Headline

Pemprov Jabar identifikasi warga yang betul-betul tak mampu.

PHE ONWJ Sigap Cegah Bahaya Laut

M Ilham Ramadhan Avisena
09/2/2026 19:53
PHE ONWJ Sigap Cegah Bahaya Laut
Ilustrasi(Antara)

PT Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (PHE ONWJ) menunjukkan respons cepat dalam menghadapi dua situasi darurat di perairan lepas pantai Jawa Barat dalam kurun sepekan. Kesigapan tersebut dinilai krusial untuk melindungi fasilitas migas strategis sekaligus memastikan keselamatan pelayaran di wilayah operasional perusahaan.

Peristiwa pertama terjadi pada Kamis malam (22/1), ketika tongkang Karunia Samudera 1 yang ditarik kapal Citeureup-1 mengalami mati mesin dan kehabisan bahan bakar. Akibat terbawa arus, tongkang tersebut memasuki zona terbatas dan mendekati Anjungan Lepas Pantai EH milik PHE ONWJ dengan jarak sekitar 80 meter. Anjungan tanpa awak tersebut tengah beroperasi dan memproduksi migas.

General Manager PHE ONWJ Muzwir Wiratama mengatakan, kondisi kerja di laut lepas menuntut kesiapsiagaan tinggi terhadap dinamika alam. Menurutnya, insiden tersebut membutuhkan pengambilan keputusan yang tenang dan terukur agar potensi risiko dapat diredam tanpa menimbulkan kerusakan.

"Bekerja di laut mengajarkan kami untuk selalu waspada terhadap perubahan kondisi sekecil apa pun. Malam itu, saat radar mendeteksi pergerakan tongkang yang mendekati area produksi karena terbawa arus, prioritas kami adalah memastikan koeksistensi yang aman antara fasilitas negara dan lalu lintas laut. Kami harus bertindak presisi agar kedua aset ini tetap utuh," ujar Wira dikutip pada Senin (9/2). 

Untuk mengamankan situasi, tim PHE ONWJ mengerahkan TB Sejahtera guna melakukan pendampingan dan pengarahan jalur. Langkah ini dilakukan agar tongkang dapat kembali ke lintasan aman, terutama di tengah cuaca laut yang berubah-ubah.

"Ini adalah bentuk tanggung jawab kami dalam menjaga amanah konstitusi dan visi kemandirian energi yang dicanangkan Pemerintah. Kami memastikan aktivitas hulu migas berjalan selaras dengan lingkungan sekitarnya. Jika terjadi insiden, dampaknya bukan hanya pada produksi, tapi juga ekosistem laut yang harus kita jaga bersama," tutur Wira.

Ujian kesiapsiagaan kembali muncul pada Jumat dini hari (30/1). Kapal Patroli Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai (KPLP) Jakarta, KM Celurit 203, mengalami mati mesin total di perairan antara Anjungan Bravo dan Anjungan Echo. Kapal tersebut membawa 15 personel dan membutuhkan bantuan segera karena kehilangan daya dorong.

TB Sejahtera dan MV Grosbeak yang berada di sekitar lokasi langsung memberikan asistensi. Wira menyebut langkah ini sebagai wujud sinergi antarlembaga negara dalam menjaga keamanan dan keselamatan di laut.

"Ketika kami menerima sinyal dari KM Celurit 203, kami melihatnya sebagai panggilan tugas untuk saling menopang. Mereka adalah mitra strategis kami dalam mengelola energi dari perut bumi. Sementara, mereka memastikan keamanan dan ketertiban di permukaan laut. Membantu adalah bagian dari etika kemanusiaan dan profesionalisme yang kami junjung tinggi," terang Wira.

Proses penarikan KM Celurit 203 menuju EZA Buoy hingga akhirnya sandar di Pelabuhan Patimban berlangsung lancar berkat koordinasi yang solid. Seluruh personel KPLP dipastikan dalam kondisi selamat.

"Syukur alhamdulillah, seluruh 15 personel KPLP dalam kondisi sehat dan selamat, serta kapal negara tersebut berhasil sandar dengan aman," kata Wira.

Dua kejadian tersebut menjadi catatan penting bagi PHE ONWJ dalam pengelolaan operasi migas lepas pantai. Menurut Wira, kemampuan beradaptasi dan merespons situasi darurat merupakan kompetensi utama yang harus dimiliki perusahaan energi modern.

"Kami terus berupaya menyelaraskan operasi kami dengan kondisi alam, memastikan keselamatan setiap jiwa di perairan ini, dan menjaga agar energi untuk negeri tetap mengalir tanpa henti," pungkasnya. (E-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Andhika
Berita Lainnya