Headline
Pelaku usaha menagih penyederhanaan regulasi dan kepastian kebijakan dari pemerintah.
Pelaku usaha menagih penyederhanaan regulasi dan kepastian kebijakan dari pemerintah.
Kumpulan Berita DPR RI
Kementerian Pertanian (Kementan) mempercepat pengembangan investasi peternakan sapi skala besar di Kalimantan Tengah dengan target populasi mencapai 200 ribu ekor dalam satu kawasan terintegrasi. Program ini disiapkan untuk memperkuat swasembada daging dan susu sekaligus membangun sentra peternakan modern berbasis kemitraan.
Kawasan yang diproyeksikan menjadi pusat pengembangan berada di Kabupaten Sukamara dengan luas sekitar 40.006 hektare. Populasi awal saat ini sekitar 1.000 ekor, namun pemerintah membidik pengembangan hingga 100 ribu sampai 200 ribu indukan produktif melalui skema inti–plasma.
Model yang diterapkan berupa industri sapi terpadu (integrated cattle industry), yang menggabungkan sapi potong, sapi perah, serta fasilitas pengolahan daging dan susu dalam satu ekosistem. Konsep ini dipadukan dengan integrasi sapi-kelapa sawit melalui penggembalaan di area perkebunan guna meningkatkan efisiensi pakan sekaligus menghasilkan pupuk organik.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan Indonesia memiliki potensi besar untuk mengembangkan industri peternakan modern karena didukung sumber daya alam yang melimpah.
“Indonesia ini negeri agraris. Tanahnya luas, rumput tumbuh, sumber daya ada. Yang penting bagaimana kita kelola dengan baik dan kita buat nyaman para investor untuk bergerak cepat. Saya harap 100 ribu untuk pengembangan dan ditambah 100 ribu plasma, jadi 200 ribu,” ujarnya dikutip dari siaran pers yang diterima, Selasa (17/2).
Menurut Amran, percepatan realisasi investasi sangat ditentukan oleh kemudahan regulasi dan kepastian usaha. Ia menilai hambatan perizinan kerap menjadi faktor yang memperlambat ekspansi sektor peternakan.
“Indonesia adalah negeri agraris yang besar. Tanahnya subur, alamnya luas. Tapi kalau bisa dipersulit kenapa dipermudah, akhirnya kita lambat sendiri. Padahal pelihara sapi itu sederhana. Tanam rumput, sapi minum, hidup, selesai. Yang bikin ribet kadang izinnya,” katanya.
Ia menambahkan, kenyamanan investor menjadi kunci agar investasi dapat berkembang lebih besar dan berkelanjutan.
“Kalau investor itu nyaman, dia akan tanam lebih besar. Tapi kalau tidak nyaman, dua kali maju, dua kali mundur. Sepuluh tahun habis di izin. Ini yang harus kita benahi,” tegasnya.
Untuk memperluas dampak ekonomi, pemerintah menyiapkan pola kemitraan inti-plasma. Perusahaan besar akan berperan sebagai inti, sementara peternak rakyat menjadi plasma dengan dukungan pembiayaan melalui kredit usaha rakyat (KUR) dan perlindungan asuransi.
“Kalau dikelola bersama, inti kuat, plasma tumbuh, maka ekonomi bergerak. Negara hadir mendukung pembiayaan dan perlindungan. Pengusaha berkembang, masyarakat ikut sejahtera,” ucap Amran.
Bupati Sukamara, Masduki, menyatakan kesiapan daerahnya mendukung investasi tersebut. Ia menyebut pengembangan sentra sapi terpadu akan membuka peluang ekonomi baru sekaligus mengoptimalkan lahan yang belum produktif.
“Ini kebanggaan bagi Sukamara. Kami memiliki wilayah yang luas dan potensi besar. Dengan hadirnya sentra sapi terpadu, ekonomi daerah akan tumbuh dan masyarakat memperoleh manfaat langsung,” ujarnya.
Kementan berharap sinergi pemerintah pusat, daerah, dan dunia usaha dapat menjadikan proyek ini sebagai model nasional pengembangan industri sapi terpadu yang modern, inklusif, dan berdaya saing, sekaligus memperkuat fondasi ketahanan pangan Indonesia secara berkelanjutan. (E-3)
Penjabat Wali Kota Sorong, Bernhard Eduard Rondonuwu mengajak warga Kota Sorong untuk lebih aktif mengembangkan sektor peternakan sapi.
Wamen Pertanian, Sudaryono, menegaskan investasi besar di sektor peternakan sapi yang sedang berlangsung akan melibatkan peternak sapi lokal.
Badan Bank Tanah telah menyiapkan lahan seluas 2.900 hektar dari total 6.647 hektar di Poso, Sulawesi Tengah untuk pembangunan industri sapi perah dan industri pengolahan susu.
MENJELANG perayaan imlek dan bulan puasa Ramadan 2026, penjualan daging sapi di pasar kite, kota Sungailiat, Provinsi Bangka Belitung, alami lonjakan signifikan.
Pemprov DKI Jakarta memprediksi lonjakan kebutuhan pangan jelang Ramadan dan Idulfitri 2026, terutama telur ayam, daging, bawang merah, dan minyak goreng.
Pelaku usaha pemotongan daging sapi di RPH Jatimulya Bekasi menegaskan komitmennya untuk menjaga harga tetap stabil menjelang Ramadan hingga Idul Fitri 2026.
Suplai daging sapi di dalam negeri saat ini masih didominasi dari sapi lokal. Sapi lokal disebut memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat Indonesia antara 40% hingga 70%.
Pemerintah tidak akan ragu menindak produsen maupun distributor yang menaikkan harga daging sapi melebihi ketentuan yang telah ditetapkan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved