Headline
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Kumpulan Berita DPR RI
EL Nino bukanlah penyebab utama dari kekeringan yang melanda Indonesia saat ini. Hal itu diungkapkan oleh Dosen Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian ITB Tri Wahyu Hadi.
“Kondisi el nino yang tidak strong, masih ada kemungkinan akan mengalami kekeringan atau tidak. Tapi ketika terjadi el nino strong, itu memang akan terjadi kekeringan,” kata Tri, Sabtu (9/9).
El Nino dengan intensitas kuat yang menyebabkan kekeringan, kata dia, pernah melanda Indonesia pada 1972-1973, lalu pada 1982-1983, 1997-1998 serta 2015.
Baca juga: Pemerintah Perlu Ambil Langkah Tanggap Darurat untuk Tangani Kekeringan
“Tapi bukan berarti tidak terpengaruh. Hanya kadang kering atau kadang tidak terlalu kering, sehingga rerata dampaknya itu kurang hebat dibanding dengan strong El Nino,” beber dia.
Di samping El Nino, ada fenomena iklim yang juga membuat curah hujan menurun dan suhu bumi meningkat, yakni pula angin di atas wilayah Filipina yang menyebabkan akumulasi uap air.
Baca juga: Hujan di Sebagian Wilayah, Waspada Dampak Siklon Tropis Saola
“Jadi bukan hanya El Nino atau La Nina, tapi ada proses lain yang perlu kita kaitkan, mungkin tidak langsung dari kondisi laut pasifik tapi ada pola sirkulasi udara tertentu yang menyebabkan adanya perbedaan akumulasi uap air yang ada di atas suatu wilayah,” jelas dia.
Di samping itu, beberapa penelitian yang dilakukan beberapa puluh tahun lalu juga melaporkan bahwa anomali iklim di Indonesia telah berlangsung dari ratusan juta lalu. Misalnya saja peneliti dari Belanda pada 1929 menyatakan bahwa di Indonesia curah hujan tidak menentu. Terkadang, curah hujan panjang dan musim kering tidak datang. Kondisi sebaliknya pun pernah terjadi.
Selain itu penelitian yang dilakukan pada tahun 1971-1973 oleh peneliti dari Hawaii juga menyebutkan bahwa di tahun itu curah hujan Juli, Agustus, September, Oktober, sangat kecil, padahal di tahun-tahun lain cukup besar.
“Jadi anomali iklim sebenarnya terjadi sejak dulu dan salah satu fenomena yang menyebabkan adalah El Nino,” imbuhnya.
Menurut dia, hingga Agustus 2023, dampak El Nino belum dapat dikatakan ekstrem. Hal itu berbeda dengan kejadian El Nino yang terjadi pada. 1997-1998 lalu.
“Tapi tentu kondisinya harus kita pantau terus, El Nino di Samudera Pasifik bisa lebih menguat lagi. Beberapa bulan ke depan sebagian besar wilayah kita akan mengalami defisit curah hujan. Tapi Desember, Januari dan Februari sudah berkurang,” tutup dia. (Ata/Z-7)
Periode 1-10 Februari 2026 atau dasarian I Februari terdapat peluang hujan dengan intensitas lebih dari 50 milimeter per dasarian sebesar 70 hingga lebih dari 90 persen.
Sebagian warga Bumiayu memilih mengungsi ke tempat yang lebih aman karena rumah mereka terdampak banjir. Tak hanya itu, ratusan hektare tanaman padi juga rusak.
Pengelola Jakarta Garden City (JGC) mengebut pembenahan infrastruktur dan jalan di tengah kemacetan, cuaca ekstrem, serta sorotan isu lingkungan RDF Rorotan.
Pramono mengingatkan agar permasalahan tata ruang itu tidak diperparah dengan kebiasaan warta membuang sampah sembarangan.
Hujan dengan intensitas tinggi menjadi pemicu utama terjadinya bencana tanah longsor yang terjadi di Desa Pasirlangu Kecamatan Cisarua Kabupaten Bandung Barat.
Adapun di Jakarta Timur, genangan tercatat di 16 RT yang berada di Kelurahan Rawa Terate, Bidara Cina, Kampung Melayu, Cawang, dan Cililitan.
BMKG) melalui akun Instagram, Senin (9/2), mengeluarkan peringatan wilayah Jabodetabek masih akan terus diguyur hujan lebat hingga sangat lebat dalam beberapa hari
Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB), Dwi Andreas Santosa, mengingatkan pemerintah, dalam hal ini Kementerian Pertanian, untuk berhati-hati dalam menyusun tata kelola pangan 2026.
Di Indonesia, bencana jenis ini menyumbang lebih dari 90% dari total kejadian bencana setiap tahunnya.
Studi terbaru mengungkap fenomena sinkronisasi krisis air global akibat siklus El Niño-La Niña. Bagaimana dampaknya terhadap ketersediaan pangan dunia?
BMKG mengungkap secara spesifik, La Nina lemah masih akan bertahan di Indonesia pada periode Januari-Februari-Maret.
Badan Metereologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan fenomena La Nina diprediksi akan terus terjadi hingga Maret 2026.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved