Headline

Indonesia tangguhkan pembahasan soal Dewan Perdamaian.

Rocky Gerung Tantang Intelektual Uji Konsep Prabowonomics

Haufan Hasyim Salengke
07/3/2026 19:15
Rocky Gerung Tantang Intelektual Uji Konsep Prabowonomics
Rocky Gerung(Antara)

Pengamat politik Rocky Gerung menantang kalangan akademisi untuk melakukan pengujian metodologis terhadap gagasan ekonomi "Prabowonomics". Tantangan tersebut disampaikan Rocky dalam acara peluncuran buku Menggugat Republik karya Syahganda Nainggolan di Aula Barat Institut Teknologi Bandung (ITB), Kamis (5/3).

Rocky menilai, penggunaan istilah "Prabowonomics" telah memicu ruang diskusi akademik karena terminologi tersebut dianggap membawa metodologi dan ideologi tertentu dalam diskursus ekonomi politik.

"Begitu disebut Prabowonomics, orang berpikir ada metodologi di situ, ada ideologi di situ. Tugas intelektual adalah membongkar secara metodologi," ujar Rocky dalam acara yang diinisiasi oleh Great Institute tersebut.

Menurutnya, ketika sebuah konsep ekonomi telah dipersonifikasi menjadi sebuah nama genre, konsep tersebut secara otomatis masuk ke dalam ruang diskursus ilmiah yang wajib diuji keabsahannya secara akademik.

Tiga Pilar Ekonomi Konstitusi Dalam ceramahnya, Rocky juga menguraikan struktur ekonomi Indonesia yang menurutnya telah digariskan oleh konstitusi melalui tiga pilar utama, yaitu korporasi, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), dan koperasi.

Ia menjelaskan bahwa korporasi berperan dalam akumulasi ekonomi, BUMN sebagai penghimpun kekuatan kemandirian nasional, dan koperasi sebagai instrumen pembangunan solidaritas sosial. Rocky memaknai konsep ekonomi Presiden Prabowo Subianto sebagai upaya untuk memperkuat pilar solidaritas sosial tersebut.

Kritik terhadap Ekosistem Digital 

Selain menyoroti isu ekonomi, Rocky memberikan catatan kritis terhadap kondisi ruang publik saat ini. Ia menyayangkan dominasi buzzer, influencer, dan algoritma media sosial yang dinilai mulai menggerus esensi republik sebagai ruang penggunaan nalar publik (public use of reason).

"Republik dirancang supaya ada percakapan. Tetapi hari-hari ini komunikasi politik dikuasai buzzer, influencer, dan algoritma," tuturnya di hadapan para akademisi dan mahasiswa yang hadir.
Acara diskusi ini menjadi panggung bagi para intelektual untuk membedah gagasan politik dan ekonomi nasional yang tengah berkembang di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Andhika
Berita Lainnya