Headline

Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.

Membangun Ruang Aman bagi Remaja di Tengah Arus Tren dan Popularitas

Basuki Eka Purnama
06/2/2026 20:10
Membangun Ruang Aman bagi Remaja di Tengah Arus Tren dan Popularitas
Ilustrasi(Freepik)

DI tengah derasnya arus tren media sosial dan tuntutan popularitas, membangun relasi emosional yang kuat antara orang dewasa dan remaja menjadi kunci utama. Komunikasi yang aman dan terbuka diyakini mampu membentengi remaja dari risiko negatif fenomena yang tengah viral.

Psikolog klinis dari Dinamis Biro Psikologi, Shabrin Risti Aulia, M.Psi., menekankan bahwa peran orangtua, pendamping, maupun guru sangat krusial dalam menciptakan iklim komunikasi tersebut. 

Menurutnya, rasa aman adalah fondasi utama sebelum mendiskusikan hal-hal yang bersifat sensitif atau berisiko.

“Jika komunikasi terjalin dengan aman, akan lebih mudah mendiskusikan tren-tren yang berisiko,” ujar Shabrin.

Validasi dan Diskusi Tanpa Menghakimi

Langkah awal yang perlu dilakukan orang dewasa adalah melakukan validasi terhadap kebutuhan psikologis remaja. 

Hal ini termasuk memahami keinginan mereka untuk diakui oleh teman sebaya atau sekadar rasa penasaran mencoba hal-hal baru. 

Setelah validasi terbangun, orang dewasa dapat mengarahkan mereka untuk membedah dampak jangka pendek maupun jangka panjang dari sebuah tren.

Senada dengan hal tersebut, Psikolog dari Cakra Medika, Ayu S. Sadewo, S.Psi., mengingatkan agar orang dewasa tidak terburu-buru memberikan larangan saat berkomunikasi. Sikap otoriter justru dianggap dapat memutus jalur komunikasi.

“Jangan langsung pake larangan, karena itu justru membuat mereka jadi tidak terbuka dan defensif. Mulailah tanpa judgement. Penasaran dan diskusi saja: ‘Iya ya, itu lagi happening banget. Itu apa sih? Apa bagusnya? Risikonya apa? Dampaknya apa buat kesehatan, relasi, sekolah?’” jelas Ayu.

Ia menegaskan bahwa meski setiap anak memiliki karakter yang berbeda dalam menanggapi sesuatu, inti pendekatannya tetap sama: menyediakan ruang diskusi yang setara, bukan ruang penghakiman.

Melatih Berpikir Kritis di Tengah Tekanan Peer Group

Selain menjaga komunikasi internal, remaja juga perlu dibekali strategi dalam menghadapi tekanan teman sebaya (peer pressure). 

Shabrin menjelaskan pentingnya mengajarkan remaja cara menolak tren tertentu secara asertif tanpa harus merusak hubungan pertemanan mereka.

Melalui pendekatan ini, remaja tidak hanya sekadar mengikuti arus, tetapi juga diajak mengembangkan kemampuan berpikir kritis, menilai risiko, serta mengelola emosi. Dengan demikian, keinginan untuk populer tidak akan menjadi faktor yang merusak perkembangan psikologis mereka.

Pada akhirnya, komunikasi yang aman dan diskusi yang terbuka memungkinkan remaja untuk tetap mengeksplorasi pengalaman baru. Mereka dapat belajar membuat keputusan yang bijak secara mandiri, tanpa harus merasa kehilangan penerimaan dari lingkungan sosialnya. (Ant/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya