Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
HIPNOTERAPI saat ini banyak digunakan oleh para pelaku medis untuk mengatasi beberapa kasus tertentu seperti insomnia, depresi, dan lain sebagainya.
Namun, masih banyak yang salah kaprah mengenai kegunaan hipnoterapi yang dikaitkan dengan praktik gendam atau hipnotis yang digunakan untuk kejahatan.
Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa RSUD Dr. Moewardi, dr. Rohmaningtyas menjelaskan bahwa hipnoterapi dalam kaitannya dengan medis adalag pemberian sugesti atau pikiran-pikiran yang ditanamkan pada pasien untuk menghasilkan tujuan yang ingin dicapai sesuai dengan apa yang dinginkan pasien tersebut.
Baca juga : Benarkah Hipnosis Bisa Buat Seseorang Bocorkan Rahasia?
“Misalnya tentang kecemasan ketakutan nyeri dan sebagainya. Hipnoterapi ini tujuannya adalah membuat pasien dalam kondisi rileks supaya ketakutan berkurang atau hilang, lebih rileks misalnya ingin tidur atau membantu insomnia dan lainnya,” ungkapnya dalam diskusi daring RS Dr. Moewardi bertajuk Apakah Hipnoterapi Sama dengan Gendam?, Selasa (30/4).
Lebih lanjut, dia menambahkan bahwa hipnoterapi ini tidak khusus dipelajari oleh psikiater, tapi juga dokter umum dan profesi lainnya. Hal terpenting adalah orang tersebut harus terlatih dan tersertifikat.
Menurutnya penggunaan hipnoterapi paling banyak saat ini digunakan untuk mengatasi rasa nyeri, bahkan saat ini hiptoterapi dapat dilakukan untuk proses khitanan, cabut gigi, dan melahirkan.
Baca juga : Strategi Tidur di Cuaca Panas dan Kualitas Tidur
“Jadi daripada menggunakan obat bius, tingkat nyeri itu bisa hilang dengan hipnoterapi. Tapi tentu saja tidak dapat dilakukan untuk tindakan operasi yang membutuhkan anastesi. Tentu saja tidak bisa. Ini hanya untuk beberapa kondisi nyeri yang ringan sedang,” ucap Rohmaningtyas.
Hipnoterapi merupakan kondisi untuk membuat pasoen rileks dengan menembus filter dari alam sadar atau alam bawah sadar.
Kendati demikian, hipnotetapi memiliki prosedur yang sama dengan tindakan medis lainnya yaitu memerlukan persetujuan dari pasien.
Baca juga : Menghitung Domba untuk Tidur: Mitos atau Fakta?
Sementara itu, gendam tidak melakukan persetujuan dengan seseorang dan langsung pada tujuan yang biasanya untuk melakukan kejahatan. Teknik gendam hanya memanfaatkan hipnosis untuk kepentingan kejahatan.
“Secara umum hipnosis ini ada tahap ngobrol dengan pasien dan mengetahui latar belakang, apa yang disukai dan tidak disukai, dan ini merupakan modal dasar bagi hipnoterapis untuk melakukan induksi. Nantinya jadi kalau fase ini gagal, biasanya untuk tahap selanjutnya juga kurang berhasil. Jadi kalau kita lihat pada gendam biasanya dia sudah terlatih untuk memilih siapa saja orang yang dapat terinduksi,” tuturnya.
“Kemudian ada fase relaksasi dan juga masuk ke fase sugesti untuk menanamkan pikiran yang sesuai apa yang ingin dicapai bagi terapi dan kalau gendam itu memanfaatkan kepentingan sendiri,” sambung Rohmaningtyas.
Hal yang paling membedakan praktik hipnoterapi dan gendam adalah fase terminasi. Biasanya gendam tidak melewati tahap ini dan meninggalkan orang yang dihipnosis begitu saja. Hal inilah yang biasanya membuat korban gendam mengalami pusing atau linglung.
“Kalau kita kan tidak buru buru melakukan penghentian. Ada fase terminasi di mana persiapan pasien dari setengah sadar menuju bangun supaya tidak kaget,” pungkasnya. (Des)
Seorang pria lansia berinisial OC, 77 tahun, warga Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, diamankan oleh anggota Kepolisian setelah diduga melakukan tindakan pencabulan terhadap sesama lansia.
SEORANG perempuan berinisial FNL, 56, menjadi korban hipnotis. Dalam peristiwa itu, emas senilai ratusan juta rupiah miliknya raib.
KASUS penipuan bermodus hipnotis kembali marak di Kota Depok, Jawa Barat (Jabar). Terbaru menimpa Ratna Purba warga Kampung Babakan RT 006 RW 04, Kelurahan Curug, Kecamatan Cimanggis.
Cak Imin mengatakan ada yang berusaha menghipnotis agar Pemilu berjalan 1 putaran.
ENDANG Yunita Suryani, 41, jemaah haji asal Lampung Utara yang sempat hilang selama tiga hari di Arab Saudi ternyata menjadi korban hipnotis.
Sebuah penelitian besar di Perancis menunjukkan bahwa prevalensi insomnia berbeda-beda antar kelompok usia dan jenis kelamin, serta dipengaruhi oleh faktor sosial.
Insomnia biasanya terjadi karena stres atau kecemasan, kebiasaan tidur yang buruk, konsumsi kafein berlebih, gangguan kesehatan tertentu, efek samping obat, hingga pola hidup tidak teratur.
Insomnia umumnya ditandai dengan tiga pola gangguan tidur. Pertama, insomnia awal, yaitu ketika seseorang sulit memulai tidur.
Bulan purnama sering dikaitkan dengan insomnia dan perilaku aneh. Penelitian terbaru menjelaskan efeknya nyata tapi kecil.
Kondisi ini membuat orang yang mengalaminya merasa lelah, tidak segar, dan sulit berkonsentrasi di siang hari.
Orang lanjut usia dengan insomnia kronis berisiko 40% lebih tinggi mengalami demensia atau gangguan kognitif ringan (MCI).
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved