Rabu 01 Maret 2023, 12:45 WIB

Sarapan tidak Boleh Hanya Asal Kenyang

Basuki Eka Purnama | Humaniora
Sarapan tidak Boleh Hanya Asal Kenyang

Freepik
Ilustrasi

 

DOKTER spesialis gizi klinik Juwalita Surapsari mengingatkan bahwa sarapan tidak boleh hanya asal kenyang namun juga harus memperhatikan nutrisi mulai dari karbohidrat, protein hewani, protein nabati, lemak, serta sayur dan buah sesuai prinsip Isi Piringku.

"Konsepnya adalah gizi seimbang atau balanced diet," kata lulusan Ilmu Gizi Klinik Universitas Indonesia itu dalam sebuah acara temu media di Jakarta, Selasa (28/2).

Juwalita menjelaskan gizi seimbang untuk anak-anak tentu berbeda dengan orang dewasa. Anak-anak membutuhkan lebih banyak karbohidrat, berbeda dengan orang dewasa yang lebih banyak membutuhkan protein.

Baca juga: Pentingnya Sarapan yang Bernutrisi Sejak Dini, Ini Kata Pakar

"Kalau anak-anak itu memang komposisi karbohidratnya lebih banyak karena mereka butuh energi lebih banyak untuk aktivitas harian mereka yang sangat banyak," ujarnya.

Menurut Juwalita, menu sarapan tidak harus selalu berisi nasi sebagai sumber karbohidrat dan ayam sebagai sumber protein hewani. Namun, orangtua juga dapat melakukan berbagai kreasi menu sarapan bergizi.

"Karbohidratnya bisa kita variasikan, tidak hanya nasi tapi bisa juga roti, karena ini juga mudah di pagi hari. Proteinnya bisa pakai telur, dan sayuran juga bisa kita masukkan dan kita bikin omelette. Lalu, dibikin seperti sandwich," katanya.

Juwalita mengatakan, dalam mempersiapkan menu sarapan, perlu juga  memperhatikan kandungan garamnya. Ingat, batasan garam atau natrium per hari untuk anak usia empat sampai delapan tahun adalah 1.200 miligram atau 3 gram garam, setara dengan setengah sendok teh.

Sedangkan pada orang dewasa, batasan per harinya adalah 2.000 miligram natrium atau 5 gram garam, setara dengan satu sendok teh.

Juwalita juga mengingatkan bahwa menu sarapan sebaiknya bervariasi agar semua nutrisi bisa terpenuhi terutama vitamin dan mineral. Terutama anak-anak, saat mengonsumsi bahan makanan olahan, ia menganjurkan agar tidak hanya terpapar dengan satu jenis rasa.,

"At some point, kadang-kadang anak menjadi sulit beradaptasi dengan makanan di sekelilingnya. Kalau dia terbiasa makan gurih terus, lalu dia harus ke luar rumah dan makan di tempat lain, dia akan cari terus makanan yang biasa dia makan, dia akan kesulitan," katanya.

Adapun waktu sarapan terbaik, menurut Juwalita, adalah maksimal dua jam setelah bangun tidur. Sebab, jika ditunda atau bahkan melewatkan sarapan, dapat menimbulkan berbagai dampak negatif bagi tubuh. (Ant/OL-1)

Baca Juga

Dok. Ist

Ternyata Kaum Hawa Lebih Rentan Terjerat Pinjol

👤Dinda shabrina 🕔Rabu 22 Maret 2023, 17:08 WIB
Perempuan amat rentan masuk ke dalam jebakan pinjaman online kerena adanya ketimpangan...
DOK. DOMPET DHUAFA

Dompet Dhuafa Lepas 24 Dai Ambassador Ke 14 Negara Selama Ramadan

👤M. Iqbal Al Machmudi 🕔Rabu 22 Maret 2023, 17:00 WIB
Program dakwah yang dijalankan selama satu bulan di mancanegara itu diharapkan mampu menyebarkan nilai-nilai Islam yang rahmatan lil...
Ist

Kanusaba Lestarikan Tenun dan Batik Sekaligus Dukung UMKM

👤mediaindonesia.com 🕔Rabu 22 Maret 2023, 16:39 WIB
Sejumlah daerah di Indonesia memiliki motif dan teknik pembuatan yang berbeda-beda, misalnya tenun ikat dari Nusa Tenggara Timur, Songket...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya