Headline
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Kumpulan Berita DPR RI
KETUA DPD Gerakan Mahasiswa dan Pelajar Kebangsaan (GMPK) DKI Jakarta, Asip Irama, menilai keputusan pemerintah untuk tidak menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) sebagai langkah yang tepat dan terukur. Langkah ini dianggap krusial di tengah tren kenaikan harga minyak dunia yang fluktuatif.
Asip menjelaskan bahwa dalam beberapa waktu terakhir, harga minyak global menunjukkan kecenderungan meningkat, bahkan sempat menembus angka di atas 100 dolar AS per barel. Kondisi tersebut memaksa banyak negara melakukan penyesuaian harga BBM domestik guna meredam tekanan fiskal.
Menurut Asip, langkah Indonesia tergolong unik jika dibandingkan dengan respons negara-negara lain yang mayoritas memilih untuk menaikkan harga secara signifikan.
“Secara global, respons yang umum itu menaikkan harga. Bahkan ada yang naik signifikan, seperti Kamboja hampir 68 persen dan Vietnam sekitar 50 persen. Negara lain, termasuk Amerika Serikat dan Australia, juga melakukan penyesuaian dalam periode yang sama,” ujar Asip, Kamis (2/4).
Dalam konteks tersebut, ia memandang keputusan pemerintah Indonesia untuk tetap menjaga stabilitas harga sebagai langkah luar biasa di tengah tekanan global yang masif. Penegasan resmi dari Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad dan Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi dipandang sebagai bukti nyata gerak cepat pemerintah dalam menjaga daya beli masyarakat.
“Ini bukan keputusan tanpa konteks. Saat banyak negara menaikkan harga akibat tekanan global, pemerintah justru memilih menahan. Artinya beban itu tidak langsung dialihkan ke masyarakat,” jelasnya.
Menjaga Inflasi dan Daya Beli
Asip menilai kebijakan ini tidak sekadar bersifat populis, melainkan strategi jitu untuk meredam dampak eksternal agar tidak sepenuhnya membebani rakyat. Kebijakan menahan harga BBM dinilai berpengaruh langsung terhadap pengendalian inflasi nasional.
Sebab, setiap kenaikan harga BBM hampir pasti diikuti dengan lonjakan biaya transportasi dan distribusi yang berujung pada naiknya harga kebutuhan pokok di pasar.
Meski memberikan apresiasi, GMPK DKI tetap mengingatkan bahwa kebijakan ini membawa konsekuensi terhadap ruang fiskal negara. Transparansi dan akurasi perhitungan menjadi kunci agar kebijakan ini tetap berkelanjutan.
“Menahan harga tentu ada biayanya. Di sini pemerintah harus menjaga keseimbangan antara stabilitas jangka pendek dan keberlanjutan fiskal,” tegas Asip.
Di sisi lain, ia juga mengapresiasi kinerja Pertamina dalam memastikan distribusi dan ketersediaan stok BBM tetap aman di tengah dinamika pasar yang ada. Respon cepat pemerintah dalam meredam isu kenaikan harga juga dianggap penting untuk menjaga situasi sosial tetap kondusif. “Untuk saat ini, langkah pemerintah sudah di jalur yang tepat. Tantangannya menjaga konsistensi ke depan,” pungkasnya. (P-2)
INFLASI di DKI Jakarta selama periode Ramadan hingga Idulfitri 2026 tercatat tetap terkendali di tengah peningkatan permintaan musiman masyarakat.
Amalia menjelaskan bahwa inflasi tahunan tarif listrik pada Maret 2026 mencapai 26,99%.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi tahunan pada Maret 2026 sebesar 3,48%. Angka itu jauh lebih tinggi dibandingkan inflasi tahunan Maret 2025 yang hanya sebesar 1,03%.
EKONOM PT Bank Danamon Indonesia Tbk Hosianna Evalita Situmorang menyebut potensi penyesuaian harga bahan bakar non-subsidi dapat meningkatkan angka inflasi secara keseluruhan.
Anggota Komisi VIII DPR Selly Gantina desak Kemensos satukan proses verifikasi dan penyaluran bansos untuk cegah percaloan dan dana mengendap di bank.
Pemerintah mengklaim harga barang kebutuhan pokok selama Ramadan hingga Idulfitri 2026 lebih stabil dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi tahunan pada Maret 2026 sebesar 3,48%. Angka itu jauh lebih tinggi dibandingkan inflasi tahunan Maret 2025 yang hanya sebesar 1,03%.
keputusan pemerintah tidak menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) guna menjaga daya beli masyarakat di tengah tekanan ekonomi global saat ini.
Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan ekonomi Indonesia jauh dari krisis. Konsumsi meningkat saat Lebaran 2026 dan berbagai indikator menunjukkan tren pertumbuhan positif.
Peredaran uang tunai Lebaran 2026 tembus Rp1.370 triliun. Simak analisis NEXT Indonesia Center soal ledakan daya beli dan mobilitas pemudik di sini.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved