Headline
Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.
Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.
Kumpulan Berita DPR RI
DALAM politik modern, kebijakan tidak hanya dinilai dari substansinya, tetapi juga dari cara ia dikomunikasikan. Pesan yang tidak konsisten, berubah-ubah, atau disampaikan tanpa koordinasi dapat mengaburkan maksud kebijakan dan menurunkan kepercayaan publik. Pengalaman Indonesia dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa problem komunikasi kerap menjadi sumber utama kebingungan masyarakat, bahkan ketika tujuan kebijakan itu sendiri relatif jelas.
Ambiguitas pesan pemerintah bukan isu sepele. Dalam komunikasi politik, disiplin pesan (message discipline) menjadi prasyarat agar negara berbicara dengan satu suara, terutama dalam situasi krisis.
Ambiguitas pesan juga muncul dalam kebijakan ekonomi. Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), misalnya, sering diawali dengan bantahan, disusul pernyataan kemungkinan, sebelum akhirnya diumumkan secara resmi. Pola komunikasi semacam ini berulang dari tahun ke tahun.
Hal serupa terjadi pada kebijakan larangan ekspor minyak sawit mentah (CPO) pada 2022. Kebijakan diumumkan sebagai solusi lonjakan harga minyak goreng, tetapi disertai pesan yang tidak konsisten terkait durasi, cakupan, dan mekanisme pelaksanaannya.
Pelaku usaha dan masyarakat sama-sama kebingungan, spekulasi pun berkembang di ruang publik. Dalam konteks ini, problem bukan semata pada kebijakan, melainkan pada narasi yang tidak dikelola secara disiplin.
Salah satu tantangan besar komunikasi pemerintah adalah kaburnya batas antara wacana, rencana, dan keputusan. Pernyataan pejabat sering ditangkap publik sebagai kebijakan resmi, meskipun belum diputuskan secara formal.
Media sosial mempercepat masalah ini. Pernyataan informal pejabat dapat dengan cepat menjadi rujukan publik, bahkan memicu reaksi pasar dan opini politik. Ketika klarifikasi datang belakangan, kepercayaan publik sudah terlanjur terkikis.Dalam teori komunikasi politik, kondisi ini menunjukkan lemahnya koordinasi pesan dan absennya pusat komunikasi kebijakan yang kuat.
Inkonsistensi pesan tidak hanya menciptakan kebingungan, tetapi juga berdampak pada legitimasi kebijakan. Publik cenderung meragukan niat dan kapasitas pemerintah ketika pesan terus berubah. Dalam jangka panjang, ini dapat melahirkan sikap skeptis, bahkan resistensi, terhadap kebijakan negara.
Kepercayaan publik bukan dibangun dari kesempurnaan kebijakan, melainkan dari kejelasan dan kejujuran komunikasi.
Pemerintah perlu menempatkan komunikasi kebijakan sebagai bagian integral dari proses pengambilan keputusan. Koordinasi antarpejabat, kejelasan juru bicara, serta pemisahan tegas antara wacana dan keputusan resmi menjadi kunci.
Dalam demokrasi, perbedaan pandangan wajar terjadi. Namun ketika negara berbicara kepada publik, pesan harus jelas, konsisten, dan dapat dipertanggungjawabkan. Tanpa itu, kebijakan yang baik sekalipun berisiko gagal hanya karena pesan yang keliru.
Berdasarkan temuan terbaru dari survei nasional Indikator Politik Indonesia periode 15-21 Januari 2026, tingkat kepercayaan publik terhadap Kejaksaan Agung menjadi yang tertinggi.
Peran humas atau public relations (PR) menjadi semakin vital di era digital, terutama dalam menjaga reputasi dan merawat kepercayaan publik.
Ia menilai upaya pembenahan internal harus terus dilakukan agar kepercayaan publik tetap terjaga dan semakin menguat.
Ajang penghargaan bagi para pelaku usaha itu menjadi momentum penting untuk menegaskan komitmen Jakarta sebagai kota yang terbuka, ramah investasi, dan transparan.
Survei Indikator Politik Indonesia menunjukkan, dari kelompok yang mengetahui program tersebut, mayoritas atau 51,8% menyatakan puas/sangat puas.
Jika pembungkaman terus dibiarkan, kita berisiko melahirkan generasi bungkam. Apatis, enggan terlibat, dan tumbuh di negara yang mengaku demokratis.
Yang kita butuhkan adalah Pancasila yang hidup dalam setiap klik, setiap unggahan, dan setiap interaksi digital kita.
Kolaborasi antara keluarga, sekolah, pemerintah, dan masyarakat menjadi kunci dalam melindungi generasi muda dari krisis kesehatan mental yang kian mengkhawatirkan.
Ancaman sering jadi alat menguasai kekuasaan. Selanjutnya, kebebasan sipil dibatasi. Oposisi dilabeli sebagai musuh negara.
Penataan ulang tata ruang, penegakan hukum terhadap perusak lingkungan, serta pelibatan masyarakat lokal dalam pengelolaan alam harus menjadi prioritas, bukan sekadar slogan.
Media sosial dapat menjadi alat yang efektif untuk membentuk pola pikir generasi muda ke arah yang positif jika digunakan dengan benar dan didukung oleh kesadaran kritis dan bimbingan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved