Headline

Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.

BMKG Sebut Hujan dengan Intensitas Tinggi Penyebab Longsor di Cisarua Kabupaten Bandung Barat

Naviandri
25/1/2026 12:38
BMKG Sebut Hujan dengan Intensitas Tinggi Penyebab Longsor di Cisarua Kabupaten Bandung Barat
Ilustrasi(Dok Istimewa)

HUJAN dengan intensitas tinggi bahkan disertai angin yang melanda wilayah Jawa Barat (Jabar) dalam kurun waktu beberapa hari terakhir, menjadi pemicu utama terjadinya bencana tanah longsor yang terjadi di Desa Pasirlangu Kecamatan Cisarua Kabupaten Bandung Barat (KBB) pada Sabtu (24/1) sekitar Pukul 03.00 WIB. 

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menerangkan, bahwa kondisi cuaca saat ini masih sangat berpotensi memicu kejadian serupa, terutama di wilayah dengan topografi perbukitan dan tanah yang labil.

Kepala Stasiun Geofisika BMKG Bandung, Teguh Rahayu kemarin mengungkapkan pada 23 Januari 2026, curah hujan di KBB tercatat berada pada kategori ekstrem. Berdasarkan data BMKG dari Pos Hujan Perkebunan Sukawana mencatat curah hujan sebesar 215,5 milimeter, sementara Pos Hujan Perkebunan Pangheotan mencatat 210,5 milimeter dalam satu hari. 

“Curah hujan yang sangat tinggi ini menjadi faktor utama penyebab longsor, terutama di wilayah KBB yang memiliki topografi berbukit, curam serta kondisi tanah yang relatif labil,” paparnya.

Menurut Rahayu, longsor memang dipengaruhi oleh banyak faktor, namun hujan dengan intensitas tinggi dan durasi yang panjang menjadi pemicu dominan. Air hujan yang terus-menerus meresap ke dalam tanah menyebabkan kondisi tanah menjadi jenuh dan kehilangan daya ikatnya.

“Hujan lebat hingga ekstrem yang turun dalam durasi lama membuat tanah tidak mampu lagi menahan resapan air. Kondisi inilah yang kemudian memicu terjadinya longsor. BMKG juga mencatat bahwa pola hujan yang terjadi saat ini tidak hanya lebat, tetapi juga berlangsung cukup lama,” tuturnya. 

Rahayu menambahkan, kombinasi antara intensitas dan durasi hujan tersebut secara signifikan meningkatkan risiko bencana hidrometeorologi, termasuk longsir dan banjir bandang. Masyarakat sebenarnya dapat mengenali sejumlah indikator cuaca sebagai sinyal awal meningkatnya potensi longsor. Salah satunya adalah munculnya awan Cumulonimbus yang tumbuh menjulang tinggi dan menutupi langit hingga tampak gelap.

“Pada periode Januari hingga Maret 2026 diprediksi masih berada dalam puncak musim hujan di berbagai wilayah di Jabar, termasuk Kota Bandung, Kota Cimahi, Kabupaten Bandung Barat dan Kabupaten Bandung. Artinya, intensitas hujan masih berpotensi tinggi,” jelasnya.

Dengan kondisi cuaca yang masih dinamis tersebut, BMKG lanjur Rahayu, mengimbau masyarakat, khususnya yang tinggal di wilayah rawan longsor, untuk meningkatkan kewaspadaan. Ia menekankan pentingnya mengantisipasi hujan dengan intensitas ringan hingga ekstrem, terutama jika berlangsung dalam waktu lama. BMKG mengimbau masyarakat yang berada di daerah rawan longsor untuk tetap waspada, memantau kondisi cuaca, serta menjauhi lokasi-lokasi yang berpotensi terdampak longsor. 

“BMKG juga mengingatkan agar masyarakat segera melakukan evakuasi mandiri apabila hujan deras berlangsung lama dan muncul tanda-tanda alam seperti retakan tanah, pohon miring, atau aliran air yang tidak biasa di sekitar permukiman. Dengan kewaspadaan bersama, risiko jatuhnya korban akibat bencana longsor diharapkan dapat diminimalkan,” sambungnya.(H-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indrastuti
Berita Lainnya