Headline

Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa. 

Hati-hati! Kalimat yang Dianggap Biasa Ini Bisa Melukai Mental Anak

 Gana Buana
13/2/2026 15:28
Hati-hati! Kalimat yang Dianggap Biasa Ini Bisa Melukai Mental Anak
Respons orang dewasa yang terdengar menenangkan justru bisa berubah menjadi bumerang(Freepik)

RESPONS orang dewasa yang terdengar menenangkan justru bisa berubah menjadi bumerang ketika anak sedang menghadapi masalah. Dokter psikiatri konsultan anak dan remaja RS Marzoeki Mahdi Bogor, Widi Primaciptadi, mengingatkan orang tua dan pendidik untuk menghindari ucapan yang meremehkan pengalaman emosional anak.

Menurut Widi, kalimat seperti “itu cuma masalah kecil,” “nanti juga lupa,” atau “jangan lebay” kerap dipakai orang dewasa karena menganggap persoalan anak tidak seberat urusan orang dewasa. Padahal, bagi anak, masalah yang terlihat sepele dari luar bisa terasa sangat nyata, bahkan menakutkan.

“Yang dianggap ringan oleh orang dewasa belum tentu ringan untuk anak. Sistem regulasi emosi anak belum matang, jadi tekanan kecil pun bisa terasa besar,” ujarnya dilansir dari Antara, Jumat (13/2).

Bukan Peristiwanya, tapi Cara Anak Memaknai

Widi menekankan, ukuran “berat-ringan” masalah tidak bisa disamaratakan. Risiko terbesar muncul bukan semata karena kejadian yang dialami anak, melainkan bagaimana anak menafsirkan kejadian itu, dan apakah ia merasa sendirian saat menanggungnya.

Konflik dengan teman sebaya, masalah keluarga, hingga tuntutan akademik sering terlihat “biasa” bagi orang dewasa. Namun ketika tekanan bertemu dengan emosi yang belum stabil serta identitas diri yang masih berkembang, dampaknya dapat membesar dan mendorong anak pada pikiran berbahaya, termasuk keinginan mengakhiri hidup.

Stres Anak Sering Tidak Meledak

Widi menjelaskan, stres pada anak kerap hadir bukan dalam bentuk dramatis, melainkan akumulasi perlahan. Tanda awalnya bisa berupa perubahan yang tampak kecil tapi konsisten, anak lebih memendam, mudah menyalahkan diri, lebih gampang marah, atau cepat tersinggung.

Pada anak yang lebih muda, sinyalnya bisa lebih halus lagi, misalnya gangguan tidur, sulit konsentrasi, menarik diri dari pergaulan, atau tidak lagi menikmati aktivitas yang dulu disukai. Masalahnya, perubahan ini sering dianggap sebagai “fase” atau sekadar capek.

“Yang penting bukan satu kejadian. Yang penting itu polanya, konsistensinya,” kata Widi.

Peka Tanpa Paranoid

Ia mendorong orang tua untuk tidak bereaksi berlebihan seolah selalu ada bahaya besar, namun juga tidak menutup mata. Pendampingan emosi anak, menurutnya, bisa dimulai dari kebiasaan sederhana: membangun percakapan rutin, memvalidasi perasaan anak, tidak membandingkan dengan anak lain, serta menjadikan rumah dan sekolah sebagai ruang aman.

Dukungan yang tepat dapat menjadi “penahan” tekanan psikologis anak. Dengan pemahaman dan respons yang tidak menghakimi, keputusan impulsif yang berbahaya diharapkan dapat dicegah sekaligus memperkuat sistem perlindungan bagi anak. (Z-10)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Gana Buana
Berita Lainnya