Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
PSIKOLOG klinis dewasa lulusan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia Nirmala Ika menekankan pentingnya pendidikan seks agar terhindar dari kecanduan aktivitas pesta seks atau orgy.
"Pendidikan seks itu mengajarkan untuk memahami diri sendiri, memahami dorongan-dorongan itu dan bagaimana akhirnya mereka bisa menyalurkan dorongan-dorongan itu secara lebih sehat," ujar Nirmala, dikutip Minggu (17/9).
Penjelasan Nirmala berkaitan dengan kasus yang diungkap Polres Jakarta Selatan terkait penyelenggaraan pesta seks di sebuah hotel di kawasan Semanggi, Jakarta.
Baca juga: UNJ Beri Psikoedukasi Remaja terkait Risiko Seks Pranikah
Menurut Nirmala, kurangnya pendidikan atau pemahaman seks bisa menjadi salah satu faktor seseorang melakukan eksplorasi aktivitas seksual yang tidak sehat.
Sayangnya, sebagian orang masih merasa ketakutan atau tertutup terhadap pendidikan seks. Banyak yang menganggap paparan terhadap seks di usia dini akan merusak moral atau etika individu. Padahal, seks adalah bagian alamiah dari kehidupan dan tidak bisa dihindari.
Nirmala mengatakan pendidikan seks bukanlah pengajaran tentang pornografi, melainkan berfokus pada pemahaman diri dan dorongan seksual.
Baca juga: Peran Penting Perempuan Wujudkan Kehidupan seksual yang Lebih Sehat
Melalui pendidikan seks yang tepat, individu dapat memahami dorongan-dorongan tersebut dan belajar cara mengekspresikannya dengan cara yang lebih sehat.
Ketika pemahaman yang benar tentang seksualitas tidak diberikan, individu mungkin mencari pemahaman secara keliru atau eksplorasi seksual yang tidak sesuai.
"Ketika dorongan itu muncul tapi tidak mendapat pemahaman yang jelas, orang akan mengeksplorasi, akan cari-cari. Akhirnya dia paham bahwa hal-hal seperti itu berisiko. Risikonya bisa ke mana-mana, bisa kehamilan dini, termasuk ke pornografi, mungkin juga masuk ke pesta seks," kata dia.
Lebih lanjut, Nirmala mengungkapkan terdapat berbagai alasan yang mungkin mendorong individu untuk terlibat dalam kegiatan pesta seks.
Beberapa individu mungkin tergoda untuk mencoba karena pengaruh lingkungan atau pergaulan. Namun, ada pula individu yang terlibat dalam kegiatan tersebut karena didorong rasa ingin tahu.
Nirmala menekankan tidak semua orang yang terlibat dalam aktivitas semacam ini mengalami gangguan atau masalah psikologis yang serius. Terkadang, seseorang mungkin hanya ikut-ikutan karena situasi atau karena keingintahuan semata.
"Mungkin karena orang jenuh ingin sesuatu yang lain saja. Apa yang kita anggap tidak normal, tidak wajar itu kita harus cek dulu, jangan menghakimi orang, kecuali pesta seks sudah menjadi kebiasaan dia, dia akan lebih wow ketika beramai-ramai, kita baru bisa bilang itu sebagai gangguan, misalnya menjadi fetish atau sebagainya. Ketika dia berkali-kali melakukan itu berarti ada sesuatu," ucapnya.
Nirmala menambahkan, kegiatan kontroversial seperti pesta seks bisa berdampak terhadap sejumlah hal, mulai dari risiko kesehatan seperti terkena penyakit menular hingga mempengaruhi hubungan dengan pasangan.
"Mungkin kalau dia punya pasangan juga di rumah itu akan mempengaruhi relasi karena kan ini hampir sama ketika dia berselingkuh, cuma dia akan menjadi lebih blur konsep monogaminya. Dia akan lebih melihat bahwa segala hal mungkin saja dilakukan," kata Nirmala.
Terkait upaya yang bisa dilakukan terhadap individu yang terlibat dalam kegiatan kontroversial seperti pesta seks, Nirmala mengatakan ada beberapa langkah yang bisa dilakukan.
Salah satunya adalah memberikan dukungan sosial, terutama dari orang-orang terdekat. Hal ini melibatkan pendekatan empati dan pemahaman terhadap situasi individu tersebut.
Nirmala menegaskan pentingnya untuk memahami alasan di balik partisipasi mereka dalam aktivitas seksual yang kontroversial. Terkadang, individu dapat terlibat karena tekanan teman atau karena kurangnya pemahaman tentang risikonya.
Pendekatan yang dapat dilakukan adalah bertanya langsung kepada individu tersebut tentang apa yang mereka rasakan dan bagaimana cara untuk membantunya. Pendekatan ini menciptakan ruang untuk dialog terbuka dan pemahaman lebih lanjut.
"Mungkin mereka sendiri kalau ada yang mau merangkul, mau menanyakan mereka, mau menyapa mereka, apa yang kamu rasakan, apa yang bisa aku bantu, mungkin mereka juga ingin tidak ada di situ. Jadi dibantu untuk keluar dari situ, mengatasi itu," kata dia.
Upaya lainnya yang bisa dilakukan adalah pendampingan oleh psikolog. Nirmala menyebut bahwa pendampingan oleh ahli dapat membantu individu mengeksplorasi penyebab di balik partisipasi mereka dalam aktivitas seksual yang kontroversial dan membantu mereka mengatasi dorongan atau ketidaknyamanan yang mungkin dialami. (Ant/Z-1)
Studi terbaru mengungkap teknik "meta-cognitive doubt". Meragukan pikiran negatif ternyata lebih efektif untuk kembali berkomitmen pada tujuan jangka panjang.
Korps Relawan Bencana di bawah Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi), melaksanakan rangkaian Psychosocial Support Program bagi anak-anak yang terdampak gempa bumi di Kabupaten Poso.
Dialah Saparinah Sadli, perempuan berusia 99 tahun yang menjadi saksi hidup perjalanan panjang ilmu psikologi dan gerakan perempuan di Indonesia.
Talentlytica bersama Unit Usaha Akademik Unpad akan menggelar Workshop Pauli Reimagined pada 4 Oktober mendatang di Bandung, Jawa Barat
Penggunaan pacar AI di platform seperti Character.AI makin populer, tetapi pakar memperingatkan risikonya.
Cinta bukan hanya soal perasaan, tapi juga ilmiah. Pelajari efek hormon ini saat jatuh cinta dan patah hati.
Edukasi seksual ini merupakan langkah preventif utama untuk mencegah penyimpangan seksual pada anak di masa depan.
Orangtua juga perlu berdialog dengan anak agar mereka dapat berpikir kritis dan mempertanggungjawabkan sikap mereka.
Pendidikan seksual sudah bisa diberikan sejak anak berusia sekitar dua atau tiga tahun.
Pendidikan seksual, sudah bisa dilakukan sejak anak berusia sekitar dua atau tiga tahun. Pada usia ini, anak mulai mengenal dan memahami nama-nama organ tubuh, termasuk alat kelamin.
Topik ini sering kali dianggap tabu dan orang dewasa kesulitan menemukan “pintu masuk” saat memulai diskusi dengan anak.
Bagi remaja yang sudah menikah bisa saja mengakses alat kontrasepsi di Puskesmas bila mereka membutuhkan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved