Headline

Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.

Psikologi Penghakiman Massa: Mengapa Netizen Terobsesi dengan Kehidupan Privat Artis?

Putri Rosmalia Octaviyani
05/2/2026 20:59
Psikologi Penghakiman Massa: Mengapa Netizen Terobsesi dengan Kehidupan Privat Artis?
Ilustrasi, netizen melihat berita seputar kehidupan artis.(Dok. Freepik)

PERNAHKAH Anda bertanya-tanya mengapa sebuah skandal perselingkuhan atau konflik rumah tangga seorang artis bisa menjadi topik pembicaraan nasional yang lebih riuh daripada kebijakan ekonomi? Di tahun 2026, di mana arus informasi mengalir tanpa henti, fenomena penghakiman massa digital telah mencapai titik puncaknya. Netizen seolah memiliki kursi baris terdepan dalam kehidupan privat artis atau figur publik lainnya, lengkap dengan palu hakim di tangan mereka.

Fenomena ini bukan sekadar perilaku iseng. Ada mekanisme psikologis dan neurologis yang sangat kompleks yang membuat manusia modern begitu terobsesi dengan urusan privasi orang lain.

Hubungan Parasosial: Merasa Kenal Padahal Asing

Salah satu pemicu utama obsesi ini adalah hubungan parasosial. Ini adalah kondisi psikologis di mana pengguna media sosial merasa memiliki hubungan timbal balik yang dekat dengan seorang tokoh publik, padahal interaksi tersebut hanya bersifat satu arah.

Ketika seorang artis membagikan rutinitas pagi hingga momen sedih di media sosial, otak kita mulai memproses informasi tersebut seolah-olah berasal dari teman dekat. Akibatnya, saat artis tersebut melakukan kesalahan, netizen merasa dikhianati secara personal. Rasa dikhianati inilah yang kemudian meledak menjadi kemarahan kolektif di kolom komentar.

Penelitian yang dilakukan pakar di Universitas Gadjah Mada (UGM) di tahun 2025 menunjukkan bahwa konten yang memicu amarah (outrage) memiliki peluang  lebih besar untuk viral dibandingkan konten positif karena cara kerja algoritma yang mengeksploitasi emosi negatif.

Moral Grandstanding: Mencari Validasi Lewat Penghakiman

Mengapa menghujat orang lain terasa begitu memuaskan bagi sebagian orang? Secara psikologis, ini disebut sebagai moral grandstanding. Dengan menghakimi kesalahan orang lain secara publik, seseorang secara tidak langsung sedang memproyeksikan citra bahwa dirinya lebih bermoral dan lebih suci.

Di media sosial, menghujat artis yang sedang tersandung skandal memberikan lonjakan dopamin instan. Ada kepuasan ego saat seseorang merasa berada di pihak yang benar sambil menunjuk jari pada orang lain yang dianggap salah.

Sisi Evolusioner: Gosip sebagai Alat Bertahan Hidup

Secara antropologis, gosip sebenarnya adalah alat bertahan hidup purba. Nenek moyang kita menggunakan gosip untuk memantau siapa yang bisa dipercaya dalam kelompok. Di era modern, fungsi ini bergeser ke ranah digital sebagai bentuk penertiban sosial atau social policing terhadap nilai-nilai yang dianggap penting oleh masyarakat.

Dampak Psikologis bagi Netizen dan Korban

  • Bagi Korban: Risiko depresi, kecemasan akut, hingga pengucilan sosial permanen.
  • Bagi Netizen: Menciptakan kecanduan terhadap konflik dan menurunkan tingkat empati di dunia nyata.

Terobsesi dengan kehidupan privat artis adalah persimpangan antara insting purba manusia dan manipulasi teknologi modern. Menyadari alasan psikologis di balik perilaku kita adalah langkah pertama untuk menjadi netizen yang lebih sehat dan berempati di tahun 2026.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri Rosmalia
Berita Lainnya