Headline

Pelaku usaha menagih penyederhanaan regulasi dan kepastian kebijakan dari pemerintah.

Firman Soebagyo Kecam Impor Garam Australia, Sebut Ancam Petani dan Kedaulatan Pangan

Ihfa Firdausya
17/2/2026 16:24
Firman Soebagyo Kecam Impor Garam Australia, Sebut Ancam Petani dan Kedaulatan Pangan
Petani garam.(Antara)

ANGGOTA Komisi IV DPR RI Firman Soebagyo mengecam ketergantungan Indonesia pada impor garam dari Australia. Menurutnya, hal itu menunjukkan lemahnya keberpihakan pada petani lokal.

Firman menegaskan, murahnya harga garam Australia bukan karena kualitas petani Indonesia lebih rendah. Namun negara gagal menghadirkan sistem produksi yang modern dan adil bagi petani.

“Australia bisa menjual garam lebih murah karena teknologi mereka jauh lebih maju, skala produksinya besar, dan infrastrukturnya kuat. Di Indonesia, petani dibiarkan berjuang sendiri dengan alat tradisional dan ketergantungan pada cuaca,” tegas Firman dalam keterangannya, Selasa (17/2).

Di Australia, katanya, produksi garam dilakukan dengan sistem industri berbasis penguapan air laut dalam kolam-kolam besar. Prosesnya menggunakan manajemen modern dan dukungan infrastruktur negara.

Air laut dipompa ke tambak raksasa, diuapkan oleh sinar matahari, lalu dikristalkan dan dipanen dengan efisiensi tinggi.

"Sementara itu, di Indonesia, mayoritas petani garam masih bergantung pada metode konvensional yang rentan hujan, tanpa teknologi pemurnian, tanpa gudang penyimpanan memadai, dan tanpa jaminan harga," ungkapnya.

Firman menyebut kondisi ini sebagai bentuk ketidakadilan struktural. Dalam hal ini, petani lokal disuruh bersaing dengan produk industri asing, tapi negara tidak memberikan senjata yang setara.

"Ini bukan soal kemampuan petani, ini soal keberpihakan negara,” ujar Politisi Fraksi Partai Golkar itu.

Ia juga menyoroti masalah kualitas garam lokal yang sering dijadikan alasan untuk membuka keran impor. Menurutnya, kualitas rendah bukan kesalahan petani, melainkan akibat tidak adanya investasi negara pada teknologi pascapanen dan standardisasi industri.

“Kalau pemerintah serius, kualitas bisa ditingkatkan. Yang tidak serius itu kebijakan. Lebih mudah impor daripada membangun industri garam nasional,” tuturnya.

Firman memperingatkan, ketergantungan pada garam impor bukan hanya mematikan ekonomi petani, tetapi juga mengancam kedaulatan pangan nasional.

“Kalau garam saja kita tergantung pada negara lain, ini bahaya. Garam itu kebutuhan strategis. Negara tidak boleh menyerah pada pasar dan membiarkan petani dikorbankan,” tegas Anggota Baleg DPR RI itu.

Komisi IV DPR, kata Firman, akan terus menekan pemerintah agar menghentikan kebijakan impor yang merugikan petani. Pemerintah juga diminta segera membangun ekosistem industri garam nasional yang modern, mandiri, dan berdaulat. (Ifa/P-3)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Cahya Mulyana
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik