Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Transaksi Tembus Rp61 T, OJK Yakin Free Float 15 Persen tak akan jadi Masalah

Insi Nantika Jelita
30/1/2026 16:40
Transaksi Tembus Rp61 T, OJK Yakin Free Float 15 Persen tak akan jadi Masalah
OJK yakin pemenuhan free float 15% bukan masalah mudah.(MI/Usman Iskandar)

OTORITAS Jasa Keuangan (OJK) menegaskan pasar modal Indonesia memiliki daya serap yang kuat untuk menampung rencana kenaikan porsi saham beredar di publik (free float) menjadi 15%, dari sebelumnya 7,5%. OJK meminta pelaku pasar tidak meremehkan kekuatan permintaan investor.

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK, Inarno Djajadi, menyatakan optimisme tersebut didasarkan pada kondisi riil pasar yang menunjukkan likuiditas tinggi dan minat investor yang solid.

“Jangan pernah kita underestimate bahwa demand itu ada,” ujar Inarno di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Jumat (30/1).

Menurutnya, aktivitas transaksi di BEI dalam beberapa hari terakhir menjadi indikator kuat. Nilai transaksi harian tercatat konsisten di kisaran Rp40 triliun, bahkan sempat melonjak hingga Rp61 triliun.

“Dari situ kami melihat potensi itu ada. Permintaan untuk menuju free float 15% itu ada,” tegasnya.

Inarno menambahkan, kebijakan peningkatan free float merupakan target strategis OJK yang tidak bergantung pada penilaian lembaga indeks global seperti Morgan Stanley Capital International (MSCI).

“Tanpa adanya ketentuan MSCI sekalipun, kita tetap akan melakukan free float,” ujarnya.

Pemerintah pun optimistis seluruh proses penyesuaian kebijakan tersebut dapat dirampungkan sebelum Mei. Di tengah dinamika pasar, OJK mengimbau investor tetap menjaga rasionalitas dalam mengambil keputusan investasi.

“Kami mengingatkan kepada seluruh investor agar tetap tenang dan rasional dalam mengambil setiap keputusan investasi,” kata Inarno.

Sebelumnya, dalam surat resmi kepada investor global, MSCI menyoroti persoalan fundamental pasar modal Indonesia, terutama terkait transparansi dan kelayakan investasi (investability). MSCI menilai rendahnya porsi saham yang beredar di publik membuat pasar kurang likuid dan rentan terhadap pembentukan harga yang tidak sepenuhnya transparan.

MSCI juga mencatat banyak emiten di Indonesia masih didominasi pemegang saham pengendali, sehingga pergerakan harga belum sepenuhnya mencerminkan mekanisme pasar yang sehat. Atas dasar itu, MSCI mendorong peningkatan free float minimum menjadi 15% guna memperbaiki transparansi, likuiditas, dan kredibilitas pasar modal Indonesia di mata investor global. (Z-10)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Gana Buana
Berita Lainnya