Senin 31 Januari 2022, 10:06 WIB

KPAI : Psikolog Perlu Ada Di Tiap Daerah

Mohamad Farhan Zhuhri | Humaniora
KPAI : Psikolog Perlu Ada Di Tiap Daerah

ANTARA/SYIFA YULINNAS
Aksi Gerakan Ibu Mencari Keadilan berunjuk rasa di halaman kantor Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA), Banda Aceh, Kamis (23/12/2021).

 

PENANGANAN kasus kekerasan seksual pada perempuan dan anak yang kerap terjadi saat ini banyak terhambat pada persoalan pendampingan untuk para korban. Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indoneisa (KPAI), Retno Listyarti mengatakan fasilitas dan sumber daya manusia untuk pelayanan psikologi di daerah kerap terbatas.

“Kalau di suatu daerah tak ada psikolog, biasanya akan ditangani pekerja sosial dari dinas sosial,” ujarnya saat dihubungi Media Indonesia, Minggu (30/1)

Menurutnya, saat kasus kekerasan dilaporkan ke kepolisian, maka korban wajib didampingi orangtua dan psikolog. Selanjutnya, psikolog/pekerja sosial akan melalukan asesemen terlebih dahulu pada si korban

Baca jugaBMKG Imbau Masyarakat Waspada Gelombang Tinggi 6 Meter di Perairan Indonesia

Baca jugaRaker FKIP se Indonesia di UNS Sepakati Guru Harus Kuat Literasi

“Hasil asesemen akan menunjukkan seberapa pendampingan atau rehabilitasi psikologi akan dilakukan. Kalau kekerasan seksual, biasanya panjang dan lama rehab psikologinya,” jelasnya.

Ia berharap di setiap daerah memiliki rumah aman dan sdm di bidang layanan psikolog, “Ya ada psikolog di semua daerah, sementara psikolog adanya di kota kota,” ungkap Retno.

Terpisah, Pengamat Sosial Rissalwan Habdy Lubis mengatakan, saat ini modus kekerasan seksual semakin meluas dan bervariasi. dirinya menjelaskan, dengan adanya media sosial (medsos) dan interkasi digital tanpa batas, medsos sangat efektif untuk memancing korban kekerasan seksual baru.

“Bahkan menjadi media yang mendorong netizen semakin berani untuk menabrak norma-norma asusila,” ungkapnnya saat dihubungi.

Selain itu dirinya juga menyangkan ketika kasus sudah dibawa ke penegak hukum, kemampuan aparatur penegak hukum yang masih lemah dan masih dibayangi budaya patriarki yang sangat kuat.

“Korban kekerasan seksual yang melapor ke polisi misalnya, masih saja tidak dipahami trauma psikologisnya, meskipun sudah ada unit PPA, tetap saja tidak efektif dalam memberikan layanan pengaduan berperspektif korban traumatik seperti korban kekerasan seksual,” jelas pengamat sosial dari Univeritas Indonesia tersebut. (H-3)

Baca Juga

Ist

Oppo Rayakan Hari Kemerdekaan RI dalam Pameran 77 Portrait Anak Bangsa

👤mediaindonesia.com 🕔Senin 15 Agustus 2022, 19:46 WIB
Kampanye ini terdiri dari pameran foto dan video portrait dari 77 tokoh muda Indonesia yang berkontribusi terhadap kemajuan Indonesia...
ANTARA FOTO/Agha Yuninda

Kesadaran Prokes Pengelola Ruang Publik Melempem

👤Mediaindonesia 🕔Senin 15 Agustus 2022, 19:35 WIB
Penurunan kepatuhan protokol kesehatan nampak dari banyak tempat wisata yang tidak lagi secara cermat memeriksa hasil check in melalui...
Antara

DPR: Kurikulum Merdeka Diharapkan Jadi Solusi Kualitas Pendidikan

👤M. Iqbal Al Machmudi 🕔Senin 15 Agustus 2022, 18:54 WIB
Perubahan yang holistik dalam Kurikulum Merdeka diharapkan berjalan berkelanjutan. Sehingga, tidak perlu lagi ada pergantian kurikulum...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya