Headline

Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.

Esok Tanpa Ibu: Refleksi Gina S Noer tentang AI, Perempuan, dan Alam

Basuki Eka Purnama
21/1/2026 13:14
Esok Tanpa Ibu: Refleksi Gina S Noer tentang AI, Perempuan, dan Alam
Gina S Noer(Instagram @ginasnoer)

PENULIS naskah kenamaan Gina S Noer kembali membawa narasi mendalam lewat film terbarunya, Esok Tanpa Ibu

Dalam sebuah konferensi pers di Jakarta, Senin (9/1) lalu, Gina memaparkan bahwa film ini bukan sekadar cerita tentang teknologi, melainkan sebuah eksplorasi mengenai relasi kompleks antara kecerdasan buatan (artificial intelligence), sosok ibu, dan lingkungan hidup.

"Ketika kita bicara soal ibu, AI (artificial intelligence*, dan lingkungan, ada benang merah antara ibu sebagai manusia, ibu pertiwi, dan ibu bumi," ujar Gina.

Dilema Moral di Tengah Duka

Film ini menyoroti kisah seorang remaja berusia 16 tahun yang dunianya runtuh setelah sang ibu dinyatakan koma. 

Untuk membasuh rasa sedih yang mendalam, ia beralih ke teknologi AI ciptaan temannya. Teknologi ini dirancang sedemikian rupa agar mampu meniru suara, wajah, hingga kepribadian ibunya secara presisi.

Namun, kehadiran "ibu digital" ini justru memicu badai baru. Muncul dilema moral yang mempertanyakan hakikat kehadiran seorang ibu, sekaligus menguji kerenggangan hubungan antara ayah dan anak. 

Melalui premis ini, Gina ingin mengajak penonton melihat bagaimana teknologi bisa menjadi pedang bermata dua dalam mengelola duka manusia.

Kaitan Perempuan dan Ibu Bumi

Lebih jauh, Gina melihat adanya korelasi erat antara cara manusia memperlakukan alam dengan cara mereka memperlakukan sesamanya, khususnya perempuan. 

Baginya, penghormatan terhadap alam dan perempuan adalah dua hal yang saling memengaruhi dan tidak dapat dipisahkan.

"Semakin kita menghargai ibu bumi, maka kita akan semakin menghargai perempuan. Sejarah menunjukkan, ketika perempuan dihargai, dunia bisa menjadi lebih baik," jelasnya.

Di tengah laju perkembangan teknologi yang kian pesat, Gina mengingatkan bahwa kecanggihan algoritma tetap harus berpijak pada nilai-nilai kemanusiaan dasar. Kemajuan tersebut tidak boleh membuat kita melupakan asal-usul sebagai makhluk yang bergantung pada alam.

"Kita boleh percaya pada kecepatan teknologi, tetapi kita juga harus ingat bahwa akar kemanusiaan kita berasal dari ibu bumi," tegas Gina.

Simbol Harapan

Sebagai penutup narasinya, Gina menyelipkan simbolisme kuat dalam film ini melalui adegan kuncup bunga yang tumbuh di atas tanah gersang. Visual ini bukan sekadar pemanis, melainkan sebuah representasi harapan yang tetap bisa muncul di tengah keputusasaan.

"Maknanya sederhana. Kehidupan selalu mencari jalan. Di tengah kekeringan dan kehilangan, harapan tetap bisa tumbuh," pungkasnya.

Melalui Esok Tanpa Ibu, Gina S. Noer tampaknya ingin menyampaikan pesan bahwa meski teknologi mampu meniru fisik dan suara, esensi kehidupan dan pemulihan duka yang sejati tetap bersumber dari koneksi kita terhadap kemanusiaan dan alam semesta. (Ant/Z-1)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya