Headline

Prabowo kembali gelar rapat terbatas bahas dampak perang di wilayah Timur Tengah.

Eksplorasi Patah Hati dan Inspirasi Silent Hill dalam Single Terbaru Shye, I Always Knew

Basuki Eka Purnama
11/3/2026 15:25
Eksplorasi Patah Hati dan Inspirasi Silent Hill dalam Single Terbaru Shye, I Always Knew
Shye(MI/HO)

PENYANYI, penulis lagu, sekaligus produser berbakat asal Singapura, Shye, kembali menyapa pendengarnya dengan karya terbaru. 

Pada Jumat (6/3) lalu, ia resmi merilis single bernuansa dream-pop bertajuk I Always Knew. 

Perilisan ini bukan sekadar peluncuran lagu tunggal, melainkan sebuah pembuka jalan menuju album terbarunya yang sangat dinantikan, The Doves Came Home.

Dalam I Always Knew, Shye membedah sebuah kesadaran pahit tentang hubungan manusia. Lagu ini menyoroti momen ketika seseorang menyadari bahwa mengajukan sebuah pertanyaan jujur justru berisiko menyakiti orang yang dicintai. Alih-alih bersuara, pilihan untuk diam menjadi jangkar emosional yang membuat perasaan seolah lumpuh dan menciptakan jarak yang tak terhindarkan.

Bagi Shye, lagu ini bukan tentang ledakan emosi yang instan, melainkan sebuah degradasi hubungan yang terjadi secara bertahap. 

"Rasa patah hati yang dibicarakan di lagu ini sifatnya bukanlah sebuah momen yang tiba-tiba, namun sebuah proses perlahan yang bergerak menuju sebuah akhir," ujar Shye mengenai makna di balik karyanya tersebut.

Secara teknis musikal, Shye tetap mempertahankan ciri khasnya dengan membiarkan nuansa musik mendikte perasaan pendengar. 

I Always Knew dibalut dengan tekstur dream-pop yang kental dengan sentuhan shoegaze. 

Pada bagian chorus, pendengar akan disambut dengan permainan gitar dan distorsi lembut yang menciptakan semesta musik bervariasi. 

Penggunaan aksen melodi yang repetitif juga sengaja dihadirkan untuk memperkuat sensasi terjebak dalam siklus emosional yang berulang.

Hal yang paling menarik dari proses kreatif lagu ini adalah pengaruh dari dunia gim video. Shye mengakui bahwa gim Silent Hill menjadi inspirasi utamanya. 

Ia mengambil tiga elemen kunci dari gim tersebut: kabut yang mencekam, musik ambient, dan looping repetition. Ketiganya dilebur menjadi metafora kuat untuk ruang mental yang penuh pengabaian, sebuah kondisi yang harus dihadapi demi mencapai penyelesaian batin.

Pada bagian klimaks, Shye mengambil pendekatan vokal yang berbeda. Suaranya menyatu dengan efek reverb dan delay, menciptakan kesan jarak yang mencerminkan pergulatan batin. 

Melalui lagu ini, ia berharap pendengar bisa lebih berani berdialog dengan rasa tidak nyaman.

"Aku harap lagu ini dapat mengajak para pendengarnya untuk duduk bersama perasaan tidak nyaman ini, daripada harus mengabaikannya. Niatnya bukan untuk menyalahkan siapa pun, namun untuk menyadari suatu siklus sebelum terulang lagi. Jika lagu ini membiarkan pendengarnya untuk menyimak bagian yang terdengar sunyi, maka lagu ini telah berhasil bagiku," tuturnya.

Perjalanan introspeksi Shye ini akan bermuara pada album The Doves Came Home, yang dijadwalkan rilis pada 8 Mei 2026. 

Album tersebut merupakan hasil eksplorasi kreatif selama dua tahun terakhir, yang akan membawa pendengar menyelami dunia Shye melalui perpaduan genre dream-pop dan soft-rock yang atmosferik sekaligus menyembuhkan. (Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya