Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Inspirasi Masa Kecil Sim F dalam Film Surat Untuk Masa Mudaku: Sebuah Memoar Fiksi tentang Persahabatan Panti Asuhan

Basuki Eka Purnama
30/1/2026 12:09
Inspirasi Masa Kecil Sim F dalam Film Surat Untuk Masa Mudaku: Sebuah Memoar Fiksi tentang Persahabatan Panti Asuhan
Poster film Surat untuk Masa Mudaku(imdb)

SUTRADARA kenamaan Sim F kembali menyapa pencinta film melalui karya terbarunya bertajuk Surat Untuk Masa Mudaku. Film yang diproduksi Buddy-Buddy Pictures ini menyimpan sisi personal yang mendalam, karena idenya berangkat dari memori masa kecil sang sutradara saat menetap di sebuah panti asuhan.

Produser film, Wilza Lubis, menjelaskan bahwa proyek ini bermula secara organik setelah Sim F berbagi kenangan masa kecilnya melalui fitur story di media sosial. 

Cerita tersebut kemudian dipresentasikan kepada Netflix dan mendapatkan sambutan hangat karena dinilai memiliki rasa yang relevan bagi banyak orang.

"Sim itu memang kecilnya hidup di panti asuhan, tapi film ini bukan biopik (biopic) beliau, tapi terinspirasi dari cerita itu," ujar Wilza, dikutip Jumat (30/1). 

Naskah film ini kemudian dikembangkan lebih lanjut oleh penulis Daud Sumolang menjadi sebuah karya fiksi yang emosional.

Fokus Cerita dan Persahabatan

Surat Untuk Masa Mudaku menyoroti perjalanan hidup karakter bernama Kefas, yang diperankan oleh Millo Taslim pada masa muda dan Fendy Chow saat beranjak dewasa. 

Alur cerita berpusat di Panti Asuhan Pelita Kasih, tempat Kefas dan sahabat-sahabatnya tumbuh bersama dalam ikatan persaudaraan yang erat. 

Melalui narasi ini, film diharapkan mampu memantik motivasi bagi penonton yang memiliki latar belakang atau pengalaman serupa.

Tantangan Syuting dan Bakat Aktor Muda

Proses pengambilan gambar berlangsung selama 28 hari di wilayah Jawa Barat. Untuk menghidupkan suasana, tim produksi menyulap sebuah lokasi menjadi set panti asuhan yang autentik. 

Sim F mengungkapkan rasa kagumnya terhadap jajaran aktor muda yang terlibat, seperti Millo Taslim, Cleo Haura, Halim Latuconsina, hingga Jordan Omar.

"Menariknya mereka tuh berbakat (talented), jadi maksudnya tidak terlalu sulit untuk saya mengajak mengobrol dan mengajak pendekatan," ungkap Sim F. 

Meski beberapa di antaranya merupakan pendatang baru di dunia seni peran, Sim F mengaku proses penyutradaraan tetap berjalan seru. 

"Seru, meski mereka hampir sebagian belum pernah main film lah. Ada Halim (Latuconsina), kalau Cleo (Haura) udah beberapa, Millo (Taslim) juga (sudah), gitu ya. Ada keseruannya sendiri," ungkapnya.

Standar Kerja dan Persiapan Teknis

Mengingat banyaknya aktor cilik yang terlibat, Buddy-Buddy Pictures menerapkan standar kerja yang ketat sesuai regulasi Netflix untuk melindungi hak anak-anak. 

Sim F memastikan adanya keseimbangan antara waktu bekerja dan belajar. 

"Kalau dengan anak-anak, kami punya jam kerja sendiri, memang dari aturannya Netflix sendiri ada jam kerja buat anak-anak, ada guru (teacher) on set," tegasnya.

Selain akting, para pemain juga diwajibkan menjalani latihan vokal khusus. Hal ini dilakukan untuk mendukung adegan paduan suara yang menjadi elemen penting dalam napas cerita film tersebut. 

Selain deretan aktor muda, film ini juga diperkuat oleh aktor senior seperti Agus Wibowo dan Verdi Solaiman. (Ant/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya