Headline

Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.

Tips dari Ahli Gizi: Simpan Masakan di Awal Proses untuk Jaga Nutrisi

Basuki Eka Purnama
23/1/2026 20:00
Tips dari Ahli Gizi: Simpan Masakan di Awal Proses untuk Jaga Nutrisi
Ilustrasi(ANTARA/Iggoy el Fitra)

MENYIMPAN makanan untuk dikonsumsi kembali di kemudian hari sering kali menjadi solusi praktis bagi masyarakat modern. Namun, metode penyimpanan yang salah justru berisiko merusak kandungan gizi. 

Ahli gizi Dr. Rita Ramayulis, DCN, M.Kes, menyarankan agar pemisahan makanan yang akan disimpan dilakukan sejak awal proses memasak, bukan menunggu makanan menjadi sisa.

Menurut Rita, kebiasaan menyimpan makanan sisa yang sudah matang sempurna untuk kemudian dipanaskan kembali adalah praktik yang kurang baik bagi kesehatan dan kualitas nutrisi.

“Kalau kita ingin menyimpan makanan, sebaiknya itu dilakukan di awal. Maksudnya bukan makanan sisa yang disimpan lalu dipanaskan, nah itu enggak terlalu baik,” ujar Rita, dikutip Jumat (23/1).

Strategi Tahap Kalio dan Titik Didih

Dalam penjelasannya, Ketua Pengurus Pusat Indonesian Sport Nutritionist Association (PP ISNA) periode 2019-2024 ini mencontohkan pengolahan menu populer seperti rendang dan opor. 

Untuk rendang, Rita menyarankan agar proses pemisahan dilakukan saat masakan masih dalam tahap kalio atau setengah jadi.

“Bisa disisihkan terlebih dahulu untuk disimpan, sisanya dilanjutkan proses masaknya hingga menjadi rendang. Kalau ini kemudian sudah habis, maka yang kalio itu yang dibekukan dalam bentuk kalio itu bisa direndangkan lagi. Jadi satu kali proses pemasakan gitu,” imbuhnya.

Logika serupa berlaku untuk masakan bersantan lainnya seperti opor. Rita menyarankan agar porsi yang akan disimpan segera dipisahkan begitu masakan mencapai satu kali titik didih. 

Dengan cara ini, makanan tidak mengalami proses pemanasan yang terlalu lama sebelum disimpan ke dalam lemari pendingin.

Menyimpan opor yang baru melewati satu kali titik didih dinilai jauh lebih aman ketika nantinya dipanaskan ulang untuk disajikan. Strategi ini menjadi kunci utama untuk meminimalisir kerusakan struktur gizi dalam makanan.

Risiko Pemanasan Berulang

Lebih lanjut, Rita mengingatkan bahwa durasi memasak memiliki korelasi langsung dengan kualitas gizi. Rendang, misalnya, melalui proses panjang dengan suhu tinggi yang berisiko memicu pembentukan senyawa kimia tertentu jika dipanaskan berulang kali dalam kondisi sudah matang sempurna.

Meskipun santan mengandung lemak MCT (Medium Chain Triglycerides) yang tergolong stabil, paparan panas yang berlebihan tetap menjadi ancaman.

“Kalau dalam proses awal aja udah dipanaskan lama seperti pembuatan rendang, ketika dipanaskan berulang tentu sudah makin memicu terjadinya kerusakan zat gizi. Tapi dengan menggunakan santan dipanaskan berupa misalnya sayur lodeh itu kan hanya dipanaskan sebentar, hanya satu kali titik didih. Itu masih boleh untuk dipanaskan ulang masih tidak merusak,” jelas lulusan Universitas Indonesia tersebut.

Melalui langkah sederhana ini, masyarakat diharapkan dapat lebih bijak dalam memisahkan porsi konsumsi harian dengan porsi stok makanan guna memastikan asupan gizi keluarga tetap optimal. (Ant/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya