Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
DALAM politik modern, kebijakan tidak hanya dinilai dari substansinya, tetapi juga dari cara ia dikomunikasikan. Pesan yang tidak konsisten, berubah-ubah, atau disampaikan tanpa koordinasi dapat mengaburkan maksud kebijakan dan menurunkan kepercayaan publik. Pengalaman Indonesia dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa problem komunikasi kerap menjadi sumber utama kebingungan masyarakat, bahkan ketika tujuan kebijakan itu sendiri relatif jelas.
Ambiguitas pesan pemerintah bukan isu sepele. Dalam komunikasi politik, disiplin pesan (message discipline) menjadi prasyarat agar negara berbicara dengan satu suara, terutama dalam situasi krisis.
Ambiguitas pesan juga muncul dalam kebijakan ekonomi. Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), misalnya, sering diawali dengan bantahan, disusul pernyataan kemungkinan, sebelum akhirnya diumumkan secara resmi. Pola komunikasi semacam ini berulang dari tahun ke tahun.
Hal serupa terjadi pada kebijakan larangan ekspor minyak sawit mentah (CPO) pada 2022. Kebijakan diumumkan sebagai solusi lonjakan harga minyak goreng, tetapi disertai pesan yang tidak konsisten terkait durasi, cakupan, dan mekanisme pelaksanaannya.
Pelaku usaha dan masyarakat sama-sama kebingungan, spekulasi pun berkembang di ruang publik. Dalam konteks ini, problem bukan semata pada kebijakan, melainkan pada narasi yang tidak dikelola secara disiplin.
Salah satu tantangan besar komunikasi pemerintah adalah kaburnya batas antara wacana, rencana, dan keputusan. Pernyataan pejabat sering ditangkap publik sebagai kebijakan resmi, meskipun belum diputuskan secara formal.
Media sosial mempercepat masalah ini. Pernyataan informal pejabat dapat dengan cepat menjadi rujukan publik, bahkan memicu reaksi pasar dan opini politik. Ketika klarifikasi datang belakangan, kepercayaan publik sudah terlanjur terkikis.Dalam teori komunikasi politik, kondisi ini menunjukkan lemahnya koordinasi pesan dan absennya pusat komunikasi kebijakan yang kuat.
Inkonsistensi pesan tidak hanya menciptakan kebingungan, tetapi juga berdampak pada legitimasi kebijakan. Publik cenderung meragukan niat dan kapasitas pemerintah ketika pesan terus berubah. Dalam jangka panjang, ini dapat melahirkan sikap skeptis, bahkan resistensi, terhadap kebijakan negara.
Kepercayaan publik bukan dibangun dari kesempurnaan kebijakan, melainkan dari kejelasan dan kejujuran komunikasi.
Pemerintah perlu menempatkan komunikasi kebijakan sebagai bagian integral dari proses pengambilan keputusan. Koordinasi antarpejabat, kejelasan juru bicara, serta pemisahan tegas antara wacana dan keputusan resmi menjadi kunci.
Dalam demokrasi, perbedaan pandangan wajar terjadi. Namun ketika negara berbicara kepada publik, pesan harus jelas, konsisten, dan dapat dipertanggungjawabkan. Tanpa itu, kebijakan yang baik sekalipun berisiko gagal hanya karena pesan yang keliru.
Ia menilai upaya pembenahan internal harus terus dilakukan agar kepercayaan publik tetap terjaga dan semakin menguat.
Ajang penghargaan bagi para pelaku usaha itu menjadi momentum penting untuk menegaskan komitmen Jakarta sebagai kota yang terbuka, ramah investasi, dan transparan.
Survei Indikator Politik Indonesia menunjukkan, dari kelompok yang mengetahui program tersebut, mayoritas atau 51,8% menyatakan puas/sangat puas.
Tingginya kepercayaan terhadap Kejaksaan Agung ini sebagai refleksi dari keberanian lembaga tersebut dalam menangani kasus-kasus korupsi skala besar.
Kompolnas memandang sinergi Polri dan masyarakat, khusus dengan komunitas keagamaan, merupakan elemen penting dalam memperkuat keamanan bersifat partisipatif, bukan memaksa.
Sudah waktunya semua pihak berhenti bersembunyi di balik kata 'hiburan'. Combat sport adalah olahraga. Ada tanggung jawab moral di dalamnya.
Dengan lirik yang gelap, agresif, dan penuh makna metafora, .Feast tidak hanya mengungkapkan kemarahan, tetapi juga memberi peringatan moral.
Keterlibatan mahasiswa melalui pendekatan kolaboratif menjadi semakin penting di tengah berbagai tantangan pembangunan dan kesenjangan sosial.
Mencegah radikalisme dan intoleransi berarti menghidupkan kembali nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.
Masa depan persepsi politik publik sangat bergantung pada literasi media dan kesadaran kritis masyarakat.
Menyampaikan kritik dengan bahasa yang santun bukan berarti takut atau tidak berani, melainkan menunjukkan kematangan dalam berpikir dan berkomunikasi.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved