Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
AKTOR seni peran Chicco Kurniawan mengatakan dirinya sangat menyukai karya-karya penulis Eka Kurniawan, salah satunya adalah novel Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas (2014) yang kemudian diangkat ke layar lebar di bawah arahan sutradara Edwin dari Palari Films pada 2021 silam.
"Page pertama Seperti Dendam sudah ngomongin cowok yang itunya tidur, dan hal itu sudah menarik sekali, sih. Gue sangat suka tulisan Eka Kurniawan, itu fiksi yang main bending mindset, bahkan keluar dari akal gue sendiri. Tapi malah jadi masuk, sih," ungkap Chicco, dikutip Kamis (3/8).
Sementara dari luar negeri, aktor peraih Piala Citra 2021 untuk Pemeran Utama Pria Terbaik dalam film Penyalin Cahaya menyebutkan penulis Paulo Coelho adalah salah satu sosok sastrawan favoritnya.
Baca juga : Gara-Gara Film 13 Bom di Jakarta, Chicco Kurniawan Jadi Menekuni Dunia Investasi
Chicco tidak dapat melupakan karya ke-16 sang penulis asal Brasil itu bertajuk Adultery yang ia lahap sekitar lima atau enam tahun lalu.
"Itu buku yang sangat gue suka. Gue baca random banget, dikasih tahu teman karena pada dasarnya gue nggak suka baca buku fiksi. Pas tiba-tiba baca itu, menarik sekali. Inti di buku itu adalah kehidupan seorang manusia dari perspektif perempuan yang sangat damai, namun di kondisi kedamaian itu malah bingung antara damai atau bosan," terangnya.
Novel Adultery, kata Chicco, membahas tentang perselingkuhan yang membuat moral dirinya menjadi kebingungan kala memaknai esensi dari seluruh cerita.
Baca juga : Ini Cara Chicco Kurniawan Bangun Kearaban dengan Ardhito Pramono untuk Film 13 Bom di Jakarta
Karya sastrawan Coelho tersebut juga dianggap turut mengubah cara berpikir sang aktor berkaitan dengan sudut pandang mengenai baik dan buruk kehidupan.
"Saat baca buku itu, gue berpikir, Oh ini selingkuh, tapi kok kayak wajar, ya? karena kondisi yang digambarkan di situ sangat damai. Tapi jadi nggak ada apa-apa dalam kehidupan, nggak ada letupan apapun yang karakter itu rasakan. Itulah yang membuat gue takjub dengan buku itu, betapa hal yang damai-damai saja malah jadi aneh dan membingungkan," selorohnya sambil tertawa.
Aktor kelahiran 16 Mei 1994 tersebut juga menjelaskan dirinya membaca Adultery tanpa jeda sejak konflik kedua hingga akhir cerita.
Baca juga : 13 Bom di Jakarta Rilis Poster Personel Tim ICTA
Selain itu, Chicco yang didapuk sebagai salah satu Duta Festival Film Indonesia 2023 itu juga menikmati membaca buku-buku tentang self-help dan motivasi karena sejak kecil dirinya terbiasa memandang kehidupan dari kutipan-kutipan yang ia temukan dari media sosial Tumblr.
"Gue tumbuh dari situ, jadi gue suka buku-buku penyair Rupi Kaur. Intinya, nggak tahu kenapa, gue bukan tipikal orang yang bisa mengartikulasikan banyak hal di dalam pikiran dan perasaan. Makanya, baca buku-buku semacam itu mewakili apa yang gue rasakan," paparnya.
Ia menilai terdapat perbedaan rasa ketika membaca sebuah buku dan menekuni lakon dalam film. Saat membaca buku, ia merasakan imajinasi diri yang kerap tersentil untuk selalu merasakan sesuatu tanpa harus melihat secara visual.
Baca juga : Rio Dewanto Perankan Teroris yang Mengerikan di Film 13 Bom di Jakarta
Meski demikian, Chicco mengaku bahwa ia selalu berusaha untuk membaca buku kala ia benar-benar menginginkannya dan tidak karena terpaksa, bahkan di sela-sela proses syuting.
"Karena sudah diniatkan, jadi pada saat ingin membaca maka proses menerima konteks bacaan itu pun jadi lebih gampang. Analogi-nya seperti gue sedang (maaf) mulas, ya sudah keluarkan saja. Sama seperti baca buku, ketika ingin dan butuh sekali membaca, pasti gue akan berusaha membaca di sela syuting atau waktu santai. Jadi ya sebisa mungkin walau jujur gue malas membaca, namun berusaha untuk menyempatkan," tutupnya. (Ant/Z-1)
Baca juga : Barbra Streisand Mengaku Masih Sakit Hati dengan Komentar Soal Penampilannya
Dalam trailer film Monster Pabrik Rambut (Sleep No More), aktor Iqbaal Ramadhan tampil sangat berbeda dari yang ditampilkan di berbagai film yang ia bintangi sebelumnya.
Teaser Lastri: Arawah Kembang Desa menjadi pembuka yang kuat sekaligus emosional, karena menampilkan sosok almarhum Gary Iskak sebagai Turenggo, serta Hana Saraswati sebagai Lastri.
Berlatar di sebuah penjara di Indonesia yang dikuasai kekerasan dan ketidakadilan, Ghost in the Cell bukan sekadar film genre yang menawarkan ketegangan.
Kehadiran hantu-hantu senior tersebut di film Sebelum Dijemput Nenek berfungsi untuk melengkapi teror yang ditebar oleh antagonis utama, Mbah Marsiyem.
Lebih dari 90 persen anggota Netflix di Indonesia menonton konten Indonesia pada 2025, dan 35 tayangan Indonesia berhasil masuk dalam daftar Top 10 Global Netflix.
The Bluff membawa penonton ke Kepulauan Cayman, sebuah wilayah yang kaya akan nilai sejarah dan budaya. Di sinilah kisah Ercell "Bloody Mary" Bodden dimulai.
Buku berjudul Mika & Maka: Berani ke Dokter karya kolaborasi Karen Nijsen dan Maria Ardelia menghadirkan kisah yang disampaikan secara hangat dan mudah dipahami agar anak takut ke dokter
Buku Tumpeng Indonesia: Dari Dapur Tradisional Menuju Meja Bangsa disusun untuk memberikan perspektif luas mengenai tumpeng sebagai bagian dari kebudayaan.
Dalam memoarnya, Aurelie Maoeremans menceritakan bahwa pertemuannya dengan sosok "Bobby" terjadi saat ia masih berusia 15 tahun di sebuah lokasi syuting iklan.
Sekjen BPP Hipmi Anggawira menghadirkan dua buku yang membahas seputar arah kebijakan ekonomi Indonesia dalam menghadapi dinamika global.
Data BPS dalam Survei Sosial Ekonomi pada Maret 2024, sekitar 22,5 juta orang atau 8,23% penduduk Indonesia menyandang disabilitas.
Kementan juga mendiseminasi naskah kebijakan berjudul “Regenerasi Petani untuk Percepatan Pencapaian Swasembada Pangan Berkelanjutan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved