Headline
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
Kumpulan Berita DPR RI
BINTANG indie-pop asal Singapura, Shye, menutup tahun ini dengan merilis single yang bernuansa dreamy, Signs.
Lagu yang dirilis di tengah musim liburan ini menjadi ajakan refleksi mendalam, merangkum perasaan campur aduk seperti kehilangan, rindu, dan harapan di penghujung tahun.
Berbeda dari karya Shye sebelumnya, Signs menampilkan nuansa indie-rock yang lebih kuat, dihiasi permainan gitar yang khas dan lapisan vokal yang halus.
Lagu ini mengeksplorasi tema universal tentang bagaimana menghadapi duka dan mencari koneksi setelah kehilangan, baik itu setelah kematian seseorang yang dicintai maupun berakhirnya sebuah hubungan.
Dalam keterangannya, Shye menjelaskan makna inti dari karyanya ini. "Lagu ini adalah pengingat tentang singkatnya hidup dan bahwa kematian adalah sesuatu yang pasti terjadi, jadi kita harus menghargai orang-orang di kehidupan kita selama kita masih dapat melakukannya."
"Lagu ini pengingat untuk kita belajar move on dan mencari rasa damai kita, meski kita sedang berkabung," lanjutnya.
Ia menambahkan bahwa inti dari lagu ini adalah kerinduan, kepasrahan, dan harapan bahwa semua kenangan indah dan cinta yang pernah dialami dapat menjadi penuntun untuk melangkah maju.
Signs tidak hanya menjadi penanda akhir tahun bagi Shye, tetapi juga titik balik penting dalam identitas bermusiknya. Shye menyebut lagu ini sebagai penanda babak baru, tempat ia mulai mengenali arah musikalnya, serta makna untuk membawa elemen nostalgia dan kelahiran kembali secara bersamaan.
"Lagu ini menjadi lagu terakhir di tahun ini dan pas sekali menurutku. Lagu ini menjadi penanda babak baru, lagu yang menjadi caraku untuk mengenali diriku, ke mana arah musikku, dan makna untuk membawa elemen nostalgia dan kelahiran kembali di saat yang bersamaan,"
Selama setahun terakhir, Shye aktif bereksperimen dengan berbagai genre, salah satunya dengan menelusuri kembali sisi keturunan Inggrisnya yang belum pernah ia jelajahi saat tumbuh di Singapura. Eksplorasi ini membawanya menyelami dunia dream-pop ala 90-an, Britpop, dan neo-psychedelia.
Signs secara spesifik mengambil inspirasi dari ruang suara band-band legendaris seperti The Stone Roses dan Suede, serta lagu-lagu tematik tentang kerinduan dari The Verve dan Oasis.
Hasilnya adalah komposisi yang memadukan distorsi hangat, vokal yang dreamy, dan ritme konsisten, dengan nuansa yang mentah dan intim.
Melalui single ini, Shye berharap dapat menawarkan sebuah karya musik yang personal dan eksperimental, berakar pada penemuan diri dan eksplorasi kreatif. Ia ingin para pendengarnya dapat merasa dipahami dalam pengalaman mereka tentang kehilangan atau pencarian makna, dan menjadikan Signs sebagai teman dalam proses pemulihan.
"Jika Signs dapat membantu orang lain untuk pulih sambil memungkinkan aku bertumbuh ke arah baru ini, maka lagu tersebut telah melakukan apa yang seharusnya dilakukan," tutupnya.
Signs sudah dapat didengarkan di berbagai platform streaming musik. (Z-1)
Nisa Farella mengungkapkan bahwa lirik dalam single Legowo adalah representasi dari proses belajar berdamai dengan perasaan.
Tur ini dirancang secara masif dengan target lebih dari 160 kota di seluruh Indonesia, menjadikannya salah satu perhelatan musik terbesar yang pernah digelar di tanah air.
Kelima ikon musik itu adalah Michael Jackson, Freddy Mercury, Whitney Houston, John Lennon, dan Elvis Presley.
Melalui dinamika melodi yang ekspresif, Atarayo berhasil memotret momen ketika jarak antara dua hati perlahan terkikis dalam intensitas yang tenang namun hangat.
Nasida Ria dianggap merepresentasikan lintas generasi yang selaras dengan semangat teknologi yang inklusif dan tidak terbatas usia.
Rumah dan Baju Barumu dari Batas Senja menggambarkan momen subtil namun mendalam ketika keterbatasan ekonomi menjadi ujian bagi sepasang kekasih.
Nisa Farella mengungkapkan bahwa lirik dalam single Legowo adalah representasi dari proses belajar berdamai dengan perasaan.
Melalui dinamika melodi yang ekspresif, Atarayo berhasil memotret momen ketika jarak antara dua hati perlahan terkikis dalam intensitas yang tenang namun hangat.
Rumah dan Baju Barumu dari Batas Senja menggambarkan momen subtil namun mendalam ketika keterbatasan ekonomi menjadi ujian bagi sepasang kekasih.
Melalui liriknya, Wali menggunakan metafora dua peristiwa besar dalam sejarah Islam, Perang Badar dan Perang Uhud, untuk menggambarkan dinamika kehidupan masyarakat modern.
Berbeda dengan lagu religi pada umumnya yang kerap identik dengan perayaan momentum tertentu, Menuju Cahaya dari Marcell Siahaan justru menitikberatkan pada proses personal yang mendalam.
Sebagai pembuka dari edisi deluxe ini, Laufey telah merilis single terbaru berjudul How I Get.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved