Headline
BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.
BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.
Kumpulan Berita DPR RI
DOKTER spesialis gizi klinik Juwalita Surapsari mengingatkan bahwa sarapan tidak boleh hanya asal kenyang namun juga harus memperhatikan nutrisi mulai dari karbohidrat, protein hewani, protein nabati, lemak, serta sayur dan buah sesuai prinsip Isi Piringku.
"Konsepnya adalah gizi seimbang atau balanced diet," kata lulusan Ilmu Gizi Klinik Universitas Indonesia itu dalam sebuah acara temu media di Jakarta, Selasa (28/2).
Juwalita menjelaskan gizi seimbang untuk anak-anak tentu berbeda dengan orang dewasa. Anak-anak membutuhkan lebih banyak karbohidrat, berbeda dengan orang dewasa yang lebih banyak membutuhkan protein.
Baca juga: Pentingnya Sarapan yang Bernutrisi Sejak Dini, Ini Kata Pakar
"Kalau anak-anak itu memang komposisi karbohidratnya lebih banyak karena mereka butuh energi lebih banyak untuk aktivitas harian mereka yang sangat banyak," ujarnya.
Menurut Juwalita, menu sarapan tidak harus selalu berisi nasi sebagai sumber karbohidrat dan ayam sebagai sumber protein hewani. Namun, orangtua juga dapat melakukan berbagai kreasi menu sarapan bergizi.
"Karbohidratnya bisa kita variasikan, tidak hanya nasi tapi bisa juga roti, karena ini juga mudah di pagi hari. Proteinnya bisa pakai telur, dan sayuran juga bisa kita masukkan dan kita bikin omelette. Lalu, dibikin seperti sandwich," katanya.
Juwalita mengatakan, dalam mempersiapkan menu sarapan, perlu juga memperhatikan kandungan garamnya. Ingat, batasan garam atau natrium per hari untuk anak usia empat sampai delapan tahun adalah 1.200 miligram atau 3 gram garam, setara dengan setengah sendok teh.
Sedangkan pada orang dewasa, batasan per harinya adalah 2.000 miligram natrium atau 5 gram garam, setara dengan satu sendok teh.
Juwalita juga mengingatkan bahwa menu sarapan sebaiknya bervariasi agar semua nutrisi bisa terpenuhi terutama vitamin dan mineral. Terutama anak-anak, saat mengonsumsi bahan makanan olahan, ia menganjurkan agar tidak hanya terpapar dengan satu jenis rasa.,
"At some point, kadang-kadang anak menjadi sulit beradaptasi dengan makanan di sekelilingnya. Kalau dia terbiasa makan gurih terus, lalu dia harus ke luar rumah dan makan di tempat lain, dia akan cari terus makanan yang biasa dia makan, dia akan kesulitan," katanya.
Adapun waktu sarapan terbaik, menurut Juwalita, adalah maksimal dua jam setelah bangun tidur. Sebab, jika ditunda atau bahkan melewatkan sarapan, dapat menimbulkan berbagai dampak negatif bagi tubuh. (Ant/OL-1)
Sarapan sering dianggap sebagai fondasi penting untuk memulai hari. Namun, dibalik kepraktisannya, ada sejumlah menu sarapan yang populer namun berisiko bagi kesehatan ginjal.
Penelitian menunjukkan bahwa kebiasaan ini berkaitan dengan gangguan metabolisme, penurunan fungsi otak. Serta dapat meningkatnya risiko penyakit jantung.
Shakira Aminah mengatakan kesehatan dan gizi adalah kunci agar anak dapat berprestasi.
Sarapan adalah waktu makan yang sangat penting, terutama bagi mereka yang ingin menjaga kestabilan kadar gula darah.
Sebuah studi terbaru yang dipublikasikan di Journal of Nutrition, Health and Aging menemukan bahwa sarapan sehat berperan penting dalam menurunkan risiko penyakit kardiovaskular.
Pengaturan waktu sarapan dan olahraga pagi sebaiknya disesuaikan dengan tujuan dari latihan fisik yang akan dijalani.
Kondisi emosional adalah faktor penentu utama kemampuan anak dalam menyerap pelajaran.
Pengenalan puasa yang dilakukan dengan paksaan berisiko menimbulkan tekanan emosional yang berdampak negatif pada kesehatan mental anak.
Orangtua juga diminta mewaspadai Bahan Tambahan Pangan (BTP) seperti pewarna atau penyedap rasa yang sering ditambahkan ke dalam makanan.
Anak-anak harus dibekali dengan kemampuan untuk bersikap asertif. Hal ini bertujuan agar anak mampu menjaga batasan dirinya dalam relasi sosial.
Reaksi pertama orangtua saat mengetahui anak mereka dirundung akan sangat menentukan proses pemulihan mental sang anak.
Kesalahan nutrisi sering kali terjadi karena ketidaktahuan orangtua yang menganggap pola makan anak saat ini sebagai hal yang wajar.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved