Headline

Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.

Mengapa Remaja Sulit Menahan Diri dari Tren? Ini Penjelasan Psikologisnya

Basuki Eka Purnama
07/2/2026 06:09
Mengapa Remaja Sulit Menahan Diri dari Tren? Ini Penjelasan Psikologisnya
Ilustrasi(Freepik)

FENOMENA remaja yang seolah tidak ingin ketinggalan zaman atau selalu ingin mengikuti tren terbaru bukan sekadar persoalan gaya hidup. Di balik perilaku tersebut, terdapat mekanisme kerja otak dan proses pencarian identitas yang kompleks.

Psikolog Klinis dari Dinamis Biro Psikologi, Shabrin Risti Aulia, M.Psi., menjelaskan bahwa faktor biologis memegang peranan kunci mengapa remaja sangat reaktif terhadap apa yang sedang populer di lingkungan mereka.

Dominasi Sistem Limbik

Secara neurologis, perkembangan otak remaja memang belum sepenuhnya seimbang. Terdapat dua bagian utama yang saling tarik-menarik dalam proses pengambilan keputusan: sistem limbik dan prefrontal cortex.

“Remaja lebih mudah tergoda melakukan hal-hal yang menyenangkan atau sedang tren karena sistem limbik mereka lebih dominan,” kata Shabrin, dikutip Sabtu (7/2).

Sistem limbik bertanggung jawab atas reward system atau pusat kesenangan. Sementara itu, prefrontal cortex berfungsi sebagai pengendali yang menganalisis risiko dan mengambil keputusan logis. 

Masalahnya, pada masa remaja, sistem limbik berkembang jauh lebih cepat. Hal inilah yang memicu mereka lebih memilih perilaku yang memberikan kepuasan instan, memicu adrenalin, atau rasa puas, meski risiko jangka panjangnya belum dipikirkan secara matang.

Kebutuhan untuk Diterima

Selain faktor saraf, dorongan sosial juga menjadi pengaruh kuat. Masa remaja adalah fase transisi saat kebutuhan akan pengakuan sosial berada di titik tertinggi. Lingkungan dengan norma tertentu memaksa remaja untuk menyesuaikan diri agar bisa dianggap sebagai bagian dari kelompok.

Kondisi ini diperkuat dengan tingkat kesadaran diri yang tinggi. Remaja cenderung merasa bahwa orang lain selalu memperhatikan penampilan, kesalahan, atau perilaku mereka. Alhasil, mengikuti tren menjadi jalan pintas agar mereka merasa setara dengan teman sebaya.

“Saat remaja ada dalam lingkungan dengan norma tertentu, besar kemungkinan ia akan mencoba fit in dengan lingkungan tersebut,” ujar psikolog lulusan Universitas Gadjah Mada tersebut.

Pelarian dari Tekanan Emosional

Tren dan popularitas juga sering kali menjadi bentuk mekanisme pertahanan diri. 

Menurut Shabrin, kemampuan coping emosional atau cara mengelola stres pada remaja biasanya belum matang. Hal ini membuat mereka tertarik pada hal-hal populer yang dianggap bisa mengalihkan tekanan emosional yang sedang dialami.

Dalam kondisi seperti ini, pertimbangan risiko sering kali terabaikan demi mendapatkan rasa aman melalui pengakuan kelompok. 

Dengan menyesuaikan diri pada kelompok sosial tertentu, remaja merasa telah berhasil menegaskan identitas diri mereka di tengah lingkungan yang dinamis. (Ant/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya