Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
NEGARA tidak hanya mengelola penanganan bencana, tetapi juga mengelola kata-kata tentang bencana. Dari sanalah publik diajak memahami banjir bandang sebagai musibah alam, bukan kegagalan kebijakan.
Banjir bandang yang berulang melanda sejumlah wilayah di Sumatra hingga kini belum ditetapkan sebagai bencana nasional. Keputusan ini kerap dibingkai sebagai hasil pertimbangan teknis dan administratif. Namun, dalam perspektif komunikasi politik, keputusan tersebut sekaligus merupakan tindakan simbolik karena negara sedang menentukan bagaimana peritsiwa ini harus dimaknai oleh publik.
Penetapan status bencana nasional bukan semata urusan prosedural. Ia membawa konsekuensi politik, mulai dari pengakuan atas skala krisis, perluasan tanggung jawab negara, mobilisasi sumber daya yang lebih besar, hingga membuka akses bagi mata internasional untuk turut menyorot banjir bandang Sumatra. Karena itu, keputusan untuk tidak menetapkannya juga menyampaikan pesan tertentu.
Bahasa yang digunakan negara seperti pada penekanan 'bencana alam' 'pemerintah daerah masih mampu menangani' secara halus mengarahkan publik untuk melihat banjir sebagai kejadian yang masih dapat ditangani secara lokal, bukan sebagai krisis nasional yang menuntut evaluasi struktural.
Dalam konteks komunikasi politik, narasi semacam ini bekerja melalui mekanisme framing. Banjir diposisikan sebagai peristiwa alamiah, sementara diskusi mengenai tata ruang, alih fungsi lahan, lemah dan lambatnya mitigasi, hingga kegagalan perencanaan jangka panjang menjadi kurang menonjol.
Publik akhirnya lebih diarahkan pada empati sesaat dan solidaritas simbolik, bukan pada tuntutan kebijakan yang lebih mendasar.
Bahkan jika publik sudah melek kebijakan dan menuntut tanggung jawab, negara sering kali menutup akses komunikasi dua arah antar mereka dan mengabaikan segala bantuan yang ditawarkan oleh rakyat.
Arah wacana ini penting dicermati. Ketika negara memilih bahasa serta kata-kata yang 'menenangkan', kehati-hatian tersebut berpotensi berubah menjadi normalisasi terhadap bencana yang tidak murni disebabkan oleh fenomena alam.
Banjir bandang tidak lagi dipahami sebagai sinyal peringatan atas kerusakan sistemik, melainkan sebagai peristiwa berulang yang 'sudah seharusnya' terjadi. Di titik inilah bahasa tidak lagi netral, melainkan politis, ia membentuk batas diskusi publik tentang apa yang layak dipersoalkan dan apa yang dianggap wajar.
Komunikasi politik dalam situasi bencana seharusnya tidak berhenti pada pengelolaan citra dan stabilitas narasi. Negara dituntut menghadirkan bahasa yang jujur, empatik, sekaligus bertanggung jawab. Bahasa yang tidak hanya meredam kegelisahan publik, tetapi juga membuka ruang evaluasi kebijakan.
BAYANGKAN sebuah tsunami menghantam pulau tak berpenghuni di salah satu gugus kepulauan Indonesia, menyapu bersih pohon dan berbagai habitat.
BANYAK pelajaran yang dapat diambil dari bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda 52 kabupaten/kota di Provinsi Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.
PEMERINTAH belum lama ini mencabut aneka izin perkebunan sawit, pemanfaatan hutan, dan pertambangan di beberapa titik di Sumatra.
Dia menjelaskan, tinggi helibox sekitar 73 sentimeter, sementara muatan logistik di dalamnya berada di kisaran 30 sentimeter.
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menyampaikan, dari hasil pendalaman sementara terdapat sejumlah kasus yang sudah dan masih diproses.
Sudah waktunya semua pihak berhenti bersembunyi di balik kata 'hiburan'. Combat sport adalah olahraga. Ada tanggung jawab moral di dalamnya.
Dengan lirik yang gelap, agresif, dan penuh makna metafora, .Feast tidak hanya mengungkapkan kemarahan, tetapi juga memberi peringatan moral.
Keterlibatan mahasiswa melalui pendekatan kolaboratif menjadi semakin penting di tengah berbagai tantangan pembangunan dan kesenjangan sosial.
Mencegah radikalisme dan intoleransi berarti menghidupkan kembali nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.
Masa depan persepsi politik publik sangat bergantung pada literasi media dan kesadaran kritis masyarakat.
Menyampaikan kritik dengan bahasa yang santun bukan berarti takut atau tidak berani, melainkan menunjukkan kematangan dalam berpikir dan berkomunikasi.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved