Headline

Gibran duga alih fungsi lahan picu tanah longsor di Cisarua.

Penculikan Maduro : Kekuasaan vs Demokrasi

Luthfan Hirzi, mahasiswa Ilmu Komunikasi, Universitas Pancasila
26/1/2026 16:37
Penculikan Maduro : Kekuasaan vs Demokrasi
Luthfan Hirzi(DOK PRIBADI)

ISU penculikan presiden mengguncang politik global. Bukan hanya soal keselamatan pemimpin, melainkan juga kedaulatan dan demokrasi suatu negara.

Venezuela jadi contoh nyata. Presiden Nicolás Maduro sering mengeklaim ada upaya menculik dirinya. Operation Gideon 2020 jadi kasus paling mencolok.

Sekelompok bersenjata coba masuk Venezuela untuk menculik Maduro. Pemerintah sebut itu intervensi asing. Oposisi anggap aksi amatir yang dilebih-lebihkan demi legitimasi rezim.​

Venezuela punya sejarah konflik panjang. Era Hugo Chávez, kudeta 2002 singkat menggulingkan dia. Trauma itu membayangi pemerintahan Maduro.

Ancaman ke kepala negara jadi alasan mengetatkan keamanan. Oposisi dibungkam. Kritik di-framing sebagai pengkhianatan.​

Maduro menghadapi krisis berlapis. Ekonomi ambruk. Inflasi ekstrem. Polarisasi politik tajam. Tekanan internasional kuat.

Situasi menciptakan dua ekstrem. Oposisi frustrasi cari jalan pintas. Pemerintah defensif dan represif.

Kita harus kritis. Upaya penculikan tolak total. Itu melanggar demokrasi dan hukum internasional. Menculik pemimpin bukan solusi krisis. Tapi jangan telan narasi penguasa mentah-mentah.

Ancaman sering jadi alat menguasai kekuasaan. Selanjutnya, kebebasan sipil dibatasi. Oposisi dilabeli sebagai musuh negara.​

Intervensi asing tambah rumit. Negara besar bicara demokrasi dan HAM, tapi melakukan manuver geopolitik. Venezuela jadi arena tarik-menarik ideologi, ekonomi, dan kekuasaan.​

Bagi mahasiswa, isu ini lebih dari berita. Ini cermin sistem politik rapuh. Legitimasi kekuasaan dipertanyakan. Pemilu diprotes. Oposisi dilemahkan. Ekonomi morat-marit. Ancaman ke pemimpin—nyata atau rekayasa—jadi dinamika biasa.​

Solusi tak datang dari menculik, kudeta, atau tekanan luar. Dialog inklusif kuncinya. Pulihkan kepercayaan publik. Komitmen demokrasi sejati.

Tanpa itu, isu penculikan terus muncul. Bukan kejadian langka, tapi gejala sistem sakit.​ Penculikan Maduro mengajak untuk melakukan refleksi global.

Demokrasi tak dipaksa lewat kekerasan. Kekuasaan tak dipertahankan dengan memunculkan ketakutan. Di antara ekstrem, masa depan bangsa terperangkap.

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya