Headline

Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.

Kolaborasi Lintas Negara, Film Esok Tanpa Ibu Siap Hadirkan Drama Berbalut Fiksi Ilmiah

Basuki Eka Purnama
20/1/2026 16:18
Kolaborasi Lintas Negara, Film Esok Tanpa Ibu Siap Hadirkan Drama Berbalut Fiksi Ilmiah
Cuplikan adegan film Esok Tanpa Ibu(imdb)

INDUSTRi film Indonesia kembali menghadirkan terobosan melalui kolaborasi internasional bertajuk Esok Tanpa Ibu. Proyek garapan BASE Entertainment dan Beacon Film ini menjadi sorotan karena menggabungkan genre drama keluarga dengan pendekatan fiksi ilmiah (sci-fi), sebuah kombinasi yang jarang dieksplorasi secara mendalam di pasar sinema lokal.

Produser Shanty Harmayn mengungkapkan bahwa film ini merupakan proyek ambisius yang telah dikembangkan sejak 2020. Kolaborasi ini melibatkan sinergi lintas negara antara Indonesia, Singapura, dan Malaysia. 

Selain kemitraan dengan Refinery Media dari Singapura, posisi sutradara dipercayakan kepada sineas asal Malaysia, Ho Wi-ding.

“Film ini sejak awal kami rancang sebagai kerja bersama. Dari pengembangan naskah sampai produksi, banyak pihak dan negara yang terlibat,” ujar Shanty dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (19/1).

Proses kreatif Esok Tanpa Ibu dimulai melalui program Wahana Kreator. Waktu pengembangan yang cukup panjang diperlukan untuk menggarap tema keluarga dan teknologi yang dinilai kompleks, sehingga membutuhkan pendalaman materi yang matang sebelum masuk ke tahap produksi.

Emosi Sebagai Bahasa Universal

Meski melibatkan kru dan pemain dari latar belakang negara yang berbeda, kendala bahasa ternyata bukan menjadi hambatan besar bagi sang sutradara. 

Ho Wi-ding menjelaskan bahwa dirinya lebih mengutamakan kejujuran perasaan yang terpancar dari para aktor di depan kamera.

“Bagi saya, ketika emosi itu benar, bahasa tidak lagi menjadi masalah. Film adalah medium universal,” kata Ho Wi-ding.

Ia menekankan bahwa fondasi utama dari keberhasilan film ini terletak pada proses pemilihan pemain (casting) yang tepat. Menurutnya, dengan aktor yang kompeten, ia dapat memberikan ruang bagi mereka untuk mengeksplorasi adegan secara organik.

“Jika Anda menemukan pemeran yang tepat, Anda tinggal mempercayai mereka. Biarkan mereka merasakan adegannya dan menjalankan dialognya sendiri,” tambahnya.

Pendekatan ini dirasakan langsung oleh Ringgo Agus Rahman yang memerankan karakter Bapak. 

Ringgo menyebutkan bahwa pola kerja sang sutradara membuat proses syuting terasa lebih jujur secara emosional. TIDak jarang, mereka harus melakukan pengambilan gambar ulang demi mencapai rasa yang diinginkan, meski dialog sudah diucapkan dengan benar.

“Kalau emosinya belum dapat, ya diulang,” ungkap Ringgo singkat.

Detail Teknis di Balik Layar

Dian Sastrowardoyo, yang dalam proyek ini memegang peran ganda sebagai pemeran tokoh Laras sekaligus produser, menjelaskan tantangan teknis dalam menjembatani komunikasi di lapangan. Untuk menjaga sinkronisasi, tim menyiapkan naskah dalam dua versi.

Kru dan pemain menggunakan naskah berbahasa Indonesia, sementara sutradara memegang versi bahasa Inggris. Dian menekankan pentingnya akurasi dalam penerjemahan naskah tersebut agar tidak ada pesan yang meleset.

“Terjemahannya harus benar-benar plek-ketiplek,” ujar Dian menegaskan ketelitian tim dalam menjaga integritas cerita.

Film Esok Tanpa Ibu dijadwalkan menyapa penonton di bioskop-bioskop Indonesia mulai Kamis (22/1). 

Kehadiran film ini diharapkan mampu memberikan warna baru bagi industri perfilman tanah air melalui pendekatan teknologi dan emosi keluarga yang menyentuh. (Ant/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya