Headline
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Kumpulan Berita DPR RI
Menjelang bulan Ramadhan, harga daging sapi di pasar mengalami kenaikan. Lonjakan harga terjadi setelah para pedagang menghentikan aksi mogok dagang selama tiga hari pada akhir Januari lalu. Di saat bersamaan, harga daging kerbau yang seharusnya berfungsi sebagai penyeimbang harga justru melampaui Harga Acuan Pembelian (HAP) konsumen sebesar Rp80.000 per kilogram.
Pantauan di sejumlah pasar menunjukkan harga daging sapi kini berada di kisaran Rp140.000 per kilogram. Ahmad, pedagang di Pasar Cibubur, mengaku harga naik sejak aksi mogok berakhir.
“Sebelumnya masih bisa dijual Rp130.000 per kilogram, sekarang sudah Rp140.000,” ujar Ahmad.
Hal serupa disampaikan Jujun, pedagang di Pasar Cijantung. Ia mengatakan berbagai potongan daging seperti sengkel, knuckle, hingga paha belakang kini dijual dengan harga seragam, yakni Rp140.000 per kilogram. Menurutnya, tren kenaikan harga kemungkinan berlanjut hingga Ramadhan dan Idulfitri.
Berdasarkan data Panel Harga Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas), harga daging sapi saat ini sudah berada di batas atas HAP sesuai Peraturan Badan Pangan Nasional (Perbadan) Nomor 12 Tahun 2024, yakni Rp130.000 per kilogram untuk paha depan dan Rp140.000 per kilogram untuk paha belakang.
Kondisi yang lebih mengkhawatirkan justru terjadi pada harga daging kerbau. Komoditas yang diimpor pemerintah sebagai instrumen stabilisasi harga kini telah melampaui HAP. Padahal, daging kerbau impor dari India tersebut dikelola oleh dua BUMN, yakni PT Berdikari dan PT Perusahaan Perdagangan Indonesia, dengan kuota impor tahun 2026 sebesar 100.000 ton.
Data Panel Harga Bapanas per 11 Februari 2026 menunjukkan harga daging kerbau nasional telah masuk zona intervensi karena melebihi 20 persen dari HAP, dengan rata-rata mencapai Rp112.100 per kilogram. Di Pulau Jawa, harga bahkan menyentuh Rp120.000 per kilogram atau sekitar 50 persen di atas HAP.
Tingginya harga daging impor juga menjadi perhatian kalangan industri. Direktur Eksekutif Asosiasi Industri Pengolahan Daging Indonesia, Hastho Yulianto, menilai kebijakan kuota impor daging sapi tahun 2026 yang dipangkas menjadi 30.000 ton telah memicu perubahan struktural di pasar.
Menurutnya, pelaku industri swasta hanya mendapat alokasi sekitar 17.000 ton, sehingga berpotensi menimbulkan kekurangan bahan baku bagi industri pengolahan daging.
“Jika kebijakan ini tidak ditinjau kembali secara komprehensif, risiko penurunan kapasitas produksi hingga penghentian usaha akan semakin nyata,” ucap Hastho.
Ia juga menilai pembatasan kuota berpotensi menciptakan ketidaksesuaian spesifikasi daging impor dengan kebutuhan industri. Kondisi ini dapat menyebabkan kuota terlihat tersedia secara angka, namun tidak efektif digunakan oleh pelaku usaha.
Hastho menegaskan bahwa daging impor untuk industri seharusnya dipandang sebagai bahan baku, bukan konsumsi langsung. Karena itu, ia meminta pemerintah tidak membatasi pasokan untuk sektor pengolahan maupun industri hotel, restoran, dan katering (horeka).
"Kebijakan pembatasan kuota saat ini justru berpotensi bertentangan dengan upaya penguatan industri pangan nasional, karena berdampak langsung pada melonjaknya harga bahan baku," tandasnya. (Ant/E-3)
Perumda Dharma Jaya memprediksi harga daging sapi akan mengalami kenaikan sekitar 7% hingga 15% di periode Ramadan dan Lebaran 2026.
Daging ayam potong dari Rp37 ribu menjadi Rp40 ribu per kg, telur ayam ras menjadi Rp32 ribu per kg, bawang merah Rp45 ribu per kg, cabai merah menjadi Rp70 ribu per kg.
Berdasarkan pemantauan, harga cabai rawit merah tertinggi tercatat Rp90 ribu per kilogram, dan pada pemantauan terakhir berada di kisaran Rp80 ribu per kilogram.
Harga daging sapi terpantau Rp140.000 per kilogram, daging kambing Rp160.000, ayam ras Rp42.000, ayam kampung Rp65.000. Serta minyak goreng berada di kisaran Rp15.700 per liter.
Harga cabai domba mencapai Rp80.000 per kilogram, naik dari sebelumnya Rp60.000. Begitu juga cabai tanjung dari Rp30.000 menjadi Rp 45.000.
Perumda Dharma Jaya memprediksi harga daging sapi akan mengalami kenaikan sekitar 7% hingga 15% di periode Ramadan dan Lebaran 2026.
AKSI mogok berjualan pedagang daging sapi di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, berlanjut hingga Senin (26/1).
PEMERINTAH menetapkan kuota impor daging sapi untuk swasta tahun ini hanya 30.000 ton, turun tajam dari 180.000 ton pada 2025.
PEDAGANG daging sapi di Kabupaten Cianjur melakukan aksi mogok berjualan.
Penaikan harga jelang Ramadan, disebut pedagang, merupakan hal yang lumrah karena beberapa komoditas lainnya pun mengalami hal serupa.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved