Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Geografi dan Demografi: Membaca Arah Tren Fesyen Muslim Lebaran 2026

Basuki Eka Purnama
07/1/2026 18:36
Geografi dan Demografi: Membaca Arah Tren Fesyen Muslim Lebaran 2026
Ilustrasi--Model memperagakan busana muslim di ajang Jakarta Muslim Fashion Week (JMFW) 2025 di Indonesia Convention Exibition (ICE) BSD, Tangerang, Banten, Rabu (9/10/2024).(ANTARA/Galih Pradipta)

DOMISILI tempat tinggal masyarakat diprediksi akan menjadi faktor penentu utama dalam tren busana muslim (modest wear) yang paling diminati pada musim Lebaran 2026. Perbedaan selera antara penduduk di kota besar dengan daerah lainnya menciptakan keberagaman gaya yang unik di pasar fesyen tanah air.

Managing Director Klamby, Ridho Jufri, menjelaskan bahwa saat ini industri busana muslim harus bergerak dinamis mengikuti minat konsumen yang tersebar di berbagai wilayah. Di kota-kota besar, tren warna cenderung mengalami penurunan saturasi agar terlihat lebih kalem.

"Kalau di beberapa kota besar, mereka sekarang ingin lebih tuning down the color (menurunkan saturasi warna)-nya, kalau di daerah lain Lebaran harus pop-up (warna yang menyala dan terang)," ujar Ridho, dikutip Rabu (7/1).

Diferensiasi Selera Jawa dan Luar Jawa

Secara spesifik, Ridho mencatat bahwa masyarakat yang tinggal di Pulau Jawa tahun ini lebih menginginkan pakaian dengan warna-warna lembut (soft), seperti pastel atau warna netral. 

Meskipun begitu, ia tidak menutup kemungkinan adanya sebagian kalangan di perkotaan yang tetap menyukai warna terang.

Kontras dengan Pulau Jawa, penduduk di wilayah lain seperti Sumatra dan Kalimantan cenderung menyukai warna-warna berani yang mencolok.

"Kalau di luar kota itu mereka senang yang lebih terang. Kalau ditarik rata-rata, biasanya di luar Jawa itu lebih senang produk yang pop up atau berwarna terang," kata Ridho. 

Ia mencontohkan warna Maroon sebagai salah satu warna yang sangat diminati di luar Jawa.

Dominasi Gen Z dan Isu Lingkungan

Memasuki periode setelah musim Lebaran, arah fesyen diprediksi akan bergeser mengikuti karakteristik Generasi Z sebagai populasi terbesar di Indonesia. 

Produk yang mengusung konsep ramah lingkungan dan mudah didaur ulang (recycling) diproyeksikan akan semakin digemari.

Secara desain, tren ini akan didominasi oleh pakaian berwarna polos yang lembut dengan motif yang sangat minim. 

Motif yang ada biasanya hanya berfungsi sebagai tanda pengenal atau identitas dari sebuah merek. Selain itu, potongan pakaian berukuran besar atau oversized tetap menjadi pilihan favorit konsumen.

Namun, Ridho mengakui bahwa tantangan besar masih membayangi produksi pakaian ramah lingkungan di dalam negeri. Masalah utamanya terletak pada biaya produksi yang masih sangat tinggi di Indonesia.

Potensi Pasar Internasional

Di tengah dinamika tren tersebut, industri busana muslim Indonesia terus menunjukkan pertumbuhan yang positif. Kualitas produk lokal kini tidak hanya berjaya di negeri sendiri, tetapi juga mulai menarik perhatian pasar regional.

"Industrinya pun juga sudah mulai dilirik sejumlah negara tetangga seperti Malaysia yang tertarik untuk membeli produk buatan Indonesia," pungkas Ridho. (Ant/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik