Headline

BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.

Ekonomi Indonesia 2025 Diklaim Tangguh, Jadi Modal Penting di 2026

Ihfa Firdausya
06/1/2026 09:45
Ekonomi Indonesia 2025 Diklaim Tangguh, Jadi Modal Penting di 2026
Ilustrasi(Medcom)

Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menyebut perekonomian Indonesia pada akhir 2025 menunjukkan ketahanan dalam menghadapi berbagai tekanan. Hal itu dinilai menjadi dasar yang kuat bagi kinerja ekonomi ke depan.

"Perekonomian Indonesia di penutup tahun 2025 tetap resilien, didukung aktivitas manufaktur yang ekspansif, inflasi yang terkendali, serta neraca perdagangan yang terus mencatatkan surplus. Faktor-faktor tersebut menjadi modal penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat di tahun 2026,” ujar Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal Kementerian Keuangan Febrio Kacaribu dalam keterangannya, Selasa (6/1).

Aktivitas manufaktur Indonesia menunjukkan kinerja positif di akhir 2025. PMI Manufaktur Desember 2025 tercatat sebesar 51,2 yang menjadikannya ekspansif selama lima bulan berturut-turut. Kinerja positif tersebut didukung kuatnya permintaan domestik, peningkatan ketenagakerjaan, serta aktivitas pembelian bahan baku. Febrio juga menyebut optimisme pelaku usaha juga menguat dan mencapai level tertinggi dalam tiga bulan terakhir. Hal itu mencerminkan keyakinan terhadap prospek sektor manufaktur ke depan.

Dari sisi global, aktivitas manufaktur negara mitra utama Indonesia secara umum juga berada di zona ekspansif seperti Amerika Serikat (51,8), Tiongkok (50,1), dan India (55,7). Di kawasan ASEAN, PMI manufaktur Thailand (57,4) dan Malaysia (50,1) juga menguat yang memberikan sinyal positif bagi permintaan ekspor Indonesia.

Pada November 2025, neraca perdagangan Indonesia mencatatkan surplus US$2,66 miliar, melanjutkan tren yang telah berlangsung sejak Mei 2020. Secara kumulatif Januari-November 2025, neraca perdagangan mencatat surplus sebesar US$38,54 miliar, naik US$9,30 miliar (ctc).

Kemudian Ekspor Januari-November 2025 tercatat sebesar US$256,56 miliar, meningkat 5,61 % (ctc). Peningkatan ekspor terutama disumbang oleh sektor industri pengolahan dengan kontribusi 10,41%, mencerminkan meningkatnya nilai tambah ekspor nasional.

Sementara itu, impor pada periode yang sama tercatat sebesar US$218,02 miliar, naik 2,03% (ctc). Penyumbang utama peningkatan impor adalah dari sisi impor Barang Modal dengan kontribusi 3,28%, sejalan dengan aktivitas produksi yang ekspansif.

"Ke depan, dorongan terhadap keberlanjutan hilirisasi sumber daya alam, peningkatan daya saing produk ekspor nasional, serta diversifikasi mitra dagang utama akan terus diperkuat untuk mengantisipasi berbagai dinamika global," katanya.

Harga Naik tapi Terkendali

Di sisi lain, stabilitas harga di tahun 2025 tetap terjaga tercermin dari tingkat inflasi yang terkendali sebesar 2,92% (yoy). Tingkat inflasi Desember 2025 dipengaruhi oleh naiknya harga beberapa komoditas pangan di tengah tetap menguatnya inflasi inti dan rendahnya inflasi administered price (AP).

Gangguan cuaca dan kendala distribusi mendorong naiknya inflasi volatile food hingga mencapai 6,21% (yoy), dipengaruhi oleh komoditas aneka cabai, beras, dan ikan segar. Inflasi AP tercatat sedikit meningkat menjadi 1,93% (yoy) yang didorong oleh kenaikan harga bensin nonsubsidi dan tarif transportasi di periode Nataru.

Sementara itu, inflasi inti tercatat stabil pada level 2,38% (yoy) karena naiknya harga emas perhiasan. "Sepanjang tahun 2025, inflasi tetap berada dalam rentang sasaran nasional yang didukung oleh kebijakan intervensi harga dan pasokan untuk menjaga keterjangkauan harga pangan," papar Febrio.

Ia melanjutkan, berbagai indikator ekonomi domestik juga menunjukkan perkembangan positif di akhir 2025. Hingga November, Indeks Keyakinan Konsumen menguat ke level 124, sementara Indeks Penjualan Riil tumbuh 5,94% (yoy) didorong peningkatan penjualan makanan dan minuman serta mobilitas masyarakat.

Penguatan aktivitas ekonomi juga tercermin dari meningkatnya penjualan listrik sektor bisnis sebesar 6,2% (yoy), dengan penjualan listrik rumah tangga dan industri yang tumbuh stabil.

“Pemerintah terus berupaya menjaga stabilitas serta memperkuat momentum pertumbuhan ekonomi. Kebijakan fiskal diarahkan mendukung program pembangunan nasional guna memastikan keberlanjutan pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan,” tutup Febrio. (E-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Andhika
Berita Lainnya