Headline

Prabowo kembali gelar rapat terbatas bahas dampak perang di wilayah Timur Tengah.

Lucien Sunmoon Rilis Nothing Blooms at Midnight, Album Perdana yang Menandai Kedewasaan

Basuki Eka Purnama
11/3/2026 16:24
Lucien Sunmoon Rilis Nothing Blooms at Midnight, Album Perdana yang Menandai Kedewasaan
Lucien Sunmoon(MI/HO)

GRUP pop alternatif asal Malang, Lucien Sunmoon, resmi menandai babak baru perjalanan musikal mereka dengan merilis album penuh pertama bertajuk Nothing Blooms at Midnight. Album yang diluncurkan pada 14 Februari 2026 ini menjadi sebuah manifesto pendewasaan diri bagi keenam personelnya setelah menempuh proses kreatif selama satu tahun penuh.

Berisi 10 trek, album ini merangkum berbagai polemik yang dihadapi para personel di tengah transisi usia remaja menuju dewasa. 

Tema-tema seperti percintaan, pengorbanan, kisah yang tak terucap, hingga emosi terpendam menjadi benang merah yang mengikat keseluruhan materi di dalamnya. 

Selain dua single yang telah dilepas sebelumnya, Slice of Life dan Flustered, album ini memperkenalkan delapan lagu baru, termasuk Arc of Quiet Bloom, 11:12, Jealousy, hingga versi akustik dari Memoria.

Kebebasan Kreatif dan Eksplorasi Diri

Proses penggarapan Nothing Blooms at Midnight terbilang unik karena adanya pergeseran peran di balik layar. 

Danang Seloaji, selaku produser, memilih untuk mengurangi keterlibatannya dalam penulisan lagu demi memberikan ruang bagi setiap personel untuk mengeksplorasi identitas musik mereka sendiri.

"Aku bebasin ke kalian pengen bikin lagu yang kayak gimana terserah, ini lagu kalian, ntar aku cuman bantu di perekaman doang," ujar Danang saat memberikan kebebasan kreatif kepada band tersebut.

Hasilnya, album ini lahir sebagai representasi kejujuran diri tanpa adanya urgensi untuk mengejar standar tertentu. 

Meski para personel menyadari adanya struktur dan karakter yang mungkin tidak seragam karena kebebasan tersebut, mereka memandangnya sebagai bagian alami dari proses panjang yang harus dijalani.

Perjalanan Panjang di Tengah Kesibukan

Produksi album ini dimulai sejak awal 2025. Proses perekaman dilakukan secara bertahap di Haum Studio di bawah arahan operator Dheka Satria dan Axel Kevin, sebelum akhirnya dituntaskan di RA2 Studio bersama Rio Armand yang juga menangani proses mixing dan mastering.

Perjuangan merampungkan album ini tidaklah mudah. Keenam personel, Naya (vokal), Nael (gitar), Yessy (gitar), Mundir (bass), Nasywa (keyboard), dan Lyra (drum), harus berjibaku membagi waktu antara jadwal rekaman dengan tuntutan kehidupan perkuliahan, keluarga, hingga urusan asmara.

Rencana Rilisan Fisik dan Visual

Pascaperilisan digital di berbagai platform musik (DSP), Lucien Sunmoon bersama tim Batas Frekuensi tengah menyiapkan rangkaian proyek visual dan fisik. 

Rilisan fisik berupa kaset pita akan segera hadir melalui Haum Entertainment, yang nantinya dibundel dengan buku Nothing Blooms at Midnight: a Visual Guide karya Sukma Kelana. 

Selain itu, empat video musik baru dijadwalkan akan dirilis secara bertahap mulai akhir Maret 2026 mendatang. (Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya