Headline

Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.

Herd Immunity Melemah, IDAI Soroti Lonjakan Kasus Campak

Media Indonesia
01/3/2026 12:36
Herd Immunity Melemah, IDAI Soroti Lonjakan Kasus Campak
Ilustrasi(Dok Freepik)

IKATAN Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyoroti meningkatnya kembali kasus campak di sejumlah wilayah Indonesia yang dikaitkan dengan melemahnya herd immunity atau kekebalan kelompok. Penurunan cakupan imunisasi dasar anak dalam beberapa tahun terakhir dinilai menciptakan celah kekebalan yang signifikan, sehingga memudahkan virus menyebar di komunitas.

Campak merupakan penyakit yang sangat menular dengan angka reproduksi dasar (R0) berkisar 12–18. Artinya, satu penderita dapat menularkan virus kepada belasan orang yang belum memiliki kekebalan. Untuk mencegah wabah, cakupan imunisasi minimal 95% diperlukan agar terbentuk herd immunity yang efektif.

Data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menunjukkan bahwa cakupan imunisasi dasar lengkap nasional sempat mengalami penurunan selama pandemi covid-19. Pada 2021, cakupan imunisasi dasar lengkap berada di kisaran 84%, di bawah target nasional 95%. Penurunan ini menyebabkan meningkatnya jumlah anak yang belum mendapatkan imunisasi campak-rubella (MR) secara lengkap.

Secara global, laporan World Health Organization (WHO) dan UNICEF melalui publikasi WHO/UNICEF Estimates of National Immunization Coverage (WUENIC) mencatat adanya gangguan besar terhadap layanan imunisasi rutin sejak 2020. WHO melaporkan bahwa pada 2022 terdapat sekitar 9 juta kasus campak di dunia dan 128.000 kematian, mayoritas terjadi pada anak-anak. Lonjakan tersebut berkaitan erat dengan penurunan cakupan vaksinasi di berbagai negara.

Di Indonesia, rendahnya imunisasi dipengaruhi sejumlah faktor, antara lain terganggunya layanan kesehatan saat pandemi, distribusi layanan yang belum merata, serta meningkatnya keraguan terhadap vaksin. Kondisi ini memperbesar risiko terjadinya kejadian luar biasa (KLB) campak di daerah dengan cakupan imunisasi rendah.

Campak bukan sekadar penyakit dengan gejala demam dan ruam. Komplikasi serius seperti pneumonia, diare berat, radang otak (ensefalitis), hingga kematian dapat terjadi, terutama pada anak dengan status gizi buruk atau sistem imun yang lemah. Karena itu, imunisasi menjadi strategi pencegahan paling efektif dan berbasis bukti ilmiah.

Pemerintah melalui program Bulan Imunisasi Anak Nasional (BIAN) berupaya mengejar ketertinggalan cakupan vaksinasi dengan menyasar anak usia 9 bulan hingga 12 tahun untuk mendapatkan imunisasi tambahan. Upaya ini ditujukan untuk menutup kesenjangan kekebalan yang terbentuk dalam beberapa tahun terakhir.

Para pakar kesehatan anak menekankan bahwa tanpa konsistensi dalam imunisasi rutin dan peningkatan cakupan hingga di atas 95%, risiko lonjakan kasus campak akan tetap ada. Penguatan kembali herd immunity menjadi kunci untuk mencegah wabah berulang dan melindungi generasi anak Indonesia dari penyakit yang sebenarnya dapat dicegah. (E-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri yuliani
Berita Lainnya