Headline
Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.
Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.
Kumpulan Berita DPR RI
FILM persembahan rumah produksi Come and See Pictures dari sutradara Joko Anwar dan produser Tia Hasibuan, Siksa Kubur, akan menghangatkan keluarga Indonesia di bioskop mulai 11 April 2024 dalam suasana lebaran bersama keluarga.
"Dengan tayangnya film Siksa Kubur di momen lebaran, semoga bisa memberikan bahan renungan bagi kita semua. Dan film ini sebenarnya ditujukan untuk memantik diskusi," kata Joko Anwar di pemutaran perdana filmnya bersama awak media di Jakarta, Rabu (3/4).
Jokan, sapaan Joko Anwar, mengatakan film Siksa Kubur mengajak penonton untuk menyetel ulang pemahaman skeptis mengenai konsekuensi dari suatu perbuatan dosa.
Baca juga : Gunakan Efek Praktis, Joko Anwar Buat Film Siksa Kubur Jadi Nyata
"Mari tanyakan kepada diri masing-masing, apakah benar kita beragama dan percaya dengan Tuhan jika masih menormalisasi dosa? Siksa Kubur berupaya untuk mengingatkan kembali," tambah Jokan.
Baca juga : Reza Rahadian Kembali Bintangi Film Horor Setelah 16 Tahun
Lewat konsep penceritaan yang tidak menggurui, Siksa Kubur menawarkan nilai universalitas yang bisa dinikmati oleh semua kalangan.
Harapannya, setelah menonton film itu terjadi diskusi antara orang-orang yang biasa enak diajak mengobrol sehari-hari.
Sementara itu, aktor Reza Rahadian yang berperan sebagai Adil, salah satu tokoh dalam film ini mengatakan dia belum bisa banyak berkomentar karena belum menonton.
Baca juga : Joko Anwar Klaim Film Siksa Kubur Ajak Penonton Pertanyakan Keimanan Diri Sendiri
Namun, menurut Reza, film itu berbicara mengenai kehilangan anggota keluarga yang sangat berarti. Jadi ketika ditonton bersama keluarga saat lebaran, semoga bisa menjadi momen reflektif bukan saja secara orang per orang, tapi bersama.
"Jadi ini menjadi refleksi bersama untuk keluarga, seperti apa yang sudah kita perbuat untuk orang tua, saudara, dan apa saja yang sudah kita lakukan selama ini," kata Reza.
Adil, seorang kakak dari anak perempuan yang bernama Sita. Berdua mereka coba bertahan hidup setelah kedua orang tuanya menjadi korban bom bunuh diri.
Baca juga : Joko Anwar Siapkan Film Siksa Kubur untuk Tayang Tahun Depan
Sejak itu, Sita menjadi obsesif terhadap pencarian bukti kebenaran agama. Salah satu yang ia lakukan untuk membuktikan itu adalah merekam kejadian Siksa Kubur dalam kuburan orang yang paling berdosa dan ketika orang itu meninggal, dia ikut masuk ke dalam kuburan orang tersebut.
Namun, tentu ada konsekuensi mengerikan bagi mereka yang tidak percaya dengan Siksa Kubur.
Film Siksa Kubur akan menghadirkan akting Faradina Mufti sebagai Sita. Ditambah jajaran aktor dan aktris ternama seperti Slamet Rahardjo (berperan sebagai Wahyu Sutama), Christine Hakim (Lani), Arswendy Bening Swara (Pandi), Jajang C Noer (Ningsih), Putri Ayudya (Umayah), Djenar Maesa Ayu (Inayah), Widuri Putri (Sita kecil) dan Muzakki Ramdhan (Adil kecil). (Ant/Z-1)
Joko Anwar memaparkan bahwa film Ghost in the Cell bukan sekadar sajian horor biasa, melainkan sebuah eksplorasi karakter yang sangat mendalam.
Suzzanna dalam film Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa bukan sekadar tokoh hantu, melainkan representasi perlawanan terhadap ketidakadilan yang dialami wanita.
Joko Anwar menjelaskan bahwa pemilihan latar penjara di film Ghost in the Cell bukan sekadar untuk membangun suasana seram, melainkan sebagai metafora kondisi masyarakat.
Produser dan sutradara kompak menyebut telah menyiapkan universe untuk Pelangi di Mars, baik itu berupa sekuel, prekuel ataupun spin-off.
Surat Untuk Masa Mudaku menyoroti perjalanan hidup karakter bernama Kefas, yang diperankan oleh Millo Taslim pada masa muda dan Fendy Chow saat beranjak dewasa.
Gina S Noer memaparkan bahwa film Esok Tanpa Ibu bukan sekadar cerita tentang teknologi, melainkan sebuah eksplorasi mengenai relasi kompleks antara AI, sosok ibu, dan lingkungan hidup.
Joko Anwar memaparkan bahwa film Ghost in the Cell bukan sekadar sajian horor biasa, melainkan sebuah eksplorasi karakter yang sangat mendalam.
Joko Anwar menjelaskan bahwa pemilihan latar penjara di film Ghost in the Cell bukan sekadar untuk membangun suasana seram, melainkan sebagai metafora kondisi masyarakat.
Selama Berlinale, yang berlangsung dari 13 hingga 22 Februari 2026, film Ghost In The Cell dijadwalkan naik layar sebanyak empat kali.
FILM karya Joko Anwar, Ghost in the Cell mendapat sambutan yang meriah saat penayangan perdana (world premiere) di Berlin International Film Festival (Berlinale) 2026.
Aming diperkenalkan sebagai pemeran karakter bernama Tokek, seorang narapidana dengan latar belakang yang kompleks.
Berlatar di sebuah penjara di Indonesia yang dikuasai kekerasan dan ketidakadilan, Ghost in the Cell bukan sekadar film genre yang menawarkan ketegangan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved