Headline

Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.

Fenomena Gas Tertawa: Saat Validasi Sosial Mengalahkan Logika Remaja

Basuki Eka Purnama
06/2/2026 18:30
Fenomena Gas Tertawa: Saat Validasi Sosial Mengalahkan Logika Remaja
Ilustrasi(Freepik)

TREN media sosial kembali memicu kekhawatiran terkait keselamatan remaja. Belakangan ini, penggunaan gas tertawa atau yang populer dengan sebutan whip pink menjadi perbincangan hangat setelah dikaitkan dengan kematian seorang pemengaruh digital. Fenomena ini mengungkap sisi kelam pencarian jati diri remaja di tengah tekanan gaya hidup digital.

Psikolog Cakra Medika, Ayu S. Sadewo, S.Psi., menjelaskan bahwa dorongan remaja untuk mengikuti tren berbahaya sering kali berakar pada kebutuhan psikologis untuk diterima oleh lingkungan sosial mereka. Rasa takut ketinggalan zaman atau fear of missing out (FOMO) menjadi mesin utama penggerak perilaku tersebut.

“Yang penting bagi mereka adalah diterima. Risiko sering kali tidak menjadi pertimbangan utama. Ketika ada tren yang dianggap populer, muncul rasa kalau tidak ikut berarti ketinggalan atau tidak nyambung,” ujar Ayu, dikutip Jumat (6/2).

Dilema Pencarian Identitas

Masa remaja merupakan fase krusial dalam pembentukan identitas. Dalam proses ini, rasa ingin tahu yang tinggi mendorong mereka untuk mencoba hal-hal baru yang dianggap sebagai bagian dari upaya memahami diri sendiri. 

Namun, standar keberhasilan dalam fase ini sering kali bergeser pada sejauh mana mereka mendapatkan validasi dari teman sebaya.

Lulusan Universitas Indonesia tersebut menambahkan bahwa di mata remaja, kesamaan tindakan dengan kelompok adalah segalanya. 

“Masa remaja saat seseorang ada dalam fase mencari identitas. Di usia ini, penerimaan orang lain jadi faktor yang penting bagi mereka, dianggap keren, dianggap seru, dianggap ‘sama’,” tambahnya.

Mengenal Risiko Whip Pink

Tren yang sedang disorot saat ini adalah penggunaan gas tertawa atau nitrous oxide (N2O). 

Secara medis, zat ini merupakan anestesi yang digunakan untuk prosedur pembiusan. Namun, secara rekreasional, zat ini disalahgunakan untuk mendapatkan efek euforia sesaat. 

Nama whip pink sendiri merujuk pada salah satu merek tabung gas tersebut yang kerap muncul dalam unggahan media sosial.

Kepopuleran tren ini meningkat tajam setelah warganet mengaitkan kematian konten kreator Lula Lahfah dengan penggunaan gas tersebut. Meski demikian, perlu dicatat bahwa hingga saat ini pihak berwenang belum memberikan konfirmasi resmi mengenai penyebab pasti kematian sang pemengaruh.

Literasi Risiko yang Rendah

Ayu menekankan bahwa sebagian besar remaja yang mengikuti tren ini tidak benar-benar memahami dampak buruknya terhadap kesehatan. 

Fokus utama mereka hanyalah pada pengakuan sosial dan keinginan untuk terlihat mandiri dalam mengambil keputusan, layaknya lingkaran pertemanan mereka.

Fenomena whip pink ini menjadi pengingat bagi para orangtua dan pendidik. Di tengah arus informasi media sosial yang begitu cepat, edukasi mengenai pemahaman risiko menjadi jauh lebih mendesak dibandingkan sekadar mengikuti sesuatu yang sedang populer demi sebuah validasi. (Ant/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya