Headline
RI tetap komitmen perjuangkan kemerdekaan Palestina.
RI tetap komitmen perjuangkan kemerdekaan Palestina.
Kumpulan Berita DPR RI
PARA ilmuwan yang memantau pergerakan air Bumi dari luar angkasa menemukan fakta mengejutkan. Fenomena El Niño dan La Niña kini menyinkronkan kejadian banjir dan kekeringan di berbagai benua secara bersamaan. Ketika siklus iklim ini menguat, wilayah-wilayah yang berjauhan dapat mengalami kondisi sangat basah atau kekeringan ekstrem pada waktu yang sama.
Studi yang diterbitkan dalam jurnal AGU Advances ini menunjukkan krisis air bukanlah peristiwa lokal yang terisolasi, melainkan bagian dari pola global yang terhubung. Para peneliti dari University of Texas di Austin (UT Austin) menemukan bahwa selama 20 tahun terakhir, El Niño-Southern Oscillation (ENSO) menjadi penggerak utama perubahan ekstrem cadangan air di seluruh dunia.
Bridget Scanlon, profesor riset di UT Jackson School of Geosciences, menekankan bahwa pemahaman terhadap pola global ini memiliki konsekuensi di dunia nyata.
"Melihat skala global, kita dapat mengidentifikasi wilayah mana yang secara bersamaan basah atau kering. Hal itu tentu saja memengaruhi ketersediaan air, produksi pangan, hingga perdagangan pangan global," ujar Scanlon.
Ketika beberapa wilayah mengalami krisis air secara serentak, dampaknya akan merambat ke sektor pertanian, perdagangan, hingga perencanaan kemanusiaan internasional.
Untuk mendapatkan data akurat, para ilmuwan menggunakan pengukuran gravitasi dari satelit GRACE dan GRACE-FO milik NASA. Satelit ini mampu mendeteksi perubahan massa air, termasuk air sungai, danau, salju, es, hingga air tanah di kedalaman permukaan.
Hasil analisis menunjukkan pola yang konsisten. Sebagai contoh, pada pertengahan 2000-an, El Niño memicu kekeringan hebat di Afrika Selatan. Hal serupa terjadi di Amazon pada 2015-2016. Sebaliknya, La Niña pada 2010-2011 membawa kondisi sangat basah di Australia, Brasil bagian tenggara, dan Afrika Selatan.
Studi ini juga menemukan adanya pergeseran signifikan sekitar satu dekade lalu. Sebelum tahun 2011, kondisi basah yang tidak biasa lebih sering terjadi di seluruh dunia. Namun, setelah tahun 2012, kondisi kekeringan ekstrem mulai mendominasi secara global.
JT Reager dari NASA Jet Propulsion Laboratory menyatakan bahwa data ini menangkap "ritme" siklus iklim besar yang memengaruhi kehidupan manusia. "Apa pun yang terjadi di Samudra Pasifik pada akhirnya akan memengaruhi kita semua yang ada di daratan," ungkapnya.
Menanggapi temuan ini, Scanlon mengingatkan agar masyarakat mulai mengubah cara pandang terhadap tantangan air. Fokus utama seharusnya bukan hanya pada kelangkaan, melainkan pada manajemen perubahan ekstrem.
"Seringkali kita mendengar mantra bahwa kita kehabisan air, padahal sebenarnya yang krusial adalah mengelola kondisi ekstrem tersebut. Itu adalah pesan yang sangat berbeda," pungkas Scanlon. (Science Daily/Z-2)
Di Indonesia, bencana jenis ini menyumbang lebih dari 90% dari total kejadian bencana setiap tahunnya.
BMKG mengungkap secara spesifik, La Nina lemah masih akan bertahan di Indonesia pada periode Januari-Februari-Maret.
Badan Metereologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan fenomena La Nina diprediksi akan terus terjadi hingga Maret 2026.
KEPALA Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Teuku Faisal Fathani menyampaikan bahwa Indonesia saat ini tengah memasuki periode menuju puncak musim hujan.
Laut Pasifik Utara mencatat rekor suhu tertinggi sepanjang sejarah. Para ilmuwan bingung mencari penyebab utama gelombang panas laut misterius ini.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved