Headline
Aturan itu menunjukkan keberpihakan negara pada kepentingan anak.
Aturan itu menunjukkan keberpihakan negara pada kepentingan anak.
Kumpulan Berita DPR RI
LONJAKAN kasus campak yang terjadi belakangan ini dinilai menjadi indikator menurunnya kekebalan kelompok atau herd immunity di masyarakat. Dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi (FKGiz) IPB University, dr Aisyah Amanda Hanif, mengatakan peningkatan kasus campak sering kali terjadi ketika imunitas populasi mulai menurun.
“Campak merupakan penyakit yang sangat menular. Satu orang yang terinfeksi dapat menularkan virus kepada 12 hingga 18 orang yang rentan di sekitarnya,” kata Aisyah dalam keterangannya, Senin (9/3).
Ia menjelaskan, sekitar 90 persen orang yang tidak memiliki kekebalan terhadap virus campak berpotensi tertular apabila terpapar. Karena itu, cakupan imunisasi menjadi faktor penting dalam mencegah penyebaran penyakit tersebut.
Menurut Aisyah, kekebalan kelompok terhadap campak baru dapat tercapai apabila lebih dari 94 persen masyarakat memiliki kekebalan, baik melalui vaksinasi maupun infeksi sebelumnya. Sementara itu, target cakupan imunisasi campak yang ditetapkan Kementerian Kesehatan minimal mencapai 95 persen.
“Jika cakupan imunisasi menurun, jumlah individu yang rentan akan meningkat. Ketika virus masuk ke komunitas dengan banyak orang yang belum memiliki kekebalan, wabah dapat terjadi lebih mudah,” ujarnya.
Aisyah menegaskan bahwa campak tidak dapat dianggap sebagai penyakit ringan. Virus campak menyebar melalui udara dan umumnya masuk ke dalam tubuh melalui saluran pernapasan.
“Setelah masuk ke dalam tubuh, virus akan berkembang biak dan menyebar ke berbagai organ. Respons imun tubuh terhadap infeksi ini kemudian menimbulkan ruam khas pada pasien campak,” jelasnya.
Dalam sejumlah kasus, campak juga dapat menimbulkan komplikasi serius, terutama pada kelompok rentan seperti bayi, anak dengan gizi buruk, serta individu dengan sistem imun rendah. Komplikasi yang dapat terjadi antara lain radang paru (pneumonia) dan radang otak (ensefalitis).
“Infeksi campak juga dapat menurunkan sistem kekebalan tubuh sehingga pasien lebih mudah mengalami infeksi sekunder akibat bakteri. Kondisi ini dapat memperburuk keadaan hingga berisiko menyebabkan kematian,” tambahnya.
Aisyah menegaskan bahwa vaksinasi merupakan langkah pencegahan paling efektif terhadap campak. Vaksin campak menggunakan virus hidup yang telah dilemahkan sehingga dapat melatih sistem imun mengenali virus tanpa menimbulkan penyakit.
Setelah vaksin diberikan, tubuh akan membentuk antibodi spesifik serta memori imun jangka panjang. Dengan demikian, ketika seseorang terpapar virus campak, sistem imun dapat merespons lebih cepat dan menetralisir virus sebelum menimbulkan penyakit.
Secara ilmiah, vaksin campak terbukti memiliki efektivitas lebih dari 95 persen setelah dua dosis dan telah digunakan secara luas di berbagai negara selama puluhan tahun dengan profil keamanan yang baik.
Ia juga mengingatkan bahwa anak yang belum atau terlambat mendapatkan imunisasi tetap dapat menerima vaksin melalui program imunisasi kejar atau catch-up vaccination.
“Anak yang belum divaksin merupakan kelompok yang paling rentan tertular. Karena itu, penting bagi orang tua memastikan anak mendapatkan imunisasi campak lengkap,” katanya.
Aisyah mengimbau masyarakat untuk memastikan imunisasi anak terpenuhi, segera melakukan imunisasi kejar jika tertunda, mengenali gejala awal campak, serta mengisolasi pasien yang diduga terinfeksi agar tidak menularkan penyakit kepada orang lain.
“Campak adalah penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin. Dengan cakupan imunisasi yang tinggi dan kesadaran masyarakat yang baik, penyebaran campak dapat dicegah,” ujarnya. (H-4)
Di Indonesia, jadwal imunisasi anak saat ini mengacu pada rekomendasi Kementerian Kesehatan serta panduan terbaru dari IDAI yang diperbarui pada 2024.
Dokter mengingatkan orang tua untuk melengkapi imunisasi anak minimal dua pekan sebelum mudik Lebaran.
Kelengkapan imunisasi sesuai usia merupakan benteng terkuat bagi anak.
Vaksin seperti RSV, hepatitis A, hepatitis B, dengue, serta meningokokus diberikan berdasarkan risiko tertentu.
Difteri masih berbahaya dan bisa muncul diam-diam. Kenali gejala awal, cara penularan, dan risiko fatal penyakit yang sebenarnya dapat dicegah ini.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved