Headline

Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.

Dilema Rumah Makan Padang di Batam: Terhimpit Lonjakan Harga Daging pada Ramadan

Hendri Kremer
28/2/2026 10:06
Dilema Rumah Makan Padang di Batam: Terhimpit Lonjakan Harga Daging pada Ramadan
Salah satu Rumah Makan Padang di Batam(MI/Hendri Kremer)

MEMASUKI pekan ke-10 Ramadan, para pelaku usaha kuliner di Kota Batam, khususnya pemilik rumah makan Padang, mulai menjerit akibat lonjakan harga daging sapi. 

Kenaikan biaya produksi yang drastis ini memaksa mereka memutar otak demi menjaga kelangsungan bisnis di tengah daya beli masyarakat yang rentan.

Berdasarkan data Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Batam, harga daging sapi beku kini rata-rata berada di atas Rp110.000 per kilogram, melonjak signifikan dari harga normal yang berkisar Rp80.000 hingga Rp90.000 per kilogram. 

Sementara itu, harga daging sapi segar di sejumlah pasar tradisional bahkan telah menyentuh angka Rp150.000 per kilogram.

Kondisi ini menjadi pukulan telak bagi rumah makan Padang yang sangat bergantung pada pasokan daging sapi untuk menu unggulan seperti rendang dan gulai. 

Luki, 29, pemilik Restoran Aden Suko di kawasan Batam Centre, mengaku terpaksa memangkas volume pembelian bahan baku akibat kenaikan harga tersebut.

“Pelanggan seperti penjual rumah makan Padang tetap beli, tapi jumlahnya berkurang. Biasanya ambil lima kilogram, sekarang cuma dua kilogram,” ujar Luki, Sabtu (28/2).

Penurunan volume pembelian ini tidak hanya menyulitkan pengusaha rumah makan, tetapi juga memukul omzet pedagang daging di pasar yang dilaporkan merosot hingga hampir 50% dibandingkan hari biasa.

Selain daging, tekanan ekonomi juga datang dari kenaikan harga komoditas pokok lainnya seperti beras, gula, dan ayam. Yudhi, 32, seorang pedagang makanan di Batam Centre, mengeluhkan margin keuntungan yang kian menipis. Ia mengaku dilematis untuk menaikkan harga jual karena khawatir akan kehilangan pelanggan.

“Harga bahan baku naik semua, tapi kalau harga makanan dinaikkan terlalu tinggi, pelanggan bisa kabur. Akhirnya kami cuma bisa kurangi margin,” keluh Yudhi. 

Ia pun menyayangkan minimnya pengawasan petugas di lapangan saat situasi pasar mulai tidak kondusif.

Untuk bertahan, para pengusaha kuliner umumnya menerapkan dua strategi utama: menyesuaikan porsi daging dalam setiap sajian atau menaikkan harga secara bertahap untuk menu berbahan dasar sapi. 

Beberapa di antaranya juga mulai menawarkan lebih banyak lauk alternatif seperti telur dan ayam agar harga tetap terjangkau oleh konsumen.

Di sisi lain, respons dari otoritas terkait cenderung normatif. Pihak Disperindag Batam menilai tren kenaikan harga menjelang hari besar keagamaan adalah fenomena tahunan yang masih dalam batas wajar.

"Sebenarnya kami tidak perlu ke lapangan, cukup bertanya pada pedagang. Yang paling penting tidak melebihi HET," ujar salah satu petugas Disperindag Batam saat dikonfirmasi.

Sikap dingin dari otoritas ini kontras dengan harapan para pelaku UMKM. Mereka sangat menantikan langkah konkret dari pemerintah untuk menstabilkan harga pangan agar roda ekonomi kecil tetap bisa berputar tanpa harus mengorbankan kualitas layanan kepada masyarakat. (Z-1)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya