Headline
Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.
Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.
Kumpulan Berita DPR RI
DOKTER dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Melanie Yudiana Iskandar membagikan kiat-kiat agar tidak gampang sakit, di antaranya dengan disiplin memakai masker hingga tetap aktif bergerak meski hanya di rumah seharian.
"Yang dulu kita terapkan selama pandemi, ya kalau bisa sekarang pun masih tetap harus diterapkan, Tetap gunakan masker," kata Melanie, dikutip Jumat (24/2).
"Untuk bayi, anak kecil yang belum bisa pakai masker, ya jangan terlalu sering dibawa ke tempat umum yang ramai. Kalau mau dibawa ke luar, pergilah outdoor, cari sinar matahari. Cari juga waktu yang memang tidak sedang ramai-ramainya, jangan di mal lagi ramai-ramainya malah di bawa ke sana," sambungnya.
Baca juga: Masyarakat Diingatkan Waspadai Penyakit di Musim Pancaroba
Anggota Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) itu melanjutkan asupan makronutrien juga sangat dibutuhkan untuk memperkuat imunitas.
"Karbohidrat, protein hewani, lemak, tentunya dengan ditunjang mineral dan vitamin dari sayur dan buah," ujar Melanie.
Menurut Melanie, mengonsumsi suplemen vitamin tidak diperlukan selama porsi makan sehari-hari mengandung gizi yang seimbang, sebab sumber terbaik vitamin adalah dari makanan yang dikonsumsi.
Untuk anak, kata Melanie, orangtua memiliki tugas penting untuk mengenalkan segala jenis makanan agar anak mendapatkan semua nutrisi yang dibutuhkan.
Lebih lanjut, Melanie menambahkan, istirahat cukup selama 7 hingga 8 jam juga tidak kalah penting. Kemudian, usahakan untuk tetap beraktivitas meski seharian hanya menghabiskan waktu di rumah.
"Setidaknya 1-2 jam per hari harus bergerak, mau gerak apa saja boleh, enggak masalah. Kalau memang mataharinya terang, mau jalan pagi, berenang, main basket, sepak bola, silakan," ujarnya.
"Tapi kalau misalnya lagi hujan, cari kegiatan di dalam rumah. Misalnya kalau anak-anak balita, orangtua bisa bikin permainan seru seperti bikin rintangan-rintangan pakai bantal lalu masuk dalam kolong. Apa saja, seru-seruan saja di rumah," lanjut dia.
Sementara itu, dokter dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Kencana Madeleine Ramdhani Jasin menambahkan, menjaga higienitas diri dan lingkungan juga penting untuk mencegah penyakit di musim pancaroba.
"Rajin cuci tangan dan jaga kebersihan lingkungan, misalnya pastikan tidak ada genangan air. Lalu lengkapi juga vaksinasi anak sesuai usia, aktivitas fisik yang cukup, dan segera ke fasilitas kesehatan apabila ada tanda bahaya," kata Madeleine. (Ant/OL-1)
Penderita diabetes umumnya menunjukkan empat gejala utama yang saling berkaitan, atau yang sering disebut sebagai gejala klasik 4P.
Stimulasi 40Hz setiap hari mampu menjaga fungsi kognitif pasien, bahkan menurunkan biomarker utama penyakit Alzheimer.
Memasuki tahun 2026, data menunjukkan pergeseran tren medis yang mengkhawatirkan: lonjakan signifikan kasus diabetes tipe 2 pada kelompok usia 20 hingga 30 tahun (Gen Z).
Perkembangan janin yang tidak sempurna hingga memicu PJB dipengaruhi oleh berbagai faktor risiko dari sisi kesehatan orang tua maupun lingkungan.
Stroke yang dipicu oleh fibrilasi atrium cenderung lebih berat dibandingkan stroke pada umumnya.
Keempat penyakit tersebut adalah Avian Influenza (flu burung), Middle East Respiratory Syndrome Corona Virus (MERS-CoV), Super Flu, dan infeksi virus Nipah.
Sekitar 19 persen orang mengalami kenaikan berat badan saat Ramadan akibat pola makan berlebih saat berbuka.
Secara medis, perut kembung disebabkan oleh penumpukan gas di saluran pencernaan.
Di tengah antusiasme menjalankan ibadah puasa, masyarakat diingatkan untuk tetap memperhatikan pola makan, khususnya dalam mengonsumsi asupan manis saat berbuka.
Kebiasaan menyimpan makanan sisa yang sudah matang sempurna untuk kemudian dipanaskan kembali adalah praktik yang kurang baik bagi kesehatan dan kualitas nutrisi.
Masyarakat diingatkan untuk memperhatikan asupan mikronutrien guna menjaga daya tahan tubuh, terutama karena Ramadan tahun ini diprediksi bertepatan dengan musim hujan.
Mahasiswa tetap bisa memenuhi kebutuhan gizi meski dengan anggaran terbatas.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved