Minggu 04 September 2022, 06:30 WIB

Deteksi Dini Tingkatkan Peluang Sembuh Pasien Kanker Paru

Basuki Eka Purnama | Humaniora
Deteksi Dini Tingkatkan Peluang Sembuh Pasien Kanker Paru

MI
Grafis data dan fakta seputar kanker paru

 

KETUA Umum Yayasan Kanker Indonesia Prof Aru Wisaksono Sudoyo mengatakan, awalnya, gejala kanker paru kerap tidak terdeteksi sehingga penting mendeteksi dini kanker agar peluang sembuh kian besar.

"Gejala pada kanker paru sering kali tidak nampak pada stadium awal. Data saat ini menunjukkan 60% pasien kanker paru datang di stadium lanjut," kata Aru di webinar kesehatan, dikutip Minggu (4/9).

Ia menjelaskan, sering kali kanker paru memiliki gejala yang serupa dengan penyakit umum lainnya seperti TBC. Karenanya, penting bagi masyarakat untuk meningkatkan pengetahuan tentang faktor risiko, gejala, dan perawatan yang tersedia termasuk perawatan inovatif terkini sebagai harapan baru bagi pengobatan kanker paru.

Baca juga: Imunoterapi Bisa Tingkatkan Angka Harapan Hidup Pasien Kanker

Angka kematian akibat kanker paru kurang dari satu tahun di Indonesia terus meningkat sejak data Globocan 2018, padahal angka kematian akibat kanker paru untuk wilayah Asia secara keseluruhan justru mengalami penurunan sebanyak 3%.

Gejala awal kanker paru dapat berupa batuk terus-menerus, nyeri dada yang memburuk bersama pernapasan dalam, batuk, atau tertawa, suara serak atau sesak napas, penurunan berat badan dan kehilangan nafsu makan, batuk darah atau dahak yang berwarna karat, mudah lelah juga infeksi persisten, seperti bronkitis dan pneumonia.

Bila sudah berlanjut, seseorang akan merasakan nyeri tulang terutama di bagian punggung atau pinggul, mengalami perubahan neurologis seperti sakit kepala, kelemahan atau mati rasa dari tangan atau kaki, pusing, masalah keseimbangan atau kejang. 

Gejala lanjutan juga berupa penyakit kuning serta pembengkakan kelenjar getah bening.

Menurut Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) 2018, angka kejadian kanker atau prevalensi di Indonesia meningkat mencapai 30% sejak 2013 hingga 2018, sementara 58% prevalensi berada di kota-kota besar.

Adapun 85% sampai 95% kanker paru adalah dari jenis kanker paru-paru bukan sel kecil atau disebut juga dengan kanker sel gandum, terdiri atas 10% hingga 15% dari seluruh jenis kanker paru dengan sifat cenderung menyebar dengan cepat.

Aru menambahkan, kanker paru adalah jenis kanker yang kejadiannya paling tinggi pada laki-laki di Indonesia. Sebab, 95% kanker paru adalah akibat lingkungan serta gaya hidup, dan kebiasaan merokok -dalam hal ini Indonesia menempati posisi nomor satu dalam jumlah perokok laki dewasa di dunia- serta polusi sekitar yang tinggi.

Para perokok disarankan berhenti merokok secara total, bukan bertahap, untuk mengurangi risiko terkena kanker. Sebab, konsumsi rokok terlepas dari jumlahnya sedikit atau banyak tetap menimbulkan risiko penyakit yang sama. 

Gaya hidup sehat, mengurangi stres, rajin berolahraga sesederhana berjalan kaki 15 menit serta menjaga pola makan agar berat badan tetap ideal bisa mengurangi risiko kanker. (Ant/OL-1)

Baca Juga

MI/HARYANTO

Undip Kukuhkan 11 Guru Besar

👤Haryanto 🕔Rabu 28 September 2022, 23:30 WIB
Acara pengukuhan 11 Guru Besar ini dilaksanakan dalam empat tahap selama empat hari, mulai 27-30 September...
ANTARA

Sertifikasi Jadi Penyebab Rendahnya Jumlah Guru Untuk Anak Berkebutuhan Khusus

👤Faustinus Nua 🕔Rabu 28 September 2022, 22:44 WIB
Kebutuhan guru untuk anak berkebutuhan khusus (ABK) masih jauh dari...
BPMI Setpres

Hari Ini, 23.508 Terima Vaksinasi Kedua

👤MGN 🕔Rabu 28 September 2022, 21:56 WIB
Total 171.140.621 orang telah menerima vaksin lengkap per Rabu...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya