Headline
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Kumpulan Berita DPR RI
RISIKO geopolitik dan semakin ketatnya pasokan energi global semakin menjadi tantangan bagi ekonomi Indonesia. Prasasti Center for Policy Studies (Prasasti) menyoroti tekanan akibat harga minyak global saat ini yang jauh di atas asumsi yang ditetapkan dalam anggaran dasar negara (APBN).
Asumsi harga minyak dalam APBN 2026 sekitar US$70 per barel, sedangkan harga pasar saat ini berada di kisaran US$90-US$100 per barel. Dewan Pakar di Prasasti dan pakar energi Indonesia Arcandra Tahar mencatat di tengah kenaikan harga minyak dan pelemahan rupiah, pemerintah menghadapi dilema kebijakan yang semakin kompleks.
Menurutnya, jika harga bahan bakar domestik dipertahankan pada level saat ini, beban subsidi energi dapat meningkat secara signifikan dan memberi tekanan pada anggaran negara.
“Namun, jika harga bahan bakar disesuaikan dengan mekanisme pasar, dampaknya akan langsung terasa melalui kenaikan inflasi dan penurunan daya beli,” kata Arcandra dalam keterangan yang dikutip, Minggu (5/4).
Dewan Pakar di Prasasti dan mantan Wakil Gubernur Bank Indonesia Halim Alamsyah menambahkan, dalam skenario ketika harga minyak mencapai sekitar US$100 per barel dan rupiah terdepresiasi menjadi sekitar Rp17.000 per dolar AS, pihaknya memperkirakan defisit fiskal dapat melebar menjadi sekitar 3,3%–3,5% dari PDB. Angka itu melebihi ambang batas 3% yang secara konsisten dipertahankan pemerintah.
Berdasarkan data masa lalu, penyesuaian harga bahan bakar dapat berdampak signifikan terhadap inflasi. Analisis Prasasti menunjukkan penyesuaian tersebut dapat menambah inflasi sekitar 0,7 hingga 1,8 poin persentase, tergantung pada besarnya dan waktunya.
“Dalam skenario harga minyak tinggi yang berkepanjangan, pertumbuhan ekonomi Indonesia juga dapat melambat. Kami memperkirakan pertumbuhan dapat turun menjadi sekitar 4,7%–4,9%, di bawah rata-rata sekitar 5% dalam beberapa tahun terakhir,” tambah Halim.
Direktur Kebijakan dan Program di Prasasti Piter Abdullah memandang kebijakan pemerintah saat ini sebagai upaya untuk mempertahankan daya beli masyarakat dengan menahan kenaikan harga bahan bakar. Namun, keberlanjutan kebijakan ini bergantung pada perkembangan harga minyak global.
“Jika harga minyak terus naik hingga akhir tahun, akan semakin sulit untuk menjaga harga bahan bakar tetap stabil. Oleh karena itu, masyarakat dan pelaku bisnis perlu memahami bahwa penyesuaian harga energi dalam kondisi tertentu merupakan respons kebijakan yang wajar, selama disertai dengan kompensasi yang tepat sasaran,” ujarnya. (Z-2)
Peluncuran delapan butir transformasi budaya kerja nasional dinilai menjadi langkah awal pemerintah yang tepat dalam merespons tekanan global akibat konflik TImur Tengah.
Harga minyak dunia melonjak dan rupiah melemah menekan APBN 2026. Ekonom ingatkan disiplin fiskal penting untuk cegah defisit hingga 6% dan jaga stabilitas ekonomi.
Tak hanya di pusat, pemerintah daerah juga diimbau menyesuaikan kebijakan pengendalian mobilitas sesuai karakteristik wilayah masing-masing.
Ketegangan di Selat Hormuz dorong harga minyak dunia naik. Studi FEB UI menyebut BUMN Indonesia menghadapi tekanan besar, terutama di sektor energi dan transportasi.
Lonjakan harga minyak dunia dorong kenaikan BBM. Ekonom nilai langkah ini penting untuk jaga stabilitas APBN.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia memastikan pemerintah belum akan membatasi subsidi bahan bakar minyak atau BBM dan menjamin ketersediaan stok tetap aman di tengah gejolak harga minyak dunia
Program subsidi tersebut juga mencakup bahan bakar diesel dan minyak berat untuk membantu meredakan tekanan biaya bagi dunia usaha.
Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa menuding Pertamina malas-malasan membangun kilang minyak sehingga Indonesia terus bergantung pada impor BBM
Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa memastikan subsidi Pertalite, solar, hingga Elpiji 3 kg terus dievaluasi agar lebih tepat sasaran
Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa memaparkan rincian harga asli barang subsidi, mulai dari Pertalite, solar, LPG 3 kg, listrik, hingga pupuk.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved