Headline
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Kumpulan Berita DPR RI
SETIAP anak memilki potensi kecerdasan intelektual (IQ) dan kecerdasan emosional (EQ). Untuk tumbuh dan berkembang menjadi anak hebat, dibutuhkan stimulasi yang tepat dan seimbang bagi si kecil, baik pada aspek IQ yang berhubungan dengan daya pikir maupun EQ yang berhubungan dengan rasa peduli.
Untuk tumbuh kembang si kecil sangat membutuhkan sebuah wahana permainan edukatif dan interaktif untuk berbagi inspirasi tentang pentingnya pengembangan rasa peduli seiring daya pikir untuk mendorong si kecil menjadi anak hebat.
Deska Hapsari Nugrahaini selaku Brand Head Bebelac mengatakan,“Kami percaya bahwa rasa peduli dapat mendukung daya pikir Si Kecil berkembang lebih baik untuk mencari solusi atas masalah yang ada disekitarnya.”
“Apabila rasa peduli anak berkembang seiring daya pikirnya, ia akan tumbuh menjadi anak hebat yang memiliki rasa peduli, cepat tanggap, dan tanggap bersosialisasi dalam menghadapi lingkungannya,” kata Deska saat membuka wahana permainan edukatif Bebelacland di Summarecon Mall Bekasi, Bekasi, pada Minggu (8/9).
Bekerja sama dengan Psikolog Anak Roslina Verauli, M.Psi. wahana permianan tesrebut menyajikan 15 permainan edukasi dalam tiga area besar, yaitu BebeTown, BebeSea, dan BebeForest.
Melalui pengalaman interaktif di Bebeland, diharapkan orang tua dapat berperan lebih aktif dalam mengembangkan aspek kecerdasan emosi dan kecerdasan intelektual anak di usia satu tahun ke atas yang saatnya berbagai aspek kecerdasan si kecil berkembang dengan sangat pesat.
Sebagai ahli yang berperan besar dalam pengembangan permainan edukatif, psikolog anak, Roslina Verauli, M.Psi, Psi. menekankan bahwa dengan empati dan rasa peduli, si kecil mampu merasakan apa yang dirasakan orang lain, bersimpati, hingga melihat dan berusaha menyelesaikan masalah dari sudut pandang orang lain.
“Dengan mengembangkan rasa peduli, si kecil mampu memiliki perilaku prososial, yaitu perilaku membantu orang lain tanpa pamrih,” kata Verauli.
“Hal inilah yang perlu diasah sejak dini seiring dengan kemampuan daya piker si kecil, agar si kecil mampu menyikapi sebuah permasalahan serta memberikan solusi yang tepat dan penuh empati,” jelas Verauli.
Terkait cara orang tua mengasah rasa peduli dan daya pikir si kecil sejak dini, Verauli menambahkan, “Mengasah rasa peduli dapat dilakukan orang tua sejak dini sesuai dengan tahapan tumbuh kembang anak dengan stimulasi yang bervariasi.”
“Dimulai pada usia 1-2 tahun, 3-4 tahun, 5-6 tahun, hingga usia 7 tahun ke atas. Pada usia 3-4 tahun, misalnya, ajak anak untuk membantu atau menolong orang lain,” kata Verauli.
“Saat anak berusia 5-6 tahun, libatkan si kecil dalam ‘emotional talk’ di mana mereka bisa menyampaikan apa yang mereka rasakan dan berikan pujian dan penghargaan untuk setiap hal baik yang mereka lakukan,” paparnya.
Di kesempatan yang sama, Jonathan Frizzy bersama istrinya sebagai orang tua dari tiga orang anak menyampaikan keinginannya untuk membesarkan anak hebat.
“Sebagai orang tua, saya sadar bahwa pada usia di atas satu tahun, kemampuan daya pikir, intelektual, emosi dan sosial berkembang sangat pesat. Pada masa inilah saat yang tepat bagi saya sebagai orang tua memperhatikan asupan nutrisi anak agar ia dapat tanggap secara intelektual, emosi, dan sosial,” kata Jonathan. (OL-09)
Abidin juga meminta Kemenag segera membenahi validitas data guru madrasah, baik melalui mekanisme PPPK, ASN, maupun inpassing.
Presiden Prabowo Subianto menggelar pertemuan khusus dengan sejumlah menteri Kabinet Merah Putih di kediamannya di Hambalang, Bogor, Jawa Barat, Selasa (27/1).
Provinsi-provinsi di kawasan timur Indonesia masih mendominasi angka pernikahan dini tertinggi secara nasional, meski secara umum prevalensi pernikahan anak di Indonesia terus menurun.
Mereka kehilangan rasa aman, rutinitas harian, akses belajar, serta dukungan emosional yang esensial bagi perkembangan mereka.
LEDAKAN teknologi digital telah menyusup ke setiap sudut kehidupan anak-anak Indonesia, membawa kemudahan sekaligus ancaman diam-diam: krisis gaya hidup pasif.
WAKIL Ketua MPR RI Lestari Moerdijat, mengatakan peran generasi muda sangat dibutuhkan dalam upaya membangun ekosistem pendidikan yang inklusif dan berkelanjutan.
Minat makan anak sangat dipengaruhi oleh pengalaman sensorik, termasuk variasi rasa dan aroma.
Udara malam yang dingin dikombinasikan dengan paparan polusi udara dapat merusak sistem pernapasan anak yang masih dalam masa pertumbuhan.
Pemilihan alas kaki seharusnya mengutamakan kenyamanan anak di atas fungsi korektif yang belum tentu diperlukan.
Asupan gula berlebih bukan sekadar masalah kalori, melainkan ancaman bagi metabolisme anak yang masih dalam tahap perkembangan.
Jika kadar vitamin D rendah, kalsium yang seharusnya menjadi struktur utama kekuatan tulang tidak dapat terserap maksimal oleh tubuh.
Kandungan gula yang disamarkan ini sering ditemukan pada jenis makanan ultraprocessed food (UPF).
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved