Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
KABAR segar datang dari industri perfilman tanah air. Penulis skenario Gina S Noer, bersama Diva Apresya dan Melarissa Sjarief, memperkenalkan proyek film terbaru bertajuk Esok Tanpa Ibu (Mothernet). Film ini membawa pendekatan unik dengan menggabungkan elemen fiksi ilmiah (sci-fi) dengan kedalaman emosi manusia dalam menghadapi kehilangan.
Dalam konferensi pers peluncuran poster dan cuplikan perdana di Senayan, Jakarta, Gina menjelaskan bahwa naskah film ini mengeksplorasi konsep anticipatory grief yang ia sebut sebagai bentuk duka yang sempurna.
"Ini adalah duka yang jarang dibahas, yaitu perasaan berduka karena kita tahu sesuatu akan terjadi, misalnya orang terdekat sakit atau orang tua semakin menua," ujar Gina.
Berbeda dengan film fiksi ilmiah pada umumnya yang sering kali menggambarkan masa depan dengan nuansa suram atau bleak,
Esok Tanpa Ibu justru memilih jalan optimisme. Sudut pandang ini lahir dari kegelisahan Rendy Aditya, seorang pengolah limbah asal Bandung, yang merasa fiksi ilmiah jarang memberi ruang bagi mereka yang mencintai dunia dan ingin mengabdikan inovasi teknologi demi lingkungan yang lebih baik.
Optimisme tersebut direpresentasikan melalui karakter Laras. Ia digambarkan sebagai sosok yang gigih menumbuhkan harapan dan bunga-bunga di tengah kondisi alam yang mulai rusak demi masa depan generasi mendatang.
Diva Apresya menambahkan bahwa film ini diharapkan mampu memantik diskusi publik mengenai aksi nyata bagi bumi. Ia menganalogikan duka yang dialami saat pandemi tahun 2020 sebagai pelajaran berharga.
"Pesannya adalah harapan akan selalu ada, selama manusia mau mengakui duka itu ada dan semua berusaha untuk saling bergandengan tangan," ungkap Diva.
Sisi teknologi dalam film ini diperkuat melalui kehadiran karakter kecerdasan artifisial (AI) bernama i-BU yang diperankan oleh Dian Sastrowardoyo.
Menariknya, Dian juga memerankan karakter Laras dalam film yang sama. Ia menjelaskan bahwa sosok i-BU akan ditampilkan dalam berbagai tingkatan kecanggihan.
"Nanti, yang akan teman-teman tonton di bioskop pada 22 Januari 2026 adalah [AI] yang lebih canggih lagi. Itu udah lebih seram, kan kita belum pernah berkenaan dengan yang udah segitu, yang lebih menyerupai manusia. Belum," kata Dian.
Melalui peran i-BU, Dian berharap para orangtua dapat memetik pesan moral tentang pentingnya kualitas komunikasi dengan anak.
Menurutnya, orangtua harus terus memperbarui diri agar tetap relevan dengan dinamika hidup anak-anak mereka, mengingat keterbatasan waktu yang dimiliki manusia di dunia.
Film Esok Tanpa Ibu dijadwalkan akan menyapa penonton di bioskop mulai 22 Januari 2026 mendatang. (Ant/Z-1)
Selain kemitraan dengan Refinery Media dari Singapura, posisi sutradara film Esok Tanpa Ibudipercayakan kepada sineas asal Malaysia, Ho Wi-ding.
Meski berhasil memecahkan rekor untuk produksi Hollywood, Zootopia 2 harus mengakui keunggulan film animasi asal Tiongkok, Ne Zha 2.
Bagi Adinia Wirasti, bioskop bukan sekadar tempat menonton, melainkan ruang refleksi bagi manusia.
Dalam trailer film Monster Pabrik Rambut (Sleep No More), aktor Iqbaal Ramadhan tampil sangat berbeda dari yang ditampilkan di berbagai film yang ia bintangi sebelumnya.
Teaser Lastri: Arawah Kembang Desa menjadi pembuka yang kuat sekaligus emosional, karena menampilkan sosok almarhum Gary Iskak sebagai Turenggo, serta Hana Saraswati sebagai Lastri.
Berlatar di sebuah penjara di Indonesia yang dikuasai kekerasan dan ketidakadilan, Ghost in the Cell bukan sekadar film genre yang menawarkan ketegangan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved