat sipil, komunitas adat, dan organisasi kemasyarakatan serta keagamaan memiliki peran penting dan strategis. Di banyak wilayah di Indonesia, kearifan lokal sebenarnya telah lama mengajarkan harmoni dengan alam melalui sistem hutan larangan, pengelolaan air tradisional, dan pembagian ruang yang arif. Jangan sampai jebakan modernisasi pembangunan membuat abai pada nilai-nilai dan kearifan lokal yang sudah menyatu dengan alam.
Hari-hari dalam Ramadan menjadi sarana yang efektif untuk membangun kesadaran ekologis. Masjid-masjid selama Ramadan dapat menjadi pusat literasi ekologis. Khotbah dan ceramah tidak hanya berbicara seputar keutamaan puasa, tetapi juga tentang tanggung jawab menjaga bumi. Program sedekah dapat diarahkan ke dukungan rehabilitasi lingkungan atau bantuan bagi korban bencana. Bahkan praktik sederhana seperti mengurangi sampah plastik saat buka puasa bersama dapat menjadi simbol perubahan budaya konsumsi.
Ramadan juga menjadi contoh untuk membangun kesederhanaan dan empati sosial yang tinggi kepada sesama. Dalam konteks krisis ekologis, kesederhanaan dan empati ialah sikap revolusioner. Mengurangi pemborosan energi, membatasi konsumsi yang tidak perlu, dan memilih produk ramah lingkungan ialah wujud konkret ibadah yang berdampak luas. Jika jutaan umat Islam di Indonesia mempraktikkan gaya hidup lebih berkelanjutan selama Ramadan, dampaknya terhadap jejak karbon sangat signifikan.
PENUTUP
Ramadan dapat menjadi titik refleksi mendalam di tengah isu dan ancaman perubahan iklim global yang sangat masif. Bagaimana menjadikan setiap individu memainkan peran dan menjalankan tugas mulia mereka sebagai penjaga bumi. Sejatinya, setiap ibadah yang dilakukan selama Ramadan sudah seharusnya melahirkan transformasi nubuwah dari pola pikir eksploitatif menjadi pola pikir amanah terhadap lingkungan. Sebagaimana hadis Nabi, "Barangsiapa memotong pohon sidrah (tanpa alasan yang benar) maka Allah akan menundukkan kepalanya ke dalam neraka." (HR Abu Dawud)
Pada akhirnya, Ramadan sebagai kawah candradimuka akan melahirkan seorang individu yang memiliki kesalehan secara ekologis. Hikmah terbesar dari pertemuan antara Ramadan dan bencana ialah kesadaran bahwa spiritualitas dan ekologis tidak terpisah. Menjaga hutan, sungai, dan tanah ialah bagian dari menjaga kehidupan itu sendiri. Menjaga kehidupan ialah inti ajaran moral agama mana pun. Jika Ramadhan mampu menumbuhkan kesadaran itu, ia bukan hanya sebagai bulan ibadah, melainkan juga bulan pembaruan bagi manusia dan bumi yang kita pijak bersama.
Memasuki bulan suci Ramadan, banyak individu menjadikan momentum ini sebagai titik balik untuk memulai perubahan positif.
Menara Peninsula Hotel menghadirkan sajian berbuka puasa yang berbeda dari lainnya selama bulan suci Ramadan.
Anggota ALL Accor berkesempatan memperoleh tiga kali lipat poin reward setiap kali menikmati pengalaman bersantap di restoran 130 hotel Accor di seluruh Indonesia.
Berbuka dengan gorengan menyebabkan asupan lemak menjadi berlebih. Dampaknya tidak main-main karena organ tubuh dipaksa bekerja ekstra keras secara tiba-tiba.
Strategi memperbanyak karbohidrat sederhana saat sahur bukanlah cara yang tepat karena justru memicu rasa lapar lebih cepat.
Menag Nasaruddin Umar menyampaikan bahwa jaringan keagamaan nasional yang dimiliki Kementerian Agama menjadi modal utama dalam membangun kesadaran ekologis masyarakat.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved