Headline

Buka puasa bersama bukan sekadar rutinitas seremonial.

Pulanglah dari Methosa, Ruang Teduh bagi Jiwa yang Lelah di Tengah Ambisi

Basuki Eka Purnama
22/2/2026 14:03
Pulanglah dari Methosa, Ruang Teduh bagi Jiwa yang Lelah di Tengah Ambisi
Methosa(MI/HO)

DI tengah narasi besar tentang kemajuan dan tuntutan untuk selalu bahagia, sering kali terselip kegelisahan yang terpendam. 

Banyak individu merasa tertekan oleh standar keberhasilan yang sempit, di mana kekalahan dalam karier atau relasi dianggap sebagai kegagalan fatal. Fenomena ini jarang mendapatkan ruang untuk diakui, membuat banyak orang merasa terasing dan harus memendam perjuangannya seorang diri.

Menanggapi realitas emosional tersebut, grup musik Methosa merilis karya berjudul Pulanglah. 

Lagu ini hadir bukan sebagai pemberi solusi instan, melainkan sebagai ruang untuk menarik napas dan tempat berefleksi bagi mereka yang sedang berjuang melawan kelelahan emosional.

Pulanglah dirancang untuk menjadi teman bagi siapa pun yang sedang terpuruk dalam perjalanannya. 

Melalui lagu ini, Methosa ingin menyampaikan bahwa hidup tidak melulu soal menang atau kalah, melainkan tentang bagaimana seseorang menjalani dan bertahan. 

Di saat dua sukma dalam diri manusia sedang berdiskusi atau mungkin berseteru, lagu ini hadir untuk meneduhkan suasana.

"Lagu Pulanglah justru memilih dirinya untuk menjadi teman. Saat dua sukma dalam diri manusia sedang berdiskusi atau mungkin berseteru, 'Pulanglah' yang berusaha meneduhkan suasana dan menyarankan untuk mengambil waktu agar keputusan yang ditempuh di depan tidak keliru," ungkap pihak Methosa.

Menurut Methosa, mengakui kekalahan adalah bagian dari dinamika hidup yang patut dirayakan, sebagaimana kita merayakan kemenangan. 

Tekanan untuk selalu tampil kuat dan tidak mengeluh sering kali membuat individu lupa bahwa ada tempat-tempat yang aman untuk melepas beban, baik itu rumah, Tuhan, maupun sahabat.

Karya ini didedikasikan bagi setiap jiwa yang berani mengakui kekalahan dan siap untuk bangkit kembali. 

Lagu ini merupakan pengingat bagi setiap insan agar tahu di mana 'rumah' mereka berada—sebuah tempat untuk bercerita, berdiskusi, hingga sekadar menangis untuk melepaskan segala sesak.

Lebih dari sekadar suguhan musikal, Pulanglah adalah ajakan untuk menjadi adil terhadap diri sendiri. Methosa menekankan bahwa dinamika antara jatuh dan bangun adalah pertanda nyata bahwa kita sedang hidup sepenuhnya.

"Semoga setiap jiwa yang berjuang untuk orang-orang yang mereka kasihi selalu didukung dan didoakan juga oleh orang-orang yang mengasihi mereka. Kita pasti tahu bagaimana cara merayakan kemenangan, mari menjadi adil dengan berani merayakan dan menikmati kekalahan," tutup Methosa dalam pesannya.

Melalui Pulanglah, pendengar diajak untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk kehidupan, kembali ke rumah, dan menemukan ketenangan di tengah perjalanan yang mungkin melelahkan. (Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya