Headline
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
Kumpulan Berita DPR RI
Sering kesulitan tidur di malam hari yang disertai dengan gejala henti napas? Berhati-hatilah. Studi terbaru dari Yale School of Medicine (YSM) mengungkapkan bahwa kombinasi insomnia dan obstructive sleep apnea (OSA) jauh lebih berbahaya bagi kesehatan jantung daripada yang diperkirakan sebelumnya.
Kondisi ganda ini dikenal dalam dunia medis sebagai COMISA (Comorbid Insomnia and Sleep Apnea). Penelitian yang melibatkan hampir satu juta veteran Amerika Serikat pasca-9/11 ini menunjukkan bahwa penderita COMISA menghadapi risiko hipertensi dan penyakit kardiovaskular yang jauh lebih tinggi dibandingkan mereka yang hanya menderita salah satu dari kondisi tersebut.
Selama ini, dokter sering mendiagnosis dan mengobati insomnia (sulit tidur) serta sleep apnea (henti napas saat tidur) sebagai gangguan yang terpisah. Padahal, keduanya sering kali terjadi bersamaan dan saling memperburuk beban kerja jantung.
"Kondisi-kondisi ini tidak sekadar berdampingan dengan sopan," ujar Allison Gaffey, PhD, asisten profesor kedokteran kardiovaskular di YSM sekaligus penulis utama studi tersebut. "Mengobati salah satu sambil mengabaikan yang lain sedikit mirip dengan menguras air dari perahu tanpa memperbaiki kebocorannya."
Tidur yang sehat adalah waktu krusial bagi jantung dan pembuluh darah untuk beristirahat, memperbaiki diri, dan mengatur ulang sistem tubuh. Namun, ketika tidur terus-menerus terganggu oleh terbangun di malam hari atau jeda pernapasan, sistem kardiovaskular kehilangan waktu pemulihan kritis tersebut.
Andrey Zinchuk, MD, MHS, profesor kedokteran paru dan asisten penulis senior, menekankan pentingnya siklus ini. "Tidur menyentuh setiap bagian dari keberadaan kita. Sering kali hal ini diabaikan padahal memiliki dampak yang sangat penting bagi kehidupan kita," jelasnya. Tanpa "reset" malam hari ini, pembuluh darah tidak dapat beradaptasi dan memulihkan keseimbangan secara optimal.
Para peneliti menekankan bahwa masalah tidur tidak boleh dianggap sebagai gangguan ringan atau sekadar rasa frustrasi sesaat. Seiring berjalannya waktu, gangguan tidur kronis memberikan tekanan terukur pada sistem kardiovaskular.
"Kami ingin tahu apakah COMISA berpengaruh pada awal lintasan risiko kardiovaskular, daripada menunggu beberapa dekade kemudian saat penyakit sudah terbentuk," tambah Gaffey.
Tim peneliti merekomendasikan agar evaluasi kualitas tidur dilakukan secara rutin, setara dengan pemeriksaan faktor risiko jantung utama lainnya seperti tekanan darah atau kolesterol. Dengan mengidentifikasi dan menangani COMISA sejak dini, risiko penyakit jantung yang lebih parah di masa depan dapat dicegah secara signifikan. (Science Daily/Z-2)
Sebuah penelitian besar di Perancis menunjukkan bahwa prevalensi insomnia berbeda-beda antar kelompok usia dan jenis kelamin, serta dipengaruhi oleh faktor sosial.
Insomnia biasanya terjadi karena stres atau kecemasan, kebiasaan tidur yang buruk, konsumsi kafein berlebih, gangguan kesehatan tertentu, efek samping obat, hingga pola hidup tidak teratur.
Insomnia umumnya ditandai dengan tiga pola gangguan tidur. Pertama, insomnia awal, yaitu ketika seseorang sulit memulai tidur.
Bulan purnama sering dikaitkan dengan insomnia dan perilaku aneh. Penelitian terbaru menjelaskan efeknya nyata tapi kecil.
Kondisi ini membuat orang yang mengalaminya merasa lelah, tidak segar, dan sulit berkonsentrasi di siang hari.
GANGGUAN tidur dan pernapasan semakin mendapat perhatian dalam dunia kesehatan.
Dengkuran kerap mengganggu tidur dan keintiman pasangan. Namun, para ahli menyarankan cara-cara bijak untuk mengatasi masalah ini.
Gangguan tidur seperti sleep apnea tak boleh diabaikan. Studi terbaru menunjukkan sleep apnea dapat memicu mikroperdarahan di otak.
Risiko stroke meningkat pada pagi hari akibat lonjakan tekanan darah, darah lebih kental, dan gangguan tidur. Kenali penyebab dan cara mencegahnya.
OSA adalah kondisi umum saat otot tenggorokan yang rileks menghalangi aliran udara ke paru-paru, atau apnea tidur sentral.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved