Headline
Serangan terhadap pasukan perdamaian melanggar hukum internasional.
Serangan terhadap pasukan perdamaian melanggar hukum internasional.
Kumpulan Berita DPR RI
DOKTER spesialis anak konsultan infeksi dan penyakit tropik Raihan mengatakan anak di atas usia satu tahun harus melengkapi imunisasi penguat atau imunisasi booster agar tidak terkena penyakit menular seperti TBC, polio, difteri, hingga tetanus ataupun rubella.
"Jadi, kita tidak lagi berbicara di bawah satu tahun harus lengkap, tetapi juga ada namanya imunisasi booster, penguatan, yang setelah satu tahun juga harus dilengkapi, kalau misalnya terlambat Itu harus dilakukan," kata Raihan, dikutip Minggu (14/5).
Dokter dari RSUD Zainoel Abidin Banda Aceh itu mengatakan, pada kelompok anak yang tidak sakit namun tidak diimunisasi, dalam waktu cepat, anak-anak tersebut akan tertular penyakit karena tidak memiliki imunitas. Dia mengingatkan, angka kejadian yang meningkat bisa menjadi wabah.
Baca juga: Tingkatkan Kekebalan Komunal, Jawa Barat Genjot Imunisasi
Raihan mengatakan salah satu penyakit menular yang mengintai anak adalah tuberkulosis atau TB. Tuberkulosis tidak hanya terjadi pada batuk, bahkan bisa menyerang organ lain seperti sendi atau tulang belakang.
Penularan juga sering kali terjadi di dalam rumah dari orang dewasa kepada anak, sehingga anak perlu diberi perlindungan dengan imunisasi BCG.
"Jadi, kita jangan hanya berpikir bahwa anak tersebut ancamannya di luar rumah. Orang-orang terdekat yang dicintainya di dalam rumah bisa menjadi sumber penularan kepada anak, sehingga perlu dilindungi dengan imunisasi yang kita sebut dengan imunisasi BCG," ucap Raihan.
Baca juga: Orangtua Dipastikan tidak Perlu Takut Efek Samping Imunisasi Anak
Selain itu, TB juga bisa terjadi di usus yang menyebabkan usus menjadi lengket dan bisa bocor. Komplikasi yang lebih berat adalah TB bisa menyerang selaput otak dan membuat anak mengalami kemunduran kepintaran dan tidak bisa kembali seperti sedia kala.
Selain tuberkulosis, hepatitis B juga menjadi perhatian khususnya pada anak baru lahir, karena anak yang terinfeksi dengan hepatitis B akan mengalami kanker hati pada 10 sampai 20 tahun kemudian.
"Karena banyak sekali kematiannya dan 80%-99% tidak ada gejala. Inilah sebabnya ada program dalam 24 jam pertama setelah kelahiran harus diberikan imunisasi hepatitis B," kata dokter yang menempuh pendidikan doktor di Universitas Padjajaran Bandung itu.
Di samping itu, penyakit menular lainnya yang dapat menjangkiti anak yang tidak melakukan imunisasi seperti polio yang terjadi karena virus polio masuk ke dalam tubuh anak tersebut melalui makanan atau air yang tercemar sehingga menyebabkan kelumpuhan.
Ada juga penyakit difteri, campak dengan komplikasi serius, hingga rubella dan tetanus yang dapat menyebabkan patah tulang atau fraktur.
Raihan mengatakan orangtua banyak yang tidak memenuhi imunisasi anak dan tidak sadar dengan penyakit-penyakit berbahaya tersebut sehingga saat melakukan perawatan sudah dalam kondisi yang parah.
"Orangtua Biasanya baru sadar pada saat melihat anaknya harus dirawat berhari-hari, jadi bukan hanya 2 hari anaknya demam seperti setelah imunisasi tetapi efek demam yang dirasakan anaknya tidak sebanding apabila anak tersebut tidak imunisasi dan kemudian terserang dengan penyakit," tegasnya.
Dia juga mengingatkan imunisasi merupakan investasi masa depan anak dan melengkapi imunisasi sesuai dengan jadwal dan jumlah dosis yang diberikan dapat memberikan kekebalan yang optimal kepada anak sehingga anak dan keluarga terlindungi. (Ant/Z-1)
Berdasarkan data Kemenkes, grafik kasus campak sempat melonjak tajam pada pekan pertama Januari 2026 dengan total 2.220 kasus.
Obesitas bukan sekadar persoalan penampilan atau gaya hidup. Ini penyakit kronis yang risikonya besar terhadap kesehatan.
Kemenkes menyebut terdapat 3 penyakit yang banyak ditemukan pada pemudik lebaran 2026 yakni hipertensi (darah tinggi), cephalgia (nyeri kepala), dan gastritis (maag).
GURU Besar Ilmu Penyakit Dalam Konsultan Gastroenterologi-Hepatologi FKUI-RSCM, Prof Ari Fahrial Syam mengungkapkan terdapat beberapa penyakit yang sering muncul setelah lebaran.
DI balik suasana penuh kebahagiaan Hari Raya Idul Fitri, penderita penyakit autoimun perlu memberikan perhatian khusus terhadap kondisi kesehatannya agar terhindar dari kekambuhan
Obesitas sangat memengaruhi keseimbangan hormon, terutama pada perempuan.
Kementerian Kesehatan mengatakan bahwa sampai dengan minggu kesembilan 2026, kasus campak di Indonesia telah turun menjadi 511 kasus dari sebelumnya 531 kasus.
Berdasarkan data Kemenkes hingga minggu ke-8 tahun 2026, tercatat sebanyak 10.453 kasus suspek campak, dengan 8.372 kasus terkonfirmasi dan enam kasus kematian.
Waktu ideal untuk pemberian vaksinasi adalah minimal 14 hari atau dua pekan sebelum keberangkatan guna memastikan perlindungan optimal selama liburan.
LONJAKAN kasus campak yang terjadi belakangan ini dinilai menjadi indikator menurunnya kekebalan kelompok atau herd immunity di masyarakat
Di Indonesia, jadwal imunisasi anak saat ini mengacu pada rekomendasi Kementerian Kesehatan serta panduan terbaru dari IDAI yang diperbarui pada 2024.
Dokter mengingatkan orang tua untuk melengkapi imunisasi anak minimal dua pekan sebelum mudik Lebaran.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved