Headline

Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.

Kesehatan Mental Anak dan Remaja Tertekan di Tengah Tantangan Era Digital

Nyoman Hita Harsanti Ayuning Artha, mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Pancasila
27/1/2026 17:11
Kesehatan Mental Anak dan Remaja Tertekan di Tengah Tantangan Era Digital
Nyoman Hita Harsanti Ayuning Artha(DOK PRIBADI)

KONDISI kesehatan mental anak dan remaja di Indonesia kian menjadi perhatian serius seiring meningkatnya tekanan sosial, akademik, serta paparan teknologi digital yang tidak terbatas. Berbagai laporan menunjukkan bahwa generasi muda saat ini menghadapi tantangan psikologis yang lebih kompleks jika dibandingkan dengan generasi sebelumnya.

Psikolog anak dan remaja menilai perubahan pola hidup menjadi faktor utama meningkatnya gangguan kesehatan mental. Anak dan remaja kini hidup di tengah arus informasi yang cepat, tuntutan prestasi akademik yang tinggi, serta tekanan dari media sosial yang kerap membentuk standar tidak realistis tentang kesuksesan dan penampilan diri.

“Media sosial sering kali membuat anak dan remaja membandingkan diri mereka dengan orang lain. Hal ini dapat memicu rasa tidak percaya diri, kecemasan berlebihan, hingga depresi,” ujar seorang psikolog klinis di Jakarta.

Data dari berbagai lembaga kesehatan menunjukkan peningkatan kasus gangguan kecemasan, depresi, serta masalah perilaku pada anak dan remaja dalam beberapa tahun terakhir. Sayangnya, kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kesehatan mental masih relatif rendah. 

Banyak orang tua yang belum mampu mengenali tanda-tanda awal gangguan mental pada anak, seperti perubahan emosi drastis, penarikan diri dari lingkungan sosial, atau penurunan prestasi belajar.

Di lingkungan sekolah, tekanan akademik juga menjadi faktor pemicu. Sistem pendidikan yang menekankan capaian nilai dan peringkat sering kali mengabaikan kondisi psikologis peserta didik. Akibatnya, tidak sedikit remaja mengalami stres kronis yang berdampak pada kesehatan mental dan fisik mereka.

Pemerhati pendidikan menilai perlunya pendekatan yang lebih humanis dalam proses belajar-mengajar. Sekolah diharapkan tidak hanya fokus pada aspek kognitif, tetapi juga memberikan ruang aman bagi siswa untuk mengekspresikan perasaan dan masalah yang mereka hadapi.

Pemerintah melalui berbagai program mulai mendorong layanan konseling di sekolah serta kampanye kesadaran kesehatan mental. Namun, para ahli menilai upaya tersebut masih perlu diperluas dan disertai peran aktif keluarga. 

Orangtua diimbau untuk membangun komunikasi terbuka dengan anak, menciptakan lingkungan rumah yang aman secara emosional, serta membatasi penggunaan gawai secara bijak.

Kesehatan mental anak dan remaja dinilai sebagai investasi jangka panjang bagi masa depan bangsa. Tanpa perhatian serius, masalah mental yang tidak tertangani sejak dini berpotensi berdampak pada kualitas sumber daya manusia di masa mendatang. 

Oleh karena itu, kolaborasi antara keluarga, sekolah, pemerintah, dan masyarakat menjadi kunci dalam melindungi generasi muda dari krisis kesehatan mental yang kian mengkhawatirkan.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya