Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
PSIKOLOG Klinis Anak dan Keluarga dari Universitas Indonesia Anna Surti Ariani mengatakan anemia tidak hanya berdampak negatif secara fisik, namun juga terhadap kondisi psikologis anak.
Psikolog yang biasa disapa Nina itu mengatakan, dalam jangka pendek, anak yang terkenal anemia secara fisik akan terlihat mudah lelah dan lesu. Ketika anak tidak aktif, hal itu akan berpengaruh secara kognitif sehingga anak sulit untuk fokus dan berkonsentrasi.
"Dalam jangka pendek, secara kognitif, anak cenderung kurang konsentrasi, tidak mudah menangkap dan mengingat, serta emosinya juga cenderung lebih negatif, lebih mudah sedih atau marah dan rentan stres," ucap Nina, dikutip Selasa (12/9).
Baca juga: Sadari Pentingnya Deteksi Anemia Sejak Dini
Ia mengatakan, jika anemia tidak ditangani dan diintervensi, anak akan mudah sakit dan tumbuh kembang anak, terutama di usia lima tahun, akan terhambat. Tumbuh kembang yang tidak optimal dapat memengaruhi tinggi badan serta berat badan yang tidak diharapkan dan secara psikologis kognisi atau daya tangkap semakin bermasalah.
Hal ini tentu menjadi masalah jika anak sudah memasuki usia sekolah di mana anak akan kesulitan menyerap pelajaran yang diberikan, dan prestasi di sekolah juga akan menurun.
Selain di bidang akademik, aspek sosial emosi atau hubungan pertemanan anak yang terkena anemia juga berpengaruh karena anak akan sulit berkomunikasi dan sulit bergaul akibat selalu lemas dan tidak ceria. Sehingga menyebabkan anak mempunyai emosi yang negatif terhadap lingkungan karena tidak punya teman.
Baca juga: Manakah yang Lebih Ampuh Mengatasi Anemia, Sayuran Hijau atau Daging?
"Sulit diajak ngobrol, bisa sulit bergaul karena teman-temannya malas ngobrol dengan dia, padahal usia 4 sampai 5 tahun lagi senang berteman, emosi jadi cenderung negatif karena ngga ada teman," kata Nina.
Nina mengatakan, anemia yang tidak ditangani akan berdampak pada aspek sosial emosi pada masalah yang lebih besar yaitu perundungan dari teman sekolahnya dan masalah kesehatan kejiwaan. Ia mengatakan hal ini bisa terjadi pada anak di jenjang sekolah SD sampai SMA.
Anak yang anemia akan memengaruhi produksi hormon dopamin yang menyebabkan anak mempunyai masalah emosi yang cenderung negatif. Akibatnya, anak sulit bergaul sehingga dikucilkan oleh teman sebayanya serta dirundung karena dianggap lemah dan tidak tahu apa-apa.
Dari perundungan ini, anak akan merasa selalu buruk dan gagal sehingga bisa muncul bibit masalah kejiwaan seperti kecemasan atau anxiety dan berujung depresi.
"Masuk sekolah deg-degan khawatir akan dirundung, bisa juga mengalami bibit depresi yaitu kondisi kejiwaan saat murung. Anak diasingkan karena ngga asik diajak ngobrol kemudian anak jadi sedih itu bisa jadi depresi," ungkap psikolog di Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia (LPTUI) ini.
Nina mengatakan, anemia pada anak bisa dicegah selama orangtua memastikan memenuhi asupan nutrisi anak dan melakukan stimulasi yang dibutuhkan anak.
Ciptakan suasana hangat dan hubungan yang baik dengan anak dengan melakukan kegiatan bersama seperti bermain agar mengoptimalkan semua aspek tumbuh kembangnya.
Melalui kedekatan dengan orangtua, anak akan mempunyai kualitas emosi sosial yang optimal serta anak menjadi ceria dan mempunyai emosi positif.
"Ini sangat bisa dicegah, maka penting sekali skrining dan pastikan stimulasi baik, nutrisi baik dan hubungan baik dengan anak sehingga bully dan masalah kesehatan jiwa tidak terjadi," harap Nina. (Ant/Z-1)
Studi terbaru mengungkap teknik "meta-cognitive doubt". Meragukan pikiran negatif ternyata lebih efektif untuk kembali berkomitmen pada tujuan jangka panjang.
Korps Relawan Bencana di bawah Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi), melaksanakan rangkaian Psychosocial Support Program bagi anak-anak yang terdampak gempa bumi di Kabupaten Poso.
Dialah Saparinah Sadli, perempuan berusia 99 tahun yang menjadi saksi hidup perjalanan panjang ilmu psikologi dan gerakan perempuan di Indonesia.
Talentlytica bersama Unit Usaha Akademik Unpad akan menggelar Workshop Pauli Reimagined pada 4 Oktober mendatang di Bandung, Jawa Barat
Penggunaan pacar AI di platform seperti Character.AI makin populer, tetapi pakar memperingatkan risikonya.
Cinta bukan hanya soal perasaan, tapi juga ilmiah. Pelajari efek hormon ini saat jatuh cinta dan patah hati.
Edukasi seksual ini merupakan langkah preventif utama untuk mencegah penyimpangan seksual pada anak di masa depan.
Gangguan hormon yang tidak ditangani sejak dini dapat menghambat perkembangan organ reproduksi secara optimal.
Proses grooming biasanya dimulai dengan upaya halus untuk menumbuhkan rasa percaya.
Child grooming adalah proses manipulatif ketika pelaku, biasanya orang dewasa, membangun hubungan emosional dengan seorang anak.
Child grooming adalah proses sistematis untuk mempersiapkan anak menjadi korban pelecehan.
Dunia pernikahan menuntut kesiapan mental yang jauh lebih kompleks, seperti kemampuan mengelola konflik dan tanggung jawab rumah tangga yang besar.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved