Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
INSOMNIA atau gangguan tidur tidak terjadi sama di setiap tempat, dan sebuah penelitian besar di Perancis menunjukkan bahwa prevalensi insomnia berbeda-beda antar kelompok usia dan jenis kelamin, serta dipengaruhi oleh faktor sosial.
Mengutip National Libary of Medicine, studi ini melibatkan puluhan ribu responden dari seluruh negeri dan menjadi dasar pemahaman baru tentang bagaimana insomnia terbagi di berbagai wilayah dan kelompok masyarakat.
Dalam survei populasi umum yang mencakup lebih dari 27.000 orang berusia 15-85 tahun, rata-rata waktu tidur ditemukan sekitar 7 jam 13 menit. Namun gejala insomnia kronis dialami oleh sekitar 15,8% orang dewasa.
Insomnia lebih sering dilaporkan terjadi pada wanita (sekitar 19,3%) dibanding pria (sekitar 11,9%), dan pola ini tetap stabil di berbagai kelompok usia untuk wanita. Sementara pada pria gejalanya meningkat seiring bertambahnya usia hingga usia pertengahan kemudian menurun di usia lanjut.
Penelitian lain yang lebih tua di Perancis juga menunjukkan bahwa sekitar 73% orang pernah mengalami masalah tidur semalam dalam periode tertentu. Tetapi, hanya sekitar 29% yang memiliki gangguan tidur yang konsisten setidaknya tiga kali seminggu. Sekitar 19% yang mengalami gangguan dengan dampak di siang hari.
Ini menunjukkan bahwa gejala insomnia sangat bervariasi tergantung pada kriteria yang digunakan dalam definisi gangguan tidur.
Variasi ini juga didapati lebih luas ketika dibandingkan dengan survei lintas negara. Dalam studi global, prevalensi insomnia bisa berbeda secara signifikan antara lokasi satu dengan lainnya. Hal itu menunjukkan bahwa faktor budaya, lingkungan, pekerjaan, dan kesehatan mental ikut memengaruhi kualitas tidur.
Data dari Perancis memberi gambaran bahwa insomnia bukan sekadar “sulit tidur”. Hal itu merupakan masalah kesehatan masyarakat yang berbeda-beda pada tiap kelompok masyarakat dan wilayah.
Hambatan sosial, stres, kondisi ekonomi, dan faktor demografis seperti jenis kelamin dan usia turut menentukan siapa yang lebih rentan mengalami gangguan tidur. Pemahaman ini penting untuk merancang program kesehatan yang tepat agar insomnia bisa diatasi sesuai kebutuhan komunitas masing-masing.
Secara keseluruhan, variasi insomnia menurut wilayah dan kelompok menunjukkan bahwa gangguan ini bukan fenomena tunggal. Hal itu adalah hasil interaksi kompleks antara kondisi biologis, lingkungan, dan sosial. Strategi penanganannya juga harus disesuaikan dengan konteks masyarakat tertentu. (PMC, EuropePMC, ScienceDirect, National Libary of Medicine/Z-10)
GANGGUAN tidur dan pernapasan semakin mendapat perhatian dalam dunia kesehatan.
Gangguan tidur seperti sleep apnea tak boleh diabaikan. Studi terbaru menunjukkan sleep apnea dapat memicu mikroperdarahan di otak.
Studi terbaru menunjukkan ibu yang melahirkan dengan operasi caesar berisiko lebih tinggi mengalami nyeri hebat dan gangguan tidur pascapersalinan.
Kurang tidur berdampak buruk bagi kesehatan. Dari gangguan konsentrasi hingga risiko jantung dan diabetes. Simak penjelasan lengkapnya di sini!
Temukan 10 kondisi kesehatan yang sering disangka gangguan kecemasan, lengkap dengan penjelasan dan cara membedakannya untuk diagnosis yang tepat.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved